MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 68 AKU TIDAK AKAN MELEPASKAN DIA


__ADS_3

Tubuh Bima terhuyung akibat pukulan demi pukulan yang dilayangkan oleh Aldrian. Pria itu benar-benar marah.


Bagi Aldrian, Renata adalah perempuan yang sangat ia sayangi dan mempunyai tempat di hatinya yang paling dalam.


Aldrian tahu, kalau ia tidak akan mungkin memiliki perempuan itu, tetapi, bisa membuat Renata bahagia saja Aldrian sudah senang. Aldrian sangat bahagia ketika melihat wanita itu bahagia.


Begitupun sebaliknya, saat melihat Renata menderita, hatinya pun ikut sedih memikirkannya.


"Kau sudah menghancurkan kehidupan Renata, Bim, aku tidak bisa membayangkan seandainya dia sadar nanti." Aldrian menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sementara, Bima menangis sesunggukan.


Devan sudah pergi sedari tadi meninggalkan kedua laki-laki itu.


"Apa kau tidak tahu dan tidak pernah menyadari kalau Renata mencintaimu, Bim?"


Bima menoleh ke arah Aldrian dengan kedua mata memerah.


"Renata bahkan sudah mencintaimu, jauh sebelum kamu menikah dengannya." Aldrian memejamkan matanya sambil mengingat semua kata-kata yang diucapkan Renata tentang pria bodoh di sampingnya itu.


Sedangkan Bima merasa terkejut mendengar ucapan yang keluar dari mulutnya.


"Namun, ironis! Hidup Renata justru hancur di tangan orang yang dia cintai dengan tulus." Aldrian mengepalkan tangannya.


"Gara-gara dirimu, Renata kehilangan semuanya."


"Hidup Renata hancur semenjak kau memutuskan menikahi perempuan ****** itu!"


"Tidak mungkin ...." Bima menatap Aldrian dengan tidak percaya. Laki-laki itu selama ini memang tidak pernah tahu kalau Renata mencintainya. Bima hanya tahu, kalau Renata selalu membantah semua keinginannya dan juga keras kepala. Perempuan itu bahkan sangat susah untuk ditaklukkan saat Bima begitu menginginkannya.


"Kalau dia memang mencintaiku, dia tidak mungkin ingin bercerai denganku."

__ADS_1


Aldrian menatap Bima dengan sorot mata tajam.


"Dia ingin bercerai denganmu karena dia ingin membentengi hatinya agar tidak terus terluka. Apa kau tidak sadar, semua yang kau lakukan padanya itu sangat menyakiti hatinya?"


"Dia mencintaimu, tapi kau memilih wanita lain. Kau bahkan tanpa perasaan membawa wanita itu ke rumahmu untuk tinggal bersamanya. Kau benar-benar bajingan!" Aldrian menepuk dadanya yang terasa sesak saat membayangkan Renata yang seringkali menangis saat menceritakan tentang Bima.


"Setelah dia sadar dan pulih nanti, kau harus menyetujui dan mengabulkan keinginannya untuk bercerai denganmu."


"Lepaskan dia, biar aku saja yang menjaganya. Aku yakin, dia akan lebih bahagia berada di sampingku."


Bima mengepalkan tangannya mendengar ucapan Aldrian.


Aku tidak akan melepaskan dia, apalagi setelah aku tahu kalau dia mencintaiku.


***


Bi Yati dipindahkan ke ruang ICU karena kondisinya sangat kritis, sementara Renata sudah dipindahkan ke ruang rawat inap.


Kondisi Renata sungguh sangat memprihatikan. Kepalanya terbalut perban, bagian wajahnya terlihat beberapa memar akibat benturan keras saat tubuhnya terlempar ke jalanan.


Bima dan Aldrian mendekati Renata yang terbaring lemah tak berdaya di atas ranjang. Renata menempati kamar VVIP, Bima dan Aldrian memang sengaja memilih kamar itu agar Renata merasa nyaman.


Kedua laki-laki itu akan melakukan apa pun yang terbaik untuk Renata. Terlalu sibuk memikirkan Renata, Bima sampai lupa pada Shinta yang saat ini juga masih berada di dalam rumah sakit.


Perempuan itu kini masih di dalam ruang operasi. Shinta menjalani operasi caesar akibat terjatuh yang membuatnya mengalami pendarahan.


Bima baru saja sampai di depan ranjang Renata saat ponselnya berdering. Laki-laki itu segera menjauh saat melihat tatapan Aldrian yang menatapnya tajam.


Nama ibu mertua tertera pada layar ponselnya. Belum sempat Bima menyapa, sang ibu mertua sudah berteriak di seberang sana.

__ADS_1


"Di mana kamu, Bima? Kenapa kau tidak menemani Shinta di sini? Apa kau tidak tahu kalau saat ini Shinta sedang melahirkan anakmu?"


"Kau benar-benar keterlaluan! Cepat ke sini, Bima!"


Bima masih terdiam. Netranya tidak lepas dari wajah Renata.


"Cepat, Bima! Kenapa kau malah diam saja?"


"Aku tidak akan ke sana."


"Apa maksudmu, Bima?" Suara sang ibu mertua menggelegar.


"Aku tidak akan ke sana, aku tidak ingin bertemu dengan pengkhianat seperti dia!"


"Bima! Apa maksudmu?"


Bima mematikan ponselnya secara sepihak. Pria itu meminta pada Aldrian agar mengirimkan video rekaman Shinta dan Panji.


Hatinya kembali berdenyut saat dia melihat potongan demi potongan isi dalam video itu. Ponselnya sedari tadi berdering, tetapi Bima mengabaikannya. Bima kemudian mengirimkan video itu pada ibu mertuanya.


Setelah melihat rekaman video amatir yang kini tersebar luas di media dan juga video rekaman yang diberikan Aldrian, Bima tidak tahu apa yang dia rasakan sekarang, yang jelas, rasa marah, kecewa dan sakit hati bercampur jadi satu.


Dia sungguh tidak menyangka, kalau perempuan yang dicintainya dan dia perlakukan seperti ratu olehnya itu ternyata bermain di belakangnya.


Brengsek!


Bersambung ....


Sambil nunggu update, baca juga karya temen Author yuk! Keren loh ceritanya .....

__ADS_1



__ADS_2