
Aldrian dan Devan menoleh ke arah suara. Di depan pintu, sudah berdiri Bima dengan wajah kusut karena luka lebam di seluruh wajahnya akibat pukulan Aldrian.
"Setelah semua yang kau lakukan pada Renata, apa kau pikir dia akan memaafkanmu?"
Bima terdiam. Apa yang diucapkan Aldrian memang benar. Setelah apa yang ia lakukan selama ini dan hari ini, apa mungkin Renata masih mau memaafkannya?
Bima menghembuskan napas panjang, mencoba menetralkan perasaannya.
"Paling tidak, aku masih suami Renata yang sah, jadi aku lebih berhak daripada kalian atau pun orang lain!" ucap Bima penuh penekanan.
"Seharusnya kau lihat bagaimana reaksi Renata tadi saat tahu kalau dia sudah kehilangan calon buah hatinya." Devan mulai jengah dengan sikap sahabat semasa SMA nya itu.
Bima menatap Devan dengan terkejut.
"Apa dia sudah sadar?"
"Renata menangis histeris saat tahu kalau dirinya keguguran."
Bima sangat terkejut mendengar ucapan Aldrian.
"Setelah melukainya begitu dalam, apa kau pikir, dia akan memaafkanmu begitu saja?" Aldrian menatap Bima dengan tajam.
"Aku tidak akan rela jika Renata kembali padamu. Dia pantas bahagia, tapi tidak bersamamu. Setiap kali melihatmu, hati Renata pasti akan sakit karena terus mengingat kejadian hari ini. Kau adalah penyebab meninggalnya calon anakmu, Bima!" Aldrian menatap tajam ke arah Bima yang langsung terdiam.
"Aku tidak yakin kalau Renata akan memaafkanmu dengan mudah. Jangan lupakan juga, kalau kau sudah menyebabkan Bu Yati terbaring di ICU sekarang."
"Sampai sekarang, keadaan mertuamu itu masih kritis. Apa menurutmu, kau masih punya kesempatan untuk bersama Renata setelah apa yang terjadi hari ini karena ulahmu?" Aldrian mengepalkan tangannya menahan amarah.
Sementara Bima masih terdiam. Adegan kecelakaan yang terjadi beberapa jam lalu itu kembali terlintas.
"Lepaskan Renata, Bima. Bukankan sebentar lagi kau juga akan segera bercerai dengannya?" Devan ikut menimpali perkataan Aldrian. Pria itu juga tidak rela seandainya Bima terus bersama dengan Renata.
Laki-laki itu hanya bisa membuat Renata terluka.
__ADS_1
"Kalian berdua jaga dia. Langsung hubungi aku jika terjadi sesuatu."
Aldrian mengangguk mendengar ucapan Devan. Sementara Bima masih terdiam membayangkan kejadian yang menimpa Renata hari ini.
Devan kemudian keluar dari ruangan itu. Bima menghempaskan tubuh lelahnya. Sekujur tubuhnya yang terluka akibat pukulan Aldrian terasa nyeri.
"Sebaiknya kau pulang dulu. Mandi dan ganti bajumu, Bim."
"Aku tidak mau pulang. Aku udah hubungi Mang Udin agar dia ke sini sambil bawa baju ganti." Bima bangkit, kemudian mendekati Renata yang masih memejamkan matanya.
Tangannya bergerak membelai rambut Renata yang tidak tertutup perban.
"Maaf! Maafkan aku. Gara-gara aku, kamu jadi seperti ini." Bima mendekatkan bibirnya ke wajah perempuan itu.
"Maaf!" Air mata Bima mengalir ke pipinya. Bibirnya kembali menempel di kening Renata. Air matanya mengalir ke wajah Renata yang masih memejamkan matanya.
Aldrian menatap Bima. Laki-laki itu masih marah karena Bima sudah menyebabkan Renata seperti itu.
"Aku akan melakukan apa pun agar aku bisa bersama Renata kembali meskipun aku harus bersujud untuk meminta maaf padanya. Bukankah kau bilang kalau Renata mencintaiku?"
Aldrian tersenyum mengejek.
"Setelah semua yang terjadi hari ini, aku tidak yakin kalau dia masih tetap mencintaimu."
Bima menatap Aldrian dengan kesal. Pria itu bangkit saat terdengar suara ketukan pintu. Mang Udin muncul di depan pintu sambil membawa paper bag berisi pakaian Bima dan Aldrian.
Mang Udin juga membawakan mereka makanan. Dia yakin, kedua laki-laki itu pasti belum makan.
Setelah menyiapkan makanan di atas meja, Mang Udin mendekati Renata. Ia sudah lama tidak bertemu dengan Renata semenjak gadis itu tinggal di rumahnya sendiri.
Kini, setelah bertemu, Mang Udin justru melihat Renata terbaring tak berdaya.
"Cepat sembuh, Ren, aku tahu kamu perempuan yang kuat. Kamu pasti bisa melewati ini semua."
__ADS_1
***
Renata baru saja membuka matanya. Wajahnya meringis menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Netranya tak sengaja menatap wajah tampan yang kini tertidur di depannya. Bima duduk di kursi yang menghadap ke arah ranjang, laki-laki itu meletakkan kepalanya di sisi ranjang dengan wajah yang menghadap ke arah Renata.
Kedua mata Renata berkaca-kaca saat melihat pria di depannya itu. Semua kejadian sebelum kecelakaan sampai akhirnya kecelakaan itu terjadi kembali terlintas di kepalanya.
Renata mulai terisak, membuat Bima yang baru saja memejamkan mata langsung terbangun.
"Kamu sudah sadar?" Bima menatap Renata dengan senyum mengembang di bibirnya. Tangannya bergerak ingin membelai wajah Renata, tetapi, perempuan itu tiba-tiba berteriak.
"Pergi!"
"Ren-"
"Pergi!"
"Pergi dari hadapanku!"
"Rena-"
"Pergi!"
"Aku tidak ingin melihatmu!"
.
Bersambung ....
Baca juga karya temen aku yang satu ini yuk! Keren banget loh ceritanya ....
__ADS_1