
Setelah kejadian malam itu, Renata meminta izin pada Alea dan Kenzo. Gadis itu izin selama satu minggu untuk menenangkan diri. Sementara, Panji langsung dipecat oleh Kenzo malam itu juga.
Bima berulang kali datang ke rumah Renata, tetapi Bima hanya menahan kesal karena perempuan itu tidak mau menemuinya sama sekali.
Tak ingin Shinta curiga, Bima akhirnya terpaksa mengikuti kemauan Renata. Entah mengapa, sejak kejadian malam itu, Bima ingin terus dekat dengan Renata dan ingin kembali mengulang kejadian malam itu.
Namun, jangankan mengulangi, setiap kali dia datang ke rumah Renata, ujung-ujungnya mereka pasti bertengkar.
Sepertinya, ucapan Aldrian kalau Renata akan membencinya setelah kejadian malam itu memang benar. Renata sekarang semakin menghindarinya.
Walaupun terkadang Bima mengantarkannya kerja, gadis itu hanya terdiam tak mau bicara dengannya.
Gadis itu tidak mudah untuk ditaklukkan. Akan tetapi malah membuatnya semakin penasaran.
"Tak bisakah kau keluar saja dari pekerjaanmu?" ucap Bima saat mobilnya baru saja sampai di depan kafe.
"Aku tidak memaksamu untuk mengantarkanku, tapi kau memaksa."
"Bukan itu maksud aku, Ren, kau hanya perlu duduk diam di rumah menikmati uang yang kuberikan ka-"
"Sebentar lagi uang itu bukan lagi milikku."
"Renata ... kenapa kau begitu keras kepala? Aku hanya ingin mencoba untuk lebih dekat denganmu. Bagaimanapun, kau adalah istriku."
"Mantan! Sebentar lagi aku juga akan menjadi mantan istrimu, Tuan Muda." Renata menatap tajam ke arah Bima.
"Aku tidak ingin bercerai denganmu!"
Renata mendengus kesal.
__ADS_1
"Tapi aku tetap ingin bercerai denganmu!" Renata dengan cepat membuka pintu mobil, kemudian bergegas pergi tanpa menoleh pada Bima yang terlihat sangat kesal. Renata bahkan membanting pintu, hingga membuat Bima terlonjak kaget.
Kenapa pria itu semakin hari semakin aneh? Benar-benar menyebalkan!
***
Renata memeluk sang ibu yang baru saja sampai di rumahnya. Perempuan itu baru saja turun dari mobil travel yang mengantarkannya dari kampung sampai ke Jakarta.
Tadinya, Alya meminta kedua adiknya juga ikut bersama sang ibu, tetapi kedua adik laki-lakinya itu menolak karena mereka tidak bisa meninggalkan sekolah mereka.
"Aku kangen banget sama ibu."
"Ibu juga kangen sama kamu, Ren."
Mereka kembali berpelukan. Renata membawa ibunya masuk ke dalam rumahnya. Bi Yati tersenyum melihat seisi ruangan rumah itu.
"Benar-benar sesuai keinginan kamu, ya, Ren," ucap Bi Yati. Kedua matanya tak berhenti keliling menyapu ruang tamu sampai dapur.
"Apa Bima sering ke sini?" Pertanyaan sang ibu membuat Renata menghela napas panjang. Bi Yati terlihat merasa bersalah saat melihat wajah Renata berubah sedih.
"Maafkan Ibu, Ibu tidak bermaksud-"
"Tuan Bima sering ke sini, tetapi aku selalu menyuruhnya pulang."
"Loh, kok disuruh pulang. Biar bagaimanapun, dia adalah suamimu, Rena. Kamu wajib melayaninya."
Renata menatap wajah sang ibu. "Sebaiknya Ibu istirahat dulu, nanti baru aku ceritakan semuanya pada ibu."
"Baiklah! Ibu lapar. Ibu ingin makan dulu." Bi Yati tersenyum sambil memegangi perutnya, membuat Renata tertawa kecil.
__ADS_1
Perempuan itu kemudian membawa sang ibu ke meja makan.
Mereka berdua makan sambil sesekali melempar candaan. Sudah lama, ibu dan anak ini tidak bertemu. Selesai makan, mereka melepas rindu.
Renata menceritakan semua kejadian yang dialaminya selama dia tinggal di rumah besar itu dan juga rumah barunya. Renata juga kembali menceritakan tentang gugatan cerai yang saat ini sedang diurus oleh Andira.
"Apapun yang terbaik buat kamu, ibu akan mendukungmu."
"Terima kasih, Bu."
Renata memeluk sang ibu sambil tersenyum. Dia sungguh sangat bersyukur karena mempunyai ibu yang selalu mendukungnya.
***
Bima melajukan mobilnya dengan kencang menuju rumah Renata. Wajahnya terlihat penuh amarah. Beberapa saat yang lalu, ia baru saja menerima surat yang dialamatkan ke kantornya.
Namun, Bima tidak menyangka kalau salah satu surat itu ternyata berasal dari pengadilan. Surat itu berisi surat gugatan cerai yang dilayangkan oleh Renata.
Perempuan itu benar-benar. Aku pikir, selama ini dia sudah melupakan gugatan cerai itu. Ternyata, dia serius dengan niatnya.
Bima sampai di depan rumah Renata. Pria itu dengan kasar membuka pintu gerbang kemudian memasukkan mobilnya.
Pria itu turun dari mobil, bergegas masuk ke dalam rumah tanpa menutup pintu gerbang.
Saat membuka pintu, pintu itu ternyata tidak terkunci. Bima berteriak memanggil Renata. Hatinya saat ini sedang dikuasai oleh amarah.
"Renata!"
"Renata!"
__ADS_1
Bersambung ....