
Renata berniat pergi dari kamar itu, tetapi tangan Bima berhasil mencekalnya. Pria itu kemudian menarik tubuh Renata ke dalam pelukannya.
"Tu-Tuan ...." Renata sungguh terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Bima. Perempuan itu memberontak, saat laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu memeluknya dengan erat.
"Berhenti bergerak, Renata. Aku hanya ingin memelukmu sebentar saja." Suara Bima menyapa pendengaran Renata.
Renata menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya.
Sadar, Renata! Kau harus tetap waras meskipun saat ini pria itu sedang memelukmu. Biar bagaimanapun, pria itu tidak pernah mencintaimu.
Renata terus menyugesti dirinya agar tidak terlena meski saat ini pria itu sedang mendekapnya erat. Bagaimanapun besarnya cinta yang dia punya untuk Bima, tetap saja, Renata harus membentengi hatinya agar tidak terus terluka.
Aku tidak akan membiarkan hatiku patah berkali-kali hanya karena kau memelukku, Tuan. Karena sampai kapanpun, aku yakin, perempuan yang ada di hatimu adalah Nona Shinta.
Awalnya aku memang ingin berjuang untuk mendapatkan hatimu, tetapi, setelah aku sadar kalau cintamu hanya untuk perempuan itu, aku lebih baik menjauh.
Menjauh dan menghindar darimu adalah jalan yang terbaik agar hatiku tidak semakin terluka karena terus mengharapkanmu.
Renata mencoba kembali melepaskan diri dari pelukan Bima. Namun, lagi-lagi pria itu kembali mendekapnya.
"Lepaskan saya, Tuan. Saya mau ke dapur menyiapkan sarapan untuk Tuan."
"Sebentar lagi, Renata. Aku ingin kau menemaniku tidur sebentar lagi. Semalaman aku tidak bisa tidur karena terus memikirkanmu." Entah sadar atau tidak, tiba-tiba kalimat itu meluncur dari mulut Bima begitu saja.
Sejenak Renata terdiam saat mendengar ucapan pria itu.
"Semalam kamu menginap di mana?"
"Apa penting buat Tuan saya menginap di mana?"
__ADS_1
"Renata ...."
Gadis ini benar-benar merusak suasana.
Bima melepaskan pelukannya pada Renata.
Pria itu menatap Renata yang sedang menatapnya juga.
"Apa maksud pertanyaanmu itu Renata?"
Renata melepaskan tangan Bima yang masih memegang pundaknya.
"Bukankah Tuan bilang, saya ini hanyalah seorang pembantu? Apa pentingnya buat Tuan mengetahui saya menginap di mana?" Renata menatap wajah tampan di depannya. Bima memang sosok yang sempurna, hingga saat bangun tidur pun, wajahnya tetap terlihat sangat tampan.
"Renata ...."
"Sebaiknya Tuan mandi dulu, biar aku siapkan sarapan buat Tuan."
"Jangan menguji kesabaranku, Renata. Biar bagaimanapun, kau adalah istriku. Apapun yang kau lakukan, harus dengan izinku!"
"Tuan Abimanyu yang terhormat, apa Tuan lupa kalau Tuan pernah mengatakan kalau saya ini hanyalah seorang pembantu?"
"Tuan juga mengatakan kalau istri Tuan satu-satunya adalah Nona Shinta bukan?"
"Renata!"
Bima menatap tajam wajah cantik Renata. Apa yang dikatakan perempuan itu memang benar. Ia pernah mengatakan kalau dirinya hanya mencintai Shinta. Namun, entah mengapa akhir-akhir ini bayangan Renata terus menghantuinya.
"Saya mau masak. Sebaiknya Tuan bersiap agar tidak terlambat sarapan."
__ADS_1
Renata melepaskan cekalan tangan Bima dengan kasar, kemudian melangkah keluar kamar itu. Sementara Bima mengepalkan tangannya.
Kenapa gadis itu susah sekali untuk dikendalikan? Padahal, selama ini dia terlihat begitu penurut.
***
Renata memasak makanan kesukaan Bima. Gadis cantik itu memasak dengan cepat karena dia tidak mau terlambat datang ke kafe.
Bima menuruni tangga dengan wajah segar. Sudut bibirnya tertarik ke atas saat indera penciumannya mencium aroma harum makanan yang dimasak oleh Renata.
Bima akui, Renata memang pandai memasak. Hampir semua masakan yang dimasak gadis itu, rasanya sangat pas dengan lidahnya.
Selain cantik dan pandai memasak, perempuan itu juga sangat cekatan dalam bekerja. Bima tersenyum tipis, merasa konyol dengan apa yang saat ini dipikirkannya.
Renata menata makanan yang sudah selesai ia masak di atas meja makan.
"Silakan, Tuan. Makanannya sudah siap." Renata melayani Bima seperti biasanya, saat dia masih menjadi pembantu di rumah itu.
"Aku akan makan, tapi temani aku makan di sini."
"Ta-tapi, Tuan-"
"Jangan membantah!"
"Maaf, Tuan. Saya tidak bisa menemani Tuan sarapan karena aku harus segera berangkat kerja."
"Kerja?" Kedua mata Bima membola mendengar ucapan Renata.
"Iya, Tuan. Saya sekarang sudah mulai bekerja, agar saya bisa bersiap saat Tuan dan Nona Shinta mengusir saya dari rumah ini.
__ADS_1
"Renata, kau ...?"
Bersambung ....