MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 90 JANGAN MENEMUI KAKAKKU


__ADS_3

Devan sampai di rumah sakit. Pria itu berlari sambil menggendong Renata. Beberapa petugas menyambut kedatangan pria.


Para petugas medis membawa Renata ke ruang gawat darurat. Sementara Devan tidak ikut menangani Renata karena ia dalam kondisi penuh amarah.


Devan khawatir kalau dirinya tidak bisa menangani Renata dengan maksimal karena emosinya sedang tidak stabil.


Pria itu mengusap wajahnya kasar. Untung saja ia dan Aldrian tidak terlambat, kalau tidak, entah apa yang terjadi pada Renata.


Entah apa yang ada dalam pikiran Bima sampai-sampai dia tidak berpikir panjang untuk membawa Renata pergi. Pria itu bahkan sengaja mengunci kedua adik Renata di dalam kamar.


Rangga menelepon dan memberitahukan padanya kalau Bima datang ke rumah. Bima mengunci Damar dan Rangga di dalam satu kamar setelah Rangga melarangnya membawa Renata.


Rangga tidak menyadari kalau Bima mengambil kunci kamarnya. Sementara itu, Damar yang sedang tertidur tidak menyadari kedatangan Bima.


Semoga saja tidak terjadi sesuatu pada Renata.


Devan menghela napas panjang. Wajah tampannya terlihat khawatir dan panik.


'Seandainya kau sudah tidak punya ikatan dengan Bima, aku pasti akan membawamu pergi jauh dari pria itu.'


'Aku benar-benar tidak tega melihatmu menderita seperti ini.'


***


Aldrian masuk ke dalam rumah Renata pria itu kemudian membuka pintu kamar yang ditempati Rangga Damar yang sudah sedikit rusak karena dua pria bersaudara berkali-kali mendobraknya.

__ADS_1


Rangga dan Damar sudah berkali-kali mendobrak pintu itu, tetapi, pintu itu ternyata terlalu kuat untuk didobrak secara paksa.


Rangga keluar dari kamar dengan amarah yang memuncak. Apalagi saat kedua matanya melihat Bima yang berdiri di samping Aldrian. Dengan penuh amarah Rangga kemudian memukul Bima.


"Dasar brengsek! Sialan! Berani-beraninya kau ingin membawa kakakku!" Rangga berteriak kalap sambil terus memukul Bima.


"Hentikan, Rangga!" Aldrian dan Damar mencoba melerai perkelahian keduanya.


"Rasanya, aku benar-benar ingin melenyapkannya!" teriak Rangga.


Kedua tangannya dipegang oleh Damar. Sementara Aldrian memegangi Bima yang sudah babak belur.


"Seharusnya kau bisa berpikir dengan waras, Tuan Muda!"


"Bukan hanya ibuku, tetapi juga calon keponakanku, darah dagingmu!" Rangga kembali berteriak. Rahangnya mengeras, wajahnya merah padam.


Sementara Bima terdiam. Otak egoisnya tidak bisa mencerna apa yang dikatakan oleh Rangga. Dalam pikirannya, kenapa dia harus disalahkan?


Bukankah ia hanya ingin bertemu dengan Renata yang notabene masih sah sebagai istrinya?


Kedatangannya menemui Renata juga karena ia ingin meminta maaf dan memperbaiki semua kesalahannya. Bima ingin menebus semua kesalahannya terhadap Renata dengan merawat perempuan itu sampai sembuh.


Apa itu juga salah?


Bima ingin mengungkapkan perasaannya, tetapi ucapan Rangga selanjutnya membuatnya langsung bungkam.

__ADS_1


"Mbak Renata tidak ingin menemuimu karena setiap kali melihatmu hatinya terasa sakit. Sakit, karena ia tidak menyangka kalau orang yang dicintainya telah menjadi penyebab kematian perempuan yang melahirkannya!"


Rangga menatap Bima penuh kebencian. Selama ini, ia tidak mengira kalau kehidupan kakak tercintanya itu tidak bahagia, yang Rangga tahu dari ibunya, kakak perempuan satu-satunya itu menikah dengan pria yang menjadi majikannya.


Saat itu, Rangga dan Damar merasa bahagia dan bangga karena kakak cantiknya itu menikah dengan majikan tempat ibu dan kakaknya bekerja.


Namun, ia sungguh tidak menyangka kalau nasib kakaknya ternyata tidak seindah seperti yang ada dalam bayangannya selama ini.


"Aku minta maaf. Aku minta maaf karena aku sudah menjadi penyebab kematian ibu kalian. Tapi aku mohon, beri aku kesempatan agar aku bisa memperbaiki semuanya.


"Butuh waktu buat Mbak Renata untuk memaafkanmu, Tuan. Seharusnya Tuan mengerti, bukannya terus memaksa Mbak Renata untuk terus bersamamu."


Rangga menatap Bima penuh permusuhan. Sementara Bima terdiam. Mencoba mencerna semua kata-kata yang diucapkan oleh Rangga juga Aldrian.


"Jangan menemui kakakku sebelum dia pulih. Kalau tidak, aku tidak akan segan-segan menghajarmu!"


Bersambung ...



Kira-kira cocok tidak jadi Bima menurut kalian? Otor paling susah kalau nyari visual buat tokoh novel sendiri.


Saran dong? Kali aja ada yang cocok dijadikan visual Bima selain ini.


Tulis saran kalian di kolom komentar ya ❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2