MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 37 CERAIKAN SAYA SECEPATNYA


__ADS_3

"Apa-apaan Tuan ini? Kenapa berhenti mendadak?" teriak Renata. Netranya berkeliling menatap ke jalanan.


Untung saja jalan yang mereka lewati tidak terlalu padat hingga apa yang dilakukan oleh Bima tadi tidak membahayakan pengemudi lain.


Sementara Bima menatap tajam ke arah Renata. Entah mengapa, saat mendengar kata cerai keluar dari mulut Renata, Bima merasa sangat kesal.


"Apa maksud ucapanmu?"


"Apa? Ucapan yang mana? Saya hanya bertanya pada Tuan kenapa tiba-tiba Tuan menghentikan mobilnya dengan mendadak?" Renata masih berteriak kesal.


"Bukan yang itu. Tapi ucapan yang tadi!" Bima masih menatap tajam ke arah Renata.


Belum sempat Renata menjawab pertanyaan Bima, dari arah belakang terdengar bunyi klakson mobil bersahutan menyuruh mobil mereka agar segera jalan.


Mereka baru menyadari kalau mobil mereka telah menyebabkan kemacetan.


Dengan perasaan yang masih kesal, Bima kembali melajukan mobilnya menuju tempat kerja istrinya.


Di dalam mobil, mereka berdua kembali terdiam. Renata masih dengan kekesalannya sementara Bima dengan kemarahannya. Entah mengapa dia merasa marah mendengar kalimat cerai yang keluar dari mulut perempuan itu.


Cerai? Jangan harap kau bisa dengan mudah bercerai denganku. Apalagi, jika alasan bercerai itu karena kau ingin bersama Aldrian!


Bima mencengkeram setir mobilnya. Membayangkan kebersamaan Renata dengan Aldrian, membuat amarah Bima naik.

__ADS_1


Bima menghentikan mobilnya saat Renata menyuruhnya berhenti. Pria itu mencoba menetralkan deru napasnya yang memburu akibat amarah yang saat ini sedang menguasai hatinya.


Netranya tak sengaja melihat luka memar di kening Renata. Dia baru menyadari kalau Renata terluka akibat benturan kaca saat dirinya menghentikan mobilnya secara mendadak beberapa saat yang lalu.


Bima membuka kotak obat yang tersedia di dalam mobil.


"Kemarilah!" Renata yang sedari tadi menunduk tak berani menatap Bima, langsung mendongak saat mendengar perintah Bima.


Seperti biasanya, berdekatan dengan Bima adalah momen yang paling menyebalkan buat Renata. Bukannya apa-apa, dia selalu merutuki detak jantungnya yang menggila saat berada dengan jarak yang sangat dekat dengan pria itu.


Bima mengoleskan obat pada kening Renata.


"Maaf, tadi aku tidak sengaja." Bima menatap wajah cantik Renata yang kini juga sedang menatapnya.


Ada rasa nyaman saat dirinya bisa menatap Renata sedekat ini.


"Tuan ... bisakah Tuan menceraikan saya secepatnya?"


Renata memberanikan menatap pria yang saat ini masih menjadi pemilik hatinya. Sementara Bima tampak terkejut.


Kedua tangannya terkepal erat, raut wajahnya seketika berubah marah mendengar ucapan perempuan di hadapannya itu.


"Tuan, bisakah Tuan menceraikan saya secepatnya?" ulang Renata. Perempuan itu tidak peduli meskipun wajah pria itu terlihat menyeramkan karena marah.

__ADS_1


"Kenapa? Kau tidak sabar menunggu setahun-"


"Kenapa harus menunggu setahun?"


"Kenapa harus menunggu setahun kalau Tuan bisa melakukannya sekarang juga," potong Renata cepat. Dia seolah sengaja tidak ingin memberikan Bima kesempatan untuk bicara.


"Saya masih muda. Saya tidak mungkin terus terjebak pada pernikahan yang hanya menyakiti hati saya." Renata kembali melanjutkan ucapannya tanpa berpaling pada wajah tampan Bima yang semakin memerah karena marah.


"Tuan jangan khawatir, saya sudah bicara sama ibu juga seluruh keluarga saya di kampung kalau kita akan bercerai secepatnya."


Kedua tangan Bima semakin mengepal.


"Ceraikan saya secepatnya Tuan, agar saya bisa bebas dan Tuan juga bisa menjalani pernikahan Tuan dengan bahagia bersama Nona Shinta."


Renata masih menatap wajah penuh amarah Bima.


"Bukankah Tuan tidak pernah menyukai saya dan hanya menganggap saya sebagai seorang pembantu? Jadi, ada atau pun tanpa saya, itu tidak akan berpengaruh buat Tuan, bukan?"


"Saya sudah membicarakan perceraian kita dengan pengacara keluarga Tuan Bima. Saya bilang padanya, kalau saya tidak ingin membuat Tuan menderita karena terpaksa menikah dengan saya."


"Saya-"


"Kau terlalu banyak bicara, Renata!"

__ADS_1


Bima dengan amarah yang membara menarik tubuh Renata, kemudian membungkam mulut perempuan itu dengan bibirnya.


Bersambung ....


__ADS_2