
"Renata!"
"Renata!"
Bima mengetuk kaca mobil Devan, tetapi Renata tak sedikit pun menoleh ke arah Bima. Perempatan itu sudah bertekad. akan pergi jauh dari laki-laki itu.
"Apa kau yakin?" Devan masih memberikan waktu pada Renata agar perempuan itu tidak menyesal karena sudah mengambil keputusan yang salah.
"Aku sangat yakin, dokter. Kau sendiri yang bilang kalau aku harus fokus dengan terapiku agar aku bisa cepat sembuh bukan?"
Devan mengangguk saat perempuan itu menatapnya.
"Renata!"
"Buka pintunya, Renata! Kita harus bicara. Kau tidak bisa meninggalkan aku begitu saja Renata!" Suara Bima terdengar keras. Pria itu masih mengetuk kaca mobil.
"Bukankah kau mencintainya?"
Mendengar ucapan Devan, Renata menatap Bima yang saat ini masih terus mengetuk kaca mobil. Pria itu terus berteriak memanggilnya.
"Aku minta maaf padamu, Renata. Aku minta maaf! Aku mohon, jangan pergi, Ren."
"Renata!"
"Ren, aku mohon ... aku mohon jangan pergi. Biarkan aku menebus semua kesalahanku padamu, Ren. Beri aku kesempatan sekali lagi." Bima masih terus mengetuk pintu mobil. Pria itu tidak menyerah
"Renata!"
__ADS_1
"Kita pergi sekarang, Dev." Renata mengusap air matanya.
Devan mengangguk menuruti perintah Renata. Pria itu hanya ingin memberikan waktu pada Renata untuk berpikir agar dia tidak menyesal karena telah mengambil keputusan untuk meninggalkan Bima. Pria yang Devan yakini sangat dicintai oleh Renata.
"Aku memang mencintaimu, Ren. Tapi tetap, kebahagiaan kamu adalah nomer satu buatku. Aku akan bahagia jika melihatmu bahagia.
Devan melajukan mobilnya. Sementara Bima masih berteriak. Tidak menyangka kalau Renata benar-benar pergi meninggalkannya.
"Renata!"
"Renata!" Bima mengejar mobil Devan, tetapi mobil itu langsung melaju cepat meninggalkan rumah Renata. Bima berlutut, menatap kepergian mobil Devan yang membawa Renata pergi.
"Renata ... kenapa kau tidak mau memberikan aku kesempatan? Aku sungguh sangat ingin memperbaiki semua kesalahanku, Ren." Bima menangis menatap mobil Devan yang menjauh.
Rintik gerimis turun, seolah ikut bersedih melihat keadaan Bima. Laki-laki itu masih di sana. Menekuk lutut sambil menangis.
"Aku baru saja ingin belajar mencintaimu. Aku ingin membuka hari untukmu dan memulai kembali dari awal. Tapi kenapa kau malah meninggalkan aku?
Bima menundukkan wajah, bahunya bergetar karena isak tangisnya. Kedua tangannya terkepal, menyesali diri karena tidak bisa menahan seseorang yang kini baru disadarinya begitu berarti untuk dirinya.
Aku tahu, luka hari yang telah aku tanam di hatimu begitu dalam. Tapi, kenapa kau tidak mau memberikan aku kesempatan untuk menyembuhkan luka yang anu perbuat?
Bima menepuk dadanya yang terasa sesak. Air matanya turun seiring gerimis yang berubah menjadi hujan.
Sepertinya, alam pun ikut bersedih melihat keadaan Bima yang saat ini terlihat begitu menyedihkan.
Tak jauh berbeda dengan Bima, Renata pun menangis. Perempuan itu tak berhenti meneteskan air mata saat ingatannya kembali memutar waktu.
__ADS_1
*Aku sudah memutuskan, kalau aku benar-benar akan melupakanmu. Meskipun ini sangat menyakitkan, tapi aku tidak bisa mundur.
Aku tidak mungkin hidup bersama orang yang telah menyebabkan kematian ibu juga anakku.
Kau tidak pernah tahu, jika aku selalu kesakitan setiap kali melihat wajahmu. Rasa cinta yang kumiliki untukmu bahkan tak mampu menghentikan rasa sakit di hatiku setiap kali aku melihatmu.
Selamat tinggal Tuan Muda Abimanyu. Selamat tinggal cinta pertamaku* ....
Renata menangis sambil menyandarkan kepalanya. Sementara kedua adik lelakinya hanya terdiam. Mereka sangat tahu apa yang dirasakan oleh Renata saat ini.
Aku yakin, kamu pasti kuat melewati semua ini, Mbak, aku janji, aku akan selalu ada di samping kamu sampai kamu pulih.
Rangga memejamkan matanya. Kedua tangannya terkepal erat. Merasa gagal menjaga kakak perempuan tercintanya itu.
"Mas Rangga, setelah ini, kita harus membantu Mbak Renata melupakan pria itu." Rangga mengangguk mendengar ucapan adiknya.
Devan mengusap kepala Renata.
Melihatmu seperti ini, membuat hatiku ikut merasakan sakit seperti sakit yang kau rasakan. Rasanya, aku ingin sekali memelukmu sekarang.
Devan membelai rambut Renata tanpa menatap ke arah perempuan itu. Kedua matanya fokus menatap jalanan.
Aku akan membawamu ke suatu tempat yang jauh dari jangkauan Bima, Ren. Aku akan menjauhkan kamu dari orang yang telah menjadi sumber kehancuranmu.
Devan menarik napas panjang, saat rasa sakit mengalir ke sudut hatinya saat melihat orang yang dicintainya menangis di sampingnya.
Bersambung ....
__ADS_1