
Renata menyuruh Bima pulang setelah pria itu puas menangis di hadapannya. Berdekatan dengan Bima tidak aman buat hatinya yang saat ini sedang terluka.
Dalam hatinya yang paling dalam, Renata sungguh sangat tersentuh dengan semua ucapan maaf Bima. Namun, sudut hatinya yang lain, tetap merasakan sakit saat melihat laki-laki itu berada di hadapannya.
Tidak mudah untuk bisa memaafkanmu, Bim, kejadiannya bahkan terasa seperti baru kemarin.
Renata menepuk dadanya yang terasa sesak. Bayangan saat ibunya tersenyum melintas di kepalanya, membuat Renata meneteskan air mata.
"Maafkan aku, Bu. Seandainya saja aku mau menuruti ibu untuk menyerah dan melupakan wasiat terakhir nyonya besar, aku yakin, saat ini ibu pasti masih hidup. Maafkan aku, Bu." Renata berucap lirih. Netranya menatap ke arah jendela kamar yang terbuka.
Dari sana, Renata bisa melihat Bima yang saat ini masuk ke dalam mobil, kemudian melajukan mobil itu meninggalkan rumahnya.
Tidak mudah bagiku untuk melupakan semuanya, Tuan.
Renata kembali mengingat ucapan Bima sebelum meninggalkannya.
"Aku akan berjuang agar aku bisa mendapatkan maaf darimu, Ren. Aku tahu, itu tidak akan mudah, tapi aku mohon, beri aku kesempatan untuk merawatmu agar aku bisa menebus semua kesalahanku."
Renata menghembuskan napas panjang.
__ADS_1
Apa aku benar-benar bisa melawan rasa sakit ini saat aku terus melihatmu berada di dekatku?
Renata memejamkan matanya.
Membayangkan wajahmu saja hatiku berdenyut sakit, apalagi kalau kau benar-benar datang setiap hari untuk merawatku?
***
Pagi harinya, Bima benar-benar datang memenuhi janjinya. Rangga dan Damar tampak tidak peduli melihat kedatangan kakak iparnya itu.
Semalam, Renata sudah menjelaskan pada mereka berdua kalau Bima akan datang setiap hari ke rumahnya.
Bima menyunggingkan senyum saat perempuan yang masih jadi istrinya itu masih tertidur di dalam kamarnya.
Bima mendekat ke arah ranjang, baru saja Bima ingin mengusap kepala Renata, pintu kamar terbuka dengan pelan.
"Jangan mengganggunya, Mbak Renata baru saja tertidur setelah sholat subuh tadi." Wajah Rangga muncul dari balik pintu. Pria itu baru saja terbangun saat mendengar suara mobil Bima masuk ke halaman rumah.
Rangga kembali menutup pintu setelah melihat anggukan kepala Bima. Sementara Bima melanjutkan niatnya membelai rambut Renata. Perempuan itu terlihat sangat cantik meskipun sedang tertidur.
__ADS_1
Bima memperhatikan wajah cantik Renata. Wajah tampannya tersenyum, kemudian dengan hati-hati menggeser tubuh Renata ke sisi ranjang. Setelah itu, Bima naik ke atas ranjang, meraih tubuh perempuan itu ke dalam pelukannya.
Rasa nyaman menyelinap ke hati Bima. Wajahnya kembali tersenyum saat rasa gelisah yang sedari semalam ia rasakan musnah sudah saat Bima mendekap erat tubuh Renata.
*Aku tahu, sampai sekarang, kamu belum bisa memaafkan aku, Ren. Tapi aku akan terus berjuang untuk mendapatkan kata maafmu.
Aku akan melakukan apa pun agar aku bisa kembali mendapatkan cintamu*.
Bima mendaratkan bibirnya cukup lama pada kening Renata. Laki-laki itu kemudian ikut tertidur saat rasa nyaman sekaligus kantuk menyerangnya.
Semenjak pulang dari rumah sakit, Bima tidak pernah bisa tidur nyenyak. Bahkan semenjak semalam pun, dia tidak bisa tidur karena memikirkan hari ini.
Dalam hati, Bima sudah berjanji, akan terus berjuang demi mendapatkan maaf dari Renata. Bima tidak akan menyerah walaupun Renata nantinya berkali-kali menolaknya.
Aku rela, meskipun aku harus bersujud di depanmu untuk mendapatkan maaf darimu, karena aku sadar, terlalu besar kesalahan yang telah aku perbuat padamu, Renata.
"Baiklah! Aku akan mengizinkanmu datang ke rumah ini. Tapi dengan satu syarat. Jangan memaksaku untuk menuruti semua keinginanmu, apalagi untuk memaafkanmu, karena itu tidak mudah bagiku." Kata-kata Renata saat kemarin dirinya memohon pada perempuan itu kembali terngiang.
Bersambung ....
__ADS_1