
"Apa-apaan kamu, Bima? Berani-beraninya kalian semua mengusirku?" Haris berteriak pada menantunya setelah mereka keluar dari kamar rawat inap Renata. Mereka saat ini sudah berada di kamar inap Shinta.
"Kalian mengganggu ketenangan pasien, karena itu mereka mengusir kalian," jawab Bima santai.
"Siapa perempuan itu? Kenapa kau justru memilih bersama dia daripada bersama istrimu?" Haris kembali berteriak. Sementara Bima langsung terdiam mendengar ucapan Haris.
Dulu, Bima sangat takut jika rahasia pernikahannya dengan Renata sampai diketahui oleh Shinta dan keluarganya. Namun, kini ia tidak peduli sama sekali. Toh! Shinta juga sudah tahu kalau dia sudah menikah dengan Renata.
Sepertinya Shinta menuruti permintaannya untuk tidak memberitahukan pada Haris dan Wilda kalau dia sudah menikah dengan Renata.
"Kenapa kau lebih memilih berada di sana daripada menemani istrimu yang baru saja berjuang melahirkan anakmu?"
"Dia bukan anakku!" Bima tak kalah berteriak.
"Bima! Apa maksudmu anak itu bukanlah anakmu?" Haris kembali berteriak.
"Shinta adalah istrimu, tentu saja anak itu adalah anakmu!" Suara Haris menggema. Pria paruh baya itu sangat marah. Dia tidak terima dengan ucapan Bima yang tidak mau mengakui anaknya.
"Karena anak itu memang bukan anakku! Dia adalah anak Shinta bersama selingkuhannya!"
"Bima! Jaga ucapan kamu!" Wilda yang sedari tadi diam saja ikut tersulut emosi. Perempuan baya itu ikut berteriak membuat Bima tertawa sinis.
"Mama sangat tahu, siapa ayah dari bayi itu tetapi kenapa Mama masih berpura-pura?"
"Diam kamu, Bima!" Wilda menatap wajah suaminya yang semakin garang mendengar ucapan Bima. Wilda memang belum memberitahukan pada suaminya tentang Shinta. Perempuan itu sengaja merahasiakannya karena ia sangat tahu bagaimana sifat suaminya.
Haris pasti akan menghukum Shinta seandainya saja dia tahu kalau Shinta telah mengkhianati Bima.
"Bagaimana kau bisa berpikir kalau anak itu bukan anakmu, Bima, Shinta adalah istrimu!"
__ADS_1
"Shinta telah mengkhianati aku, Pa. Laki-laki itu sudah mengakui kalau anak yang dilahirkan oleh Shinta adalah anaknya."
"Apa?"
"Papa boleh tanya sama Mama dan juga Shinta. Mereka sangat tahu siapa laki-laki yang telah menghamili Shinta sebelum dia menikah denganku." Bima menatap tajam ke arah Shinta. Begitupun Haris yang tatapannya kini beralih pada anak dan istrinya.
"Sayang, kamu salah paham. Panji berbohong padamu. Apa yang dikatakan oleh pria itu tidaklah benar." Shinta yang sedari tadi terdiam melihat perdebatan sang ayah dan Bima, akhirnya ikut menimpali.
"Benarkah?" Bima menatap tajam perempuan yang sangat dicintainya itu. Rasa sakit mengalir ke ruang hatinya saat mengingat pengkhianatan Shinta.
"Apa kau tahu, Shinta, aku bahkan sudah melakukan tes DNA pada bayi itu tanpa sepengetahuan kalian."
"A-apa?" Kedua mata Shinta dan Wilda membola karena terkejut.
Sementara Haris semakin bingung.
Bima mengeluarkan amplop dari saku kemejanya.
Bima menyerahkan amplop itu pada Haris. Sementara Shinta dan ibunya terlihat cemas.
"Shinta, hari ini, dan di detik ini juga, aku talak kamu. Mulai sekarang, kamu bukan istriku lagi."
"Bima!"
Shinta dan Wilda terkejut. Begitupun Haris. Namun, laki-laki paruh baya itu lebih terkejut saat melihat hasil tes DNA itu.
"Aku akan segera mengurus perceraian kita di pengadilan."
"Bima." Shinta menatap pria itu dengan tidak percaya.
__ADS_1
"Kamu egois, Bima! Kalau kau menceraikan aku, kau juga harus menceraikan dia! Kau marah karena aku mengkhianatimu, tapi kamu sendirilah yang terlebih dahulu mengkhianatiku!"
"Aku menikahi Renata sebelum aku menikah denganmu, jadi aku lah yang telah mengkhianati Renata karena aku lebih memilih dirimu, Shinta."
"Apa kau tahu, gara-gara aku menolongmu, ibu Renata meninggal dunia. Gara-gara kau juga, saat ini Renata terluka dan kehilangan bayinya."
"Kalau kau tidak bermaksud mencelakai Renata, kau pasti tidak akan celaka, dan seandainya saja aku percaya pada mereka kalau mereka tidak membuatmu terjatuh, saat ini Bu Yati pasti masih hidup, dan Renata juga masih sehat."
"Kau menyalahkan aku? Kecelakaan itu terjadi karena mereka tidak memperhatikan jalan. Mereka sen-"
"Kalau kau tidak bermaksud mencelakai Renata yang berakhir dengan insiden kau terjatuh, aku pasti tidak akan menyalahkan mereka, Shinta."
"Cintaku padamu membuatku tidak bisa membedakan kebenaran. Seandainya aku percaya pada ucapan Bi Yati kalau Renata tidak bersalah, perempuan itu pasti tidak akan mengejarku hanya untuk menjelaskan kalau putrinya tidak bersalah." Bima menatap Shinta dengan rasa sakit di hatinya.
"Aku mencintaimu, Shinta. Aku melakukan semua untukmu. Tapi ternyata selama ini kau justru bermain di belakangku."
"Bima ...."
"Sampai bertemu di pengadilan." Bima menatap Shinta dan kedua orang tua Shinta bergantian, kemudian pergi meninggalkan mereka tanpa sepatah katapun.
Pria itu memegangi dadanya yang terasa sesak. Bima kemudian memasukkan kembali amplop berisi hasil tes DNA yang tadi ia perlihatkan pada Haris.
Hasil tes DNA itu bisa Bima pakai sebagai bukti di pengadilan, saat dirinya menggugat cerai Shinta nanti.
Aku tidak menyangka kalau pernikahan kita akan berakhir secepat ini, Shinta.
Bersambung ....
Baca juga karya temen aku yuk! Nggak kalah seru loh!
__ADS_1