
"Ibuu ...!"
"Renata!"
Ketiga laki-laki itu langsung masuk bersamaan ke dalam kamar. Di dalam kamar, Renata menangis histeris saat mendengar ucapan Devan yang mengatakan kalau sang ibu meninggal dunia.
"Ibu ... aku ingin bertemu ibuku." Renata mencoba menggerakkan tubuhnya, tetapi perempuan itu tidak kuat saat rasa sakit menyerangnya.
Seluruh luka di tubuhnya terasa nyeri saat Renata menggerakkan tubuhnya meskipun hanya bergeser sedikit saja.
Namun, Renata merasa kesakitan saat ia mencoba menggerakkan pinggangnya. Rasa sakit menjalar di bagian tulang belakangnya. Akan tetapi, kakinya seolah mati rasa.
Perempuan itu hanya bisa pasrah dan terus menangis. Devan yang terlebih dahulu sampai, menenangkan gadis itu ke dalam pelukannya.
"Ibu ... aku ingin bertemu dengan ibu. Bagaimana keadaan ibuku dokter. Aku ingin bertemu dengannya!"
"Tenanglah! Kau harus tenang!"
"Tidak! Aku tidak bisa tenang sebelum bertemu dengan ibu. Aku ingin bertemu dengan ibuku! Aku mohon ...." Renata terus menangis sambil mencoba menggerakkan tangannya yang tertancap jarum infus, tetapi Aldrian dan Devan dengan sigap menahan Renata.
"Tenang, Rena, tenanglah! Semua akan baik-baik saja." Devan tidak berhenti mengucapkan kata-kata itu di telinga Renata.
__ADS_1
"Ibuku baik-baik saja kan, Dok? Ibu tidak mungkin meninggalkan aku, dia tidak mungkin meninggal kan, Dokter? Kau pasti bohong!" Renata berteriak histeris.
Jantung Devan dan Aldrian serasa diremas-remas, begitupun Bima yang saat ini ikut menangis mendengar teriakan Renata. Pria itu terduduk di lantai, tak kuasa menahan rasa sakit yang kini menjalar ke hatinya.
Rasa sakit dan penyesalan karena telah menyebabkan perempuan yang sedari kecil ikut merawatnya itu meninggal dunia. Bima sungguh tidak menyangka kalau kesalahannya berakibat fatal.
Seandainya saja dia tidak terbawa emosi dan mau mendengarkan penjelasan Bi Yati dan Renata, kecelakaan itu pasti tidak akan pernah terjadi. Gara-gara keegoisannya, perempuan baya yang telah menjadi mertuanya itu meninggal dunia.
"Aku ingin bertemu dengan ibu! Aku ingin bertemu dengannya! Ibuku tidak mungkin meninggal, kau pasti bohong!" Renata terus berteriak dan mencoba meronta di pelukan Devan. Sementara Aldrian juga ikut menenangkan perempuan itu.
"Tenang, Renata, tenanglah!" Devan ikut menangis mendengar teriakan dan juga tangis Renata, begitu juga Aldrian.
Beberapa menit kemudian, seorang dokter dan dua perawat bergegas masuk ke dalam kamar Renata.
Dokter yang baru saja datang dibantu dua perawat yang menemaninya langsung mengambil tindakan. Sang dokter menyuntikkan obat pada lengan Renata.
Renata terus meronta. Namun, beberapa menit kemudian, tubuh perempuan itu melemah dan tak sadarkan diri.
Aldrian dan Devan menghela napas lega. Begitupun dokter yang memeriksa Renata. Sang dokter diikuti oleh kedua perawat itu meninggalkan Renata setelah selesai memeriksa perempuan itu.
Bima terduduk di lantai dengan menutup wajahnya. Bahunya berguncang karena isak tangisnya. Laki-laki itu menangis merasakan penyesalan yang mendalam saat adegan demi adegan sebelum kecelakaan itu terjadi kembali terlintas di kepalanya.
__ADS_1
Bima bahkan sangat ingat, saat kedua perempuan ibu dan anak itu berteriak, berusaha menjelaskan kalau mereka tidak bersalah. Mereka berdua terus membela diri kalau bukan mereka yang sengaja membuat Shinta terjatuh.
Namun, dengan amarah yang saat itu menguasai hatinya karena melihat orang yang dicintainya itu terjatuh di depan mata kepalanya sendiri, Bima dengan begitu kejam mengabaikannya.
Laki-laki itu terus berjalan tanpa memedulikan teriakan Bi Yati yang ingin menjelaskan kebenaran padanya.
Maafkan aku, Maafkan aku, Bi. Maafkan aku ....
Bima terus menangis, sementara Aldrian dengan penuh amarah mendekati Bima.
Laki-laki itu menarik tubuh Bima dan menarik kerah baju sepupunya itu.
"Brengsek! Apa sekarang kamu puas? Telah menyebabkan calon anakmu dan juga ibu mertuamu meninggal dunia?"
"Puas, kamu sekarang melihat Renata menderita? Dasar brengsek! Kenapa aku harus punya saudara sepupu bodoh sepertimu?" Aldrian berteriak penuh amarah.
Sebuah pukulan mendarat di wajah Bima, hingga wajah laki-laki itu terlempar ke samping.
"Kalau aku tahu kau hanya akan membuat Renata menderita, lebih baik dulu aku yang mengajukan pada Tante Erika untuk menikahi gadis itu!"
.
__ADS_1
Bersambung ....