MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 74 MENINGGAL DUNIA


__ADS_3

"Aku tidak ingin melihatmu!"


"Pergi dari sini, pembunuh! Kau membunuh anakku!" Renata kembali berteriak.


"Renata." Bima menatap perempuan itu dengan rasa nyeri di hatinya.


Sepertinya, penderitaannya lengkap sudah. Semalam ia meratapi Shinta yang tega mengkhianatinya. Rasa sakit karena pengkhianatan itu belum hilang, tetapi pagi ini ia sudah harus merasakan sesak melihat Renata yang tidak ingin melihatnya.


Aldrian segera keluar dari kamar mandi saat mendengar teriakan Renata. Semalaman pria itu juga tidak pulang karena tidak ingin meninggalkan Renata bersama Bima.


Seolah merasa trauma karena saat kemarin ia meninggalkan Renata bersama Bima di rumah sakit ini, tiba-tiba insiden kecelakaan itu terjadi bahkan dalam waktu yang tidak lama setelah ia meninggalkan rumah sakit.


"Renata!" Aldrian mendekat Renata yang sedang menangis sambil berteriak. Sementara Bima yang menjadi sumber kemarahan Renata justru masih berdiri di sisi ranjang.


"Bima menyingkirlah! Apa kau tidak mendengar ucapannya?" Aldrian berteriak sambil menarik laki-laki bodoh di depannya kemudian mendorongnya.


"Kenapa kau tidak bisa sekali saja membuat Renata tenang?"


"Aku ingin bicara dengannya, Al. Aku ingin meminta maaf padanya!"


"Kau bisa mengatakannya nanti, dasar bodoh! Apa kau tidak lihat dia kesakitan saat berteriak padamu?" Bima memang benar-benar keterlaluan.


"Suruh dia pergi dari sini. Aku mohon ...." Renata terus menangis. Ia benar-benar tidak ingin melihat Bima. Bayangan saat pria itu tidak mempercayainya dan akhirnya membuat ia dan sang ibu kecelakaan, membuat dadanya terasa sesak.


Aldrian menatap iba pada Renata.


"Suruh dia pergi. Aku tidak ingin melihatnya. Dia sudah membunuh anakku. Aku tidak ingin bertemu dengan pembunuh itu, aku ingin dia segera pergi dari sini!"


"Renata-"

__ADS_1


"Pergilah, Bim. Turuti ucapan Renata kali ini saja."


"Tapi, Al, aku-"


"Kau bisa bicara dengannya nanti, dasar bodoh! Kenapa kau begitu keras kepala?" Aldrian menatap Bima yang masih berdiri di sana padahal sedari tadi Renata berteriak memintanya pergi.


Rasanya, Aldrian ingin sekali menghajar laki-laki itu, akan pikirannya kembali normal.


"Aku hanya ingin meminta maaf padanya, Al, apa itu salah?"


"Tidak salah! Kau hanya bodoh! Renata butuh waktu untuk bertemu denganmu. Setelah apa yang kau lakukan, tidak akan mudah baginya untuk melupakan semua perbuatanmu!"


"Brengsek!" Aldrian mengumpat kesal. Pria itu kemudian menarik tubuh Bima keluar dari ruangan itu.


Renata terus menangis. Kedua netranya menatap Aldrian dan Bima yang sedang berdebat karena pintu kamar inap itu dibiarkan terbuka.


"Apa kau ini tidak punya otak? Kau bisa membahayakan Renata, bodoh!"


Aldrian melayangkan tinjunya ke wajah Bima saat mendengar ucapan pria itu. Aldrian benar-benar kesal dan marah.


Kenapa Bima sangat keras kepala dan begitu menyebalkan? Tidak bisakah dia melihat situasi?


"Kenapa kau senang sekali memukulku?" teriak Bima kesal.


"Karena kau sangat keras kepala dan menyebalkan! Istrimu baru saja sadar. Dia baru mengalami sesuatu yang membuatnya trauma, sebagai penyebab semua yang dialami oleh Renata, kau seharusnya tahu diri bukan malah menambah kesedihannya!"


Bima langsung terdiam mendengar ucapan Aldrian.


"Tidak bisakah kau mengalah sedikit saja pada Renata? Aku yakin, saat ini perempuan itu pasti sangat menderita karena ulahmu!"

__ADS_1


"Aldrian!" Aldrian dan Bima menoleh ke arah suara secara bersamaan. Napas mereka naik turun akibat menahan amarah yang sama-sama menguasai hati mereka.


Devan berlari ke arah Aldrian dan Bima dengan wajah cemas.


"Ada apa Devan? Kenapa kau terlihat panik?" Aldrian menatap Devan dengan wajah penasaran.


"Bu Yati, Al!" Suara Devan terdengar ngos-ngosan karena dokter tampan itu baru saja berlari sepanjang koridor menuju kamar inap Renata.


"Ada apa dengan Bu Yati?" teriak Aldrian ikut panik.


"Beberapa menit yang lalu Bu Yati kritis, dan sekarang-"


"Sekarang apa?" Bima juga terlihat tidak sabar.


"Kami, tim dokter sudah berusaha, tapi Bu Yati tidak bisa diselamatkan. Dia meninggal dunia."


"Apa?"


Aldrian dan Bima berteriak bersamaan. Sementara dari dalam kamar, Renata berteriak histeris.


"Ibuu ...!"


Ketiga pria tampan itu terkejut. Mereka tidak menyadari kalau pintu kamar itu terbuka dan Renata sudah mendengar semuanya.


"Renata!"


Bersambung ....


__ADS_1


"


__ADS_2