
Bima menatap Renata dari balik pintu ruang rawat inap yang sedikit terbuka. Laki-laki itu mengintip, tidak berani masuk ke dalam ruangan karena tidak mau Renata kembali berteriak dan akhirnya menyebabkan perempuan itu kembali kesakitan.
Semalaman ia memikirkan semua kata-kata Aldrian juga Rangga. Mereka memang benar, seharusnya dirinya memberikan waktu pada Renata. Bukannya malah terus memaksa perempuan itu untuk terus bersamanya.
Maafkan aku. Seandainya melihatmu dari jauh bisa membuatmu mengurangi kebencianmu padaku, aku akan melakukannya.
Bima mengulas senyum saat melihat Renata tersenyum di dalam sana. Perempuan itu sedang disuapi oleh Rangga sambil sesekali bercanda dengan Aldrian.
Aldrian? Ah! Kenapa aku dari dulu selalu kalah darinya?
Bima menghembuskan napas panjang. Netranya kemudian kembali mengintip dari balik pintu.
Seharusnya aku juga berada di sana, Ren. Setelah apa yang aku lakukan padamu, aku seharusnya berada di sana untuk menebus semua kesalahanku.
Bima kembali menghela napas. Dirinya terlonjak kaget saat seseorang menepuk pundaknya. Devan menatapnya sambil menghela napas juga. Kedua pria itu sama-sama merasakan sesuatu yang tidak bisa mereka ungkapkan.
"Sore ini dia sudah boleh pulang. Kamu tidak usah khawatir." Devan mengulas senyumnya.
"Terima kasih, Dev. Aku mohon padamu, lakukan yang terbaik untuk Renata."
"Pasti! Aku akan melakukan apa pun demi kesembuhannya."
__ADS_1
"Kalau begitu, aku pergi dulu."
"Kau tidak ingin menemuinya?" Devan menatap heran. Tidak biasanya Bima bersikap seperti itu.
"Aku sedang banyak kerjaan di kantor. Beberapa hari ini mungkin aku tidak akan menemuinya. Aku ingin dia tenang dulu." Bima menatap Devan. Namun, netranya sesekali melirik ke dalam ruangan. Menatap Renata yang kini sedang tersenyum karena candaan Aldrian dan kedua adiknya.
"Baiklah! Kalau begitu, aku mau masuk ke dalam dulu. Aku ingin memeriksa keadaan Renata sebelum dia pulang."
Bima mengangguk pelan, sebelum akhirnya dia pun pergi sesaat setelah Devan masuk dan menutup pintu ruangan dengan rapat.
Seandainya dengan menjauh untuk sementara bisa membuatmu jauh lebih baik, aku rela menuruti semua keinginan kamu, Ren. Tapi, aku tidak akan menyerah untuk mendapatkan maaf darimu.
Di sana, tepat di depan rumah sakit ini, sang ibu mertua dan Renata tergeletak setelah tubuh mereka dihantam oleh mobil yang melaju kencang.
Maafkan aku, Bu Yati, semoga ibu tenang di sana. Maafkan aku karena aku telah menjadi penyebab kecelakaan itu. Seandainya saja aku mau mendengarkan penjelasan ibu, saat ini ibu pasti masih hidup.
Bima menghembuskan napas panjang saat rasa sakit mengalir ke ruang hatinya.
*Kenapa semuanya harus datang terlambat? Aku terlambat menyadari semua kesalahanku pada mereka berdua.
Kau benar, Al, seandainya aku tidak egois dan mau menerima kehadiran Renata meskipun aku tidak menginginkannya, semua ini pasti tidak akan terjadi. Renata tidak perlu menderita, Bi Yati tidak akan mengalami kecelakaan karena keegoisannya lebih memilih Shinta.
__ADS_1
Namun, bukankah semua itu sudah takdir? Takdir yang sudah digariskan Tuhan untuk mereka*?
Bima bergegas menuju mobilnya. Hari ini rencananya dia memang akan ke kantor. Banyak sekali pekerjaan yang tertunda selama Bima bolak-balik ke kantor.
Akan tetapi, langkahnya terhenti saat ia melihat orang-orang yang baru saja turun dari mobil tak jauh dari tempatnya berdiri.
Di depannya saat ini, terlihat Shinta dengan senyum bahagia di wajah cantiknya baru saja keluar dari mobil bersama Panji dan juga mantan ibu mertuanya.
Panji menggendong bayi. Wajah tampannya juga tidak kalah sumringah. Shinta melingkarkan tangannya di lengan Panji. Perempuan itu mencium bayi mungil di gendongan Panji. Kemudian menghadiahi ciuman di bibir pria berondong itu. Sementara Wilda, sang mantan mertua hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah dua sejoli di depannya itu.
Bima mengepalkan tangannya melihat pemandangan yang sangat menyakitkan hatinya itu. Bagaimanapun, Shinta adalah perempuan yang bertahun-tahun bertakhta di hatinya.
Bersambung ....
Kalau visual tidak cocok, lebih baik kita berimajinasi sendiri saja ya, he-he-he.
Bima itu, egois, pemarah, kepala batu, menyebalkan, sudah pasti! Tapi ... di balik semua sifat jeleknya, Bima itu orang yang sangat setia lho.
Kalau Bima sudah cinta sama seseorang, dia pasti akan setia pada orang itu sampai nggak peduli sama yang lain.
Silakan kalian bayangin seperti apa sosok yang cocok buat Bima.
__ADS_1