
"Renata!"
Renata yang baru saja selesai mandi, bergegas keluar hanya dengan memakai bathrobe.
"Renata!" Bima kembali berteriak marah.
"Ada apa? Kenapa Tuan berteriak?"
Bima melempar surat gugatan cerai itu di depan Renata.
"Apa-apaan ini? Kenapa tiba-tiba aku sudah mendapatkan surat ini?"
Renata mengambil amplop yang tadi sempat melayang ke wajahnya.
Dengan cepat Renata membuka amplop itu. Bibirnya tertarik ke atas saat mengetahui isi dalam amplop itu.
Ternyata harimau ini marah besar karena mendapat surat panggilan sidang gugatan cerai.
Renata tersenyum smirk.
"Apa-apaan ini, Renata?"
"Di sana sudah tertulis surat panggilan dari persidangan. Memangnya kurang jelas?"
__ADS_1
"Renata ...." Bima mencoba menahan emosinya. Kedua tangannya terkepal erat.
"Aku sudah bilang padamu, aku ingin memperbaiki semuanya dan aku juga tidak akan pernah menceraikanmu!" Wajah Bima memerah. Amarahnya memuncak.
Bagaimanapun, dia tidak akan melepaskan Renata dengan mudah apalagi kalau Renata harus jatuh ke tangan Aldrian. Dia memang akan menceraikan Renata, tetapi nanti, setelah usia pernikahan mereka satu tahun.
"Aku sudah bilang kalau aku akan menceraikanmu setelah pernikahan kita genap satu tahun, tapi kenapa kau tidak mengerti juga?" Bima kembali berteriak marah.
"Apa bedanya sekarang atau satu tahun nanti, Tuan? Sekarang atau pun nanti, tetap saja, ujung-ujungnya kita akan bercerai!" Renata tidak kalah tajam menatap pria itu.
Selama ini, hampir setiap hari dia terus mencoba melupakan pria itu dan menghapus nama laki-laki itu dari hatinya.
Renata sadar, sebesar apapun cinta yang dimilikinya untuk pria itu, tetap saja Bima tidak akan pernah melihatnya sama sekali. Meskipun semenjak kejadian malam itu sikap Bima terkadang baik, tetapi Renata tidak ingin terlena.
"Aku tidak akan pernah menyetujui perceraian ini, Renata, tidak akan pernah!"
"Tuan!"
"Aku hanya mempermudah agar Tuan bisa hidup bahagia dengan Nona Shinta, tetapi kenapa Tuan tidak mengerti juga? Apa perlu, saat ini aku mengatakan pada istri tercintanya Tuan, kalau aku adalah istri pertama Tuan muda?"
"Tuan hanya tinggal datang ke pengadilan dan menyetujui gugatan cerai itu, setelahnya, hubungan kita selesai. Lagipula, bukankah hubungan kita ini hanya di atas kertas?"
"Renata!" Bima menarik tubuh perempuan itu. Tangannya bergerak mencengkeram rahang Renata.
__ADS_1
"Dengar baik-baik! Aku tidak akan pernah menceraikanmu! Tidak akan pernah! Apalagi kalau alasanmu bercerai adalah Aldrian!" Bima menatap tajam ke arah Renata. Bola matanya memindai wajah cantik itu.
Mungkin memang benar, dulu Buma menganggap kalau pernikahan mereka adalah pernikahan di atas kertas. Namun, seiring berjalannya waktu, entah mengapa Bima berubah pikiran.
Kedua mata Renata berkaca-kaca. Perempuan itu meringis, merasakan sakit.
Melihat Renata kesakitan, Bima melepaskan cengkeraman tangannya. Pria itu melayangkan tinjunya pada tembok, tepat di sebelah wajah Renata.
Renata memejamkan matanya, ia sungguh terkejut melihat reaksi Bima.
'Bukankah laki-laki di depannya ini tidak menginginkannya? Lalu kenapa dia harus marah? Bukankah ini yang dia inginkan? Dia bahkan pernah mengatakan kalau dia ingin menceraikan aku di hari pertama pernikahan kita, tetapi, kenapa dia marah besar saat aku ingin bercerai darinya?'
"Bisakah kau sekali saja menuruti keinginanku, Ren?" Bima menatap wajah cantik Renata. Pria itu mencoba mengendalikan emosinya.
"Tidak bisakah kita berdamai dan menjalani pernikahan ini dengan benar? Aku ...." Bima tidak melanjutkan ucapannya saat melihat perempuan di depannya itu menangis.
"Bukankah kau sendiri yang mengatakan akan memenuhi wasiat ibuku? Lalu, kenapa sekarang kau menyerah?"
Renata memejamkan mata mendengar ucapan Bima. Air matanya mengalir seiring rasa sakit di hatinya. Seketika, bayangan Nyonya Erika saat di rumah sakit terlintas.
"Dari awal aku ingin berjuang, tapi saat aku melihat kau menikah lagi dan dengan jelas tidak menginginkan aku, aku berhenti berjuang. Aku tidak ingin jatuh ke dalam jurang yang nantinya hanya akan membuatku semakin terluka dalam."
Aku mencintai, Bima, karena itulah, aku tidak ingin terus bersamamu.
__ADS_1