
Pagi yang sangat cerah, secerah senyum Renata saat ini. Perempuan itu sangat bahagia saat mengetahui Devan menyetujui keinginannya berobat ke luar negeri.
Bukan hanya Devan tetapi Iren, mamanya Devan juga mengatakan akan ikut dengan mereka. Biar bagaimanapun, Renata dan Devan adalah dua orang dewasa yang tidak boleh tinggal hanya berdua.
Iren tidak mau Devan menjadi seperti Aldrian dan Bima yang seringkali melakukan hubungan di luar nikah.
Berbeda dengan Renata dan Iren. Bima justru kalang kabut. Pagi itu, setelah ia mendapatkan kabar dari Aldrian kalau Renata akan berangkat ke luar negeri, laki-laki itu langsung melajukan mobilnya ke arah villa.
Perjalanan yang harusnya memakan waktu beberapa jam, Bima lalui hanya dengan waktu kurang dari dua jam karena ia melajukan mobilnya cukup kencang.
Beruntung, saat itu ia tidak terkena macet karena ia berangkat pagi-pagi sekali dari ibukota.
Bima berlari masuk ke dalam villa sesaat setelah dirinya baru saja turun dari mobil yang ia parkir sembarangan di depan pintu gerbang.
"Renata!"
"Renata!"
Bima berteriak dengan napas naik turun. Laki-laki itu benar-benar takut kalau ia tidak bisa menemui Renata sebelum gadis itu pergi.
Renata, Devan, Aldrian juga Iren yang saat itu sedang sarapan pagi menengok ke arah suara. Sementara Bima langsung berlari mendekati Renata saat ia melihat perempuan itu kini sedang menatapnya dengan memegang sendok berisi makanan yang sudah siap ia masukkan ke dalam mulutnya.
"Renata." Bima langsung menekuk lutut mensejajarkan tubuhnya dengan Renata. Bima menjatuhkan kepalanya pada pundak Renata dengan napas naik turun. Saat ini posisinya berada di belakang kursi roda Renata.
"Kenapa Tuan berlari seperti orang yang sedang dikejar-kejar setan?" ucap Renata santai. Ia kemudian memasukkan sendok berisi makanan itu ke dalam mulutnya.
Sementara, Bima yang mendengar ucapan Renata melingkarkan tangannya pada pinggang perempuan itu.
__ADS_1
"Tuan, aku sedang makan," protes Renata.
"Duduklah dulu, Bim." Suara Aldrian terdengar. Ia yakin, Bima pasti sangat terkejut mendengar rencana kepergian Renata yang tiba-tiba. Laki-laki itu baru saja kembali ke ibukota semalam, tetapi, pagi ini dia kembali lagi ke villa karena pagi-pagi sekali Aldrian memberitahukan padanya kalau Renata akan pergi.
"Tidak. Aku tidak akan duduk sebelum kalian memberitahukan padaku kenapa Renata tiba-tiba ingin pergi dari sini."
"Sebaiknya kamu sarapan dulu, Bim. Tante yakin, kamu pasti belum sarapan." Iren ikut menimpali.
Perempuan itu sangat tahu bagaimana keras kepalanya Bima.
"Tidak."
"Sebaiknya Tuan jangan membuatku marah. Aku sedang makan."
Mendengar ucapan Renata, Bima mau tidak mau menyingkirkan tangannya. Laki-laki itu kemudian bangkit dengan lemas.
"Brengsek, kau, Al. Kenapa kau baru memberitahuku kalau Renata akan pergi?"
"Makanlah dulu, baru kita bicara." Aldrian menatap tajam ke arah sepupunya itu.
Mendengar ucapan Aldrian yang terlihat serius, Bima langsung terdiam. Pria berambut ikal itu menurut, ikut sarapan dengan mereka dalam diam.
Selesai sarapan, mereka kemudian bersiap pergi ke Bandara karena Renata akan pergi hari itu juga. Mendengar itu, Bima meradang. Namun, sebisa mungkin ia menekan emosinya. Akan tetapi, bukan Bima namanya kalau tidak egois dan keras kepala.
"Apa kalian memang sengaja ingin menjauhkan aku dengan Renata?"
Ucapan Bima sontak membuat Aldrian, Devan, Renata dan Iren menatap ke arah Bima.
__ADS_1
"Apa maksud kamu, Bim? Kami membawa Renata ke sana agar Renata bisa cepat pulih, kau tidak bisa melarang kami-"
"Kalau begitu, biarkan aku ikut bersama kalian."
Semua orang di dalam ruangan itu menghela napas panjang. Begitupun Renata yang menatap pria itu dengan tatapan tak terbaca.
"Ren, aku ikut denganmu. Aku ingin-"
"Kalau begitu, aku tidak jadi pergi saja," potong Renata cepat.
Semua orang dalam ruangan itu tampak terkejut. Sementara Bima tersenyum dengan kedua mata berbinar.
"Aku ingin pergi ke sana karena aku ingin sembuh. Bukan hanya ingin sembuh saja, tetapi aku ingin pergi karena aku tidak ingin bertemu denganmu."
"Ren-"
"Tuan. Bisakah sekali ini saja Tuan menuruti permintaanku?"
"Aku hanya ingin bahagia. Aku ingin melupakan semuanya. Aku ingin hidup baru, dengan suasana baru. Orang-orang baru. Aku ...." Renata menghentikan ucapannya. Kedua matanya mulai berembun.
Entah bagaimana caranya agar ia bisa membuat orang di depannya itu mengerti. Sudah setahun lebih setelah perpisahan mereka, tetapi Renata tetap belum bisa menyembuhkan luka karena perbuatan pria di depannya itu.
"Memaafkan itu mudah, tetapi melupakan semua yang terjadi di antara kita bukanlah hal mudah bagiku. Aku hanya manusia biasa, bukan malaikat. Aku butuh waktu untuk menata hatiku."
"Tuan, tidakkah kau ingin aku bahagia, meskipun hanya sedikit saja?"
Bersambung ....
__ADS_1