MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 44 AKU MEMBENCIMU!


__ADS_3

"Brengsek!" umpat Renata.


"Kenapa kau tidak membiarkan aku mati saja?" Habis sudah rasa hormat Renata pada pria itu. Tidak ada lagi kata saya yang biasa dia ucapkan setiap kali berbicara dengan tuan muda sekaligus suaminya itu.


"Apa maksudmu, Renata? Jadi kau lebih baik mati daripada menyerahkan mahkotamu itu pada suamimu? Atau jangan-jangan, kau lebih suka memberikannya pada bajingan yang telah dengan sengaja memberimu obat itu?" Bima yang sedari tadi mencoba bersabar akhirnya terpancing emosinya mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Renata.


Napasnya naik turun menahan amarah yang siap meledak. Sementara di balik selimut, kedua tangan Renata terkepal erat.


"Kau pikir aku perempuan murahan? Memberikan kesucianku pada semua orang? Aku bukan dirimu!"


"Renata!"


"Aku bukan dirimu yang begitu mudah memberikan sesuatu yang seharusnya menjadi milik istrimu pada perempuan yang belum sah menjadi istrimu!"


"Apa maksudmu, Renata?"


"Kau dan Shinta! Kalian berdua bahkan sudah melakukannya sebelum kalian menikah bukan?" Rahang Bima mengeras mendengar ucapan Renata.


"Apa yang aku lakukan dengan Shinta, semua adalah urusanku, Renata. Tidak ada hubungannya denganmu! Kami berdua saling mencintai. Kami melakukannya karena kebutuhan kami sebagai dua orang dewasa yang saling menyukai satu sama lain. Jadi kau tidak berhak mengguruiku!"


Renata meremas selimut yang menutupi tubuh polosnya. Kata-kata yang keluar dari mulut pria yang masih bersemayam di hatinya itu bagai air garam yang mengguyur luka hatinya yang menganga.

__ADS_1


Rasanya sungguh sakit. Sekeras apapun dia mencoba melupakan pria itu, tetap saja, dia masih begitu angkuh bertahta di hatinya.


"Kalau begitu, ceraikan aku dengan segera!" Renata menatap tajam ke arah Bima.


"Renata, kau ...." Melihat kebencian yang terpancar di kedua mata Renata membuat hati Bima bergetar. Sejenak pria itu terpaku, tatapan kebencian Renata serasa menusuk dinding hatinya.


Ada apa denganku? Kenapa aku sangat kesal saat melihat sorot kebencian di kedua matanya?


"Aku tidak mungkin menceraikanmu sekarang. Apalagi, setelah semalam kita melakukannya!" Bima menatap tajam ke arah Renata yang tampak terkejut sekaligus marah.


"Aku tetap ingin bercerai denganmu! Aku tidak peduli dengan apa yang sudah terjadi semalam!" teriak Renata tak kalah lantang.


"Kenapa, Renata? Apa kau benar-benar menyesal karena sudah memberikannya padaku? Apa sebegitu bencinya kau terhadap suamimu sendiri?" Tatapan Bima tak kalah tajam. Pria itu benar-benar marah mendengar ucapan Renata.


"Apa selama ini kau menganggapku sebagai istrimu? Kau sendiri yang mengatakan kalau istrimu satu-satunya hanyalah Shinta! Apa kau sekarang sedang mencoba melupakan semua ucapanmu?"


Bima mengehembuskan napas panjang. Apa yang dikatakan oleh Renata memang benar adanya. Akan tetapi ... berdebat dengan Renata memang tidak akan pernah menang. Apalagi, saat ini Renata dan dirinya sama-sama sedang dikuasai oleh amarah.


"Aku akan membantumu membersihkan tubuhmu." Bima naik ke atas ranjang mendekati Renata yang masih terbaring sambil menyandarkan kepalanya.


"Jangan menyentuhku!"

__ADS_1


"Aku hanya ingin membantumu, Renata. Aku yakin saat ini kau tidak bisa bangun karena semalam kau begitu bersemangat, padahal itu adalah pengalaman pertamamu."


"Abimanyu!" Bima tersenyum smirk mendengar teriakan Renata.


"Jangan mendekat! Jangan menyentuhku!" Bima tidak memedulikan teriakan Renata.


Pria itu tetap mendekati Renata yang terus berteriak dan mengumpat padanya.


"Jangan menyentuhku, Abimanyu!" Renata terus berontak saat Bima berhasil membopong tubuhnya.


"Lepaskan aku! Lepaskan aku, brengsek!"


"Aku membencimu, Bima, aku benar-benar membencimuu ...!"


Renata terus berteriak bahkan menangis. Namun, Bima tidak memedulikannya. Pria itu terus mengangkat tubuh Renata masuk ke dalam kamar mandi.


"Bima brengsek! Lepaskan aku!"


"Aku benar-benar sangat membencimu!"


Rasa sakit di seluruh tubuhku tidaklah seberapa dibandingkan rasa sakit di hatiku, Bima.

__ADS_1


Aku tidak pernah menyangka, kalau rasa cinta yang kumiliki untukmu secara diam-diam, bisa membunuhku secara perlahan.


Bersambung ....


__ADS_2