MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 48 PEREMPUAN MILIK ORANG


__ADS_3

Besok paginya, Pak Dika dengan diantar oleh Devan, pergi ke rumah Renata. Di kursi penumpang terlihat sang istri yang memaksa ikut dengan mereka. Iren beralasan ingin bertemu dengan Renata karena dia sudah lama tidak bertemu dengan gadis itu.


Sementara di sebelah Iren, duduk seorang perempuan berusia sekitar 30 tahunan. Dia adalah Andira, seorang pengacara muda yang akan membantu Renata mengurus perceraiannya dengan Bima.


Mereka berempat sampai di depan rumah Renata.


"Kenapa dia tidak tinggal bersama Bima di rumah besar keluarga Abimanyu, Pa?"


"Renata tidak mau tinggal bersama istri muda Bima. Apalagi, istrinya Bima itu tidak tahu kalau Renata adalah istri Bima yang pertama."


"Perempuan itu selalu memperlakukan Renata dengan kasar, karena dia tahunya, Renata itu hanya seorang pembantu di rumah itu."


"Ya, Tuhan ... kasihan Renata, Pa." Iren menimpali ucapan suaminya.


Pak Dika mengangguk.


"Kenapa Renata tidak jujur saja pada istri mudanya Bima?"


"Bima mengancam akan menghancurkan keluarga Renata yang di kampung kalau gadis itu mengatakan tentang pernikahan mereka pada istri barunya."


"Ya, ampun, lelaki bodoh itu ... kok aku kesal ya, Pa." Iren mengepalkan tangannya.

__ADS_1


"Jangankan Mama, Papa saja kesal."


Mendengar pembicaraan kedua orang tuanya tentang Renata sejak dari hari kemarin, membuat Devan merasa penasaran.


Bagi Devan, nama Renata itu tampak tidak asing di telinganya. Dalam kepala Devan, berkelebat bayangan perempuan cantik yang pernah ia temui di dalam sebuah kafe.


Perempuan itu menggunakan baju seragam pelayan dengan nama Renata.


***


Renata yang sedang menerima panggilan video dari sang ibu, segera beranjak dari tempat tidur. Gadis itu kemudian menutup sambungan videonya setelah terlebih dahulu berpamitan pada sang ibu karena tamu yang sedari tadi ditunggunya sudah datang.


Renata memang sudah menceritakan semuanya pada Bi Yati tanpa ada yang disembunyikan sedikitpun. Gadis itu juga mengatakan kalau saat ini dia tidak lagi tinggal bersama Bima. Melainkan tinggal di rumah yang ia beli menggunakan uang Bima.


Apalagi, saat Renata mengatakan kalau Bima saat ini juga sudah mengetahui kalau Renata membeli rumah itu dengan menggunakan uangnya.


Bi Yati dan Renata memang seorang ibu dan anak yang baik. Mereka lebih suka hidup apa adanya dibandingkan harus hidup dengan mengambil harta yang bukan hak miliknya.


Renata melangkah menuju pintu depan saat bel rumahnya berbunyi. Perlahan, perempuan itu membuka pintu rumahnya.


Sebuah senyuman tersungging di bibir Renata saat mengetahui siapa yang datang.

__ADS_1


"Pak Dika, Tante Iren."


"Halo, Sayang ... apa kabar?" Iren memeluk Renata. Perempuan itu menatap wajah Renata yang terlihat pucat dengan wajah sembab.


"Sayang ... kau terlihat sedang tidak baik-baik saja. Apa kau sakit?" Iren terlihat sangat khawatir.


"Masuk dulu, Tante, Pak Dika."


Renata tersenyum pada perempuan yang berdiri di belakang Iren dan juga laki-laki yang kini menatapnya dengan raut wajah terkejut.


"Silakan masuk."


Pak Dika, Iren, Andira, masuk ke dalam rumah. Sementara Devan masih terpaku, menatap tak percaya pada sosok perempuan yang dalam sebulan ini begitu menarik perhatiannya.


Devan bahkan setiap hari sengaja datang ke kafe, duduk di pojokan agar dia bisa memperhatikan wajah cantik perempuan itu.


*Rasanya seperti mimpi.


Renata ... tenyata perempuan itu adalah Renata yang sama yang selama ini diam-diam aku perhatikan.


Dari sekian banyak perempuan, kenapa perempuan yang aku perhatikan selama ini justru perempuan milik orang*?

__ADS_1


"Sampai kapan kau akan berdiri di sana, Devan?"


Bersambung ....


__ADS_2