MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 67 KEGUGURAN


__ADS_3

Devan menatap wajah Renata yang terlihat sangat pucat. Perempuan itu baru saja melewati masa kritisnya. Devan saat ini masih terbaring di ranjang pasien. Pria itu baru saja mendonorkan darahnya untuk Renata.


"Bagaimana keadaannya, Dok?"


"Sudah stabil. Semuanya berjalan normal kembali," jawab dokter yang sedari tadi memberi tindakan pada Renata.


"Bagaimana dengan janin dalam kandungannya?"


Dokter dengan nama tag Daniel itu tampak terkejut mendengar ucapan Devan.


"Dokter Devan tahu kalau dia sedang hamil?"


"Tadi siang dia adalah pasienku sebelum kecelakaan ini terjadi."


Dokter yang dipanggil Daniel itu hanya mengangguk dengan mulut membentuk kata O.


"Akibat benturan keras yang terjadi pada saat kecelakaan, janin yang dikandungnya tidak dapat bertahan. Perempuan ini mengalami keguguran."


Devan menghela napas panjang sambil menutup wajahnya.


"Sudah aku duga." Devan menatap ke arah Renata yang belum sadarkan diri. Laki-laki itu tidak berani membayangkan bagaimana reaksi Renata saat mengetahui kalau dirinya mengalami keguguran.


"Sepertinya, ada yang lebih mengkhawatirkan selain itu, Dok?" Dokter Daniel menatap ke arah Devan.


"Apa?" Devan menatap rekan dokternya itu dengan penasaran.


"Benturan keras di bagian tulang belakangnya." Dokter Daniel menatap Devan yang tampak terkejut.


"Maksud dokter, akibat benturan itu pasien bisa mengalami ...." Kedua mata Devan membola karena terkejut, sementara Dokter Daniel mengangguk pelan.


"Ya, Tuhan ...." Devan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Pria itu terlihat sangat khawatir.


"Sepertinya Dokter Devan sangat mengenal pasien ini."


"Dia temen saya, Dok, salah satu klien papa saya juga."


"Oh."


Dokter Daniel mengangguk.

__ADS_1


"Lakukan apa pun, agar dia bisa pulih, Dok. Saya tidak bisa membayangkan seandainya perempuan ini-"


"Oh, ya, Tuhan ... dia sudah kehilangan bayinya, ibunya kritis, dan sekarang, dia harus menghadapi kenyataan kalau-"


Dokter Daniel menepuk pundak Devan.


"Tenanglah! Kita semua akan berusaha sebaik mungkin untuk kesembuhan pasien.


Devan mengangguk, netranya menatap Renata yang terbaring tak berdaya di atas ranjang. Tubuh perempuan itu penuh luka yang sudah dibalut dengan perban.


Kau harus kuat, Renata. Aku janji, aku akan selalu berada di sampingmu sampai kau sembuh dan kembali pulih.


"Lakukan apapun yang terbaik untuk dia, Dok."


***


Pintu ruangan terbuka. Beberapa dokter keluar dari sana termasuk Devan. Sementara beberapa perawat sibuk mendorong brankar, memindahkan pasien ke ruang rawat inap.


Devan keluar dengan wajah lelah bercampur khawatir. Melihat keadaan Renata, membuat Devan perasaan pria itu . Namun, dalam hati Devan berjanji, akan menemani perempuan itu sampai sembuh.


Bima dan Aldrian mendekati Devan.


"Dia sudah melewati masa kritisnya. Sebentar lagi Renata akan dipindahkan ke ruang rawat inap."


"Syukurlah ...." Bima dan Aldrian menarik napas lega.


"Tapi ada kabar buruk buat kamu, Bim."


"Apa?" Bima menatap Devan dengan rasa khawatir.


"Istrimu keguguran."


"Apa?" Bima dan Aldrian berucap bersamaan.


"Renata keguguran? Apa maksudmu, Devan?" teriak Bima.


"Renata hamil?" Aldrian menimpali.


Kedua pria itu sangat terkejut mendengar kehamilan Renata.

__ADS_1


"Renata hamil sekitar sepuluh minggu, tetapi dia tidak menyadarinya. Saat kalian membawanya ke sini tadi siang, dia pingsan karena kelelahan dan stres. Mungkin dia stres karena memikirkan perceraiannya denganmu, Bim."


"Ya, Tuhan ...." Bima menggusar rambutnya kasar.


"Kenapa kau menyembunyikan kabar ini dariku. Kenapa kau tidak memberitahukannya dari awal kalau Renata hamil?" Bima menarik kerah baju Devan.


"Renata menyuruhku menyembunyikan kehamilannya. Dia tidak mau kamu mengetahuinya karena dia yakin kalau kamu pasti tidak akan percaya kalau dia hamil anak kamu."


"Apa?" Bima menatap Devan tak percaya.


"Renata mengatakan kalau kamu selalu mencurigainya punya hubungan dengan Aldrian. Kalau kamu tahu dia hamil, kamu pasti tidak akan mau mengakuinya." Devan menatap Bima sambil mengepalkan tangannya, saat rasa sakit mengalir ke ruang hatinya.


Mengingat tangis Renata tadi siang saat memohon padanya untuk tidak memberitahukan pada Bima tentang kehamilannya, membuat hati Devan berdenyut, ikut merasakan sakit yang dirasakan oleh perempuan yang diam-diam dicintainya itu.


"Renata tidak mau terluka saat mendengar kenyataan kalau kau tidak mau mengakui kehamilannya. Dia tidak tahan dengan kemarahanmu karena itu dia berniat ingin membesarkan anak itu sendirian setelah kalian bercerai," jelas Devan panjang lebar.


Sementara Bima tampak terkejut. Pegangan tangannya di kerah baju Devan mengendur. Laki-laki itu menggeleng tak percaya.


"Kau pasti bohong ...."


"Dia bilang, sebentar lagi kau juga punya anak dari perempuan itu, jadi dia yakin, kalau kau pasti tidak akan mau mengakui anak yang berada dalam rahimnya."


"Tidak mungkin ... tidak mungkin! Renata-"


"Dasar brengsek! Kau benar-benar bodoh, Bima!" Aldrian mendekati Bima kemudian langsung menghajar laki-laki itu.


"Kau membuat Renata dan ibunya kecelakaan karena kau lebih membela perempuan ****** itu dan sekarang, kau juga telah menyebabkan Renata keguguran. Kau membunuh calon anakmu sendiri, Bima! Apa sekarang kau puas?"


"Dasar brengsek!" Aldrian kembali memukul Bima.


"Kau terus saja menyakiti Renata, memangnya apa kesalahan gadis itu padamu?" teriak Aldrian. Ia sungguh tidak bisa membayangkan betapa hancurnya Renata saat dia tersadar nanti.


"Seharusnya dari awal kau tidak usah menyetujui pernikahan itu, Bima. Aku yakin, seandainya Tante Erika masih hidup, dia pasti akan sangat membencimu!"


"Brengsek! Kenapa aku harus punya saudara sepupu bodoh seperti dirimu?"


Bersambung ....


Aku bawain lagi satu karya yang nggak kalah bagus. Yuk, kepoin ... PENJARA CINTA MAFIA KEJAM punya Author Siti Fatimah

__ADS_1



__ADS_2