
Renata mengusap perutnya yang terasa kenyang setelah memakan bakso beranak yang dibelikan Aldrian dan rujak buatan ibunya.
Sementara Aldrian dan Bi Yati menatap Renata dengan pandangan tak percaya. Namun, dalam hati Bi Yati mencurigai sesuatu.
Beberapa hari ini, Renata memang seringkali meminta dibuatkan rujak. Putri kesayangannya itu juga sekarang suka sekali makan. Renata bahkan sering memesan makanan lewat jasa online saat dia melihat iklan makanan di televisi ataupun ponselnya.
Renata seperti orang mengidam karena menginginkan segala sesuatu yang dia lihat.
Mengidam?
Apa benar Renata sedang mengidam?
Bi Yati menatap Renata yang saat ini sedang tersenyum.
Kalau benar Renata hamil, bagaimana dengan gugatan cerainya?
"Kau benar-benar hebat. Bisa menghabiskan dua porsi makanan sekaligus." Aldrian menatap Renata tak percaya.
"Aku kebetulan sedang lapar. Makanya aku habiskan semua makanannya." Renata mengusap perutnya.
"Sepertinya, akhir-akhir ini kau sedang banyak pikiran. Kau akan makan banyak kalau lagi kesal. Benar kan?"
Renata menghembuskan napas panjang.
__ADS_1
"Kau tidak mau bercerita padaku?" Aldrian menatap Renata sambil mengusap kepala perempuan itu.
"Aku stres berat." Renata kembali menghembuskan napas panjang. Perempuan itu seolah sedang mengeluarkan semua beban berat di hatinya.
Bi Yati meninggalkan Renata dan Aldrian. Perempuan paruh baya itu tahu, putrinya saat ini butuh teman curhat selain dirinya.
Selama ini, Tuan Muda Aldrian memang sangat dekat dengan Renata. Aldrian sangat berbeda dengan Bima, meskipun mereka sama-sama keturunan Abimanyu, tetapi mereka berdua sangat berbeda.
"Kamu stres karena akan segera bercerai dengan Bima?"
Aldrian menatap Renata dengan perasaan iba. Ikut prihatin dengan nasib wanita cantik di depannya itu. Di usianya yang masih sangat muda, sebentar lagi Renata akan menjadi janda.
Ah! Seandainya saja Tante Erika menjodohkan Renata dengannya, mungkin nasib Renata tidak akan seperti ini.
"Hanya ini satu-satunya jalan terbaik agar aku bisa melupakan dia dengan mudah. Aku tidak mungkin terus bertahan di tengah-tengah hubungan mereka. Kau sangat tahu bukan, kalau Bima sangat mencintai Shinta?"
"Pria itu bahkan tidak memedulikanku sama sekali saat Shinta datang ke rumah dan akhirnya mengetahui kalau kita sudah menikah."
"Saat itu Bima terlihat sangat panik dan ketakutan melihat kemarahan Shinta." Renata kembali mengingat pertengkarannya dengan Bima. juga Shinta saat itu.
"Dia tidak ingin menyakiti Shinta, tapi dia tidak memedulikanku sama sekali. Padahal, sebelum Shinta datang, dia baru saja memintaku untuk memperbaiki semuanya. Bima tidak terima saat aku menggugat cerai dirinya." Renata tersenyum getir.
"Aku tidak ingin terus terluka karena masih nekad untuk berada di sisinya."
__ADS_1
"Tinggal bersama dengan orang yang kita cintai, tetapi tidak mencintai kita adalah hal yang sangat bodoh. Aku tidak ingin membuang masa mudaku sia-sia dengan terus berada di sisinya ...." Renata menangis setelah mengungkapkan semua isi hatinya.
Aldrian menghembuskan napas panjang, kemudian meraih perempuan yang sedang menangis itu ke dalam pelukannya.
"Keputusanmu sudah benar. Meskipun sangat menyakitkan, tapi daripada kamu terus tersiksa, lebih baik kamu lepaskan saja." Renata semakin menangis mendengar kata-kata Aldrian.
"Tenanglah! Masih ada aku dan ibumu yang akan selalu mendukungmu. Aku yakin, kau wanita yang kuat, kamu pasti bisa melewati semuanya."
Isak tangis Renata terdengar. Perempuan itu mengeluarkan rasa sesak yang dia tahan selama ini.
Sesungguhnya, dalam hatinya yang paling dalam, melepaskan Bima adalah hal yang sangat menyakitkan. Namun, akan lebih menyakitkan jika dia memaksa tetap bertahan dengan pria itu.
"Jadi benar, alasanmu ingin segera bercerai denganku adalah dia?"
Renata dan Aldrian melepaskan pelukannya saat terdengar suara lantang di depan mereka.
"Bima?" Aldrian dan Renata berucap bersamaan.
"Kenapa? Apa kalian terkejut melihat kedatanganku?"
Bersambung ....
Jangan lupa mampir di karya temen Author yang satu ini. Ceritanya juga nggak kalah seru loh!
__ADS_1