MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 58 HAMIL


__ADS_3

Mobil Aldrian sampai di depan rumah sakit. Laki-laki itu turun dan bergegas membukakan pintu mobil untuk Bima agar dia bisa segera membawa Renata masuk ke dalam rumah sakit.


Bima berlari sambil menggendong tubuh Renata. Pria itu begitu panik, padahal ia sering mengklaim kalau dirinya tidak pernah peduli pada Renata, tetapi saat melihat Renata terlihat lemah seperti itu, sudut hatinya terasa nyeri.


Beberapa pria berseragam putih-putih berlari mendorong brankar setelah Bima membaringkan tubuh Renata di sana.


Bima, Aldrian dan Bi Yati mengikuti mereka dari belakang. Mereka bertiga berhenti di depan pintu ruang IGD saat para petugas medis itu membawa Renata masuk ke dalam ruangan itu.


Aldrian memeluk Bi Yati yang terlihat menangis. Seorang dokter terlihat terburu-buru masuk ke ruang IGD sesaat, setelah Renata berada di ruangan itu.


"Semoga Renata baik-baik saja." Bi Yati menangis di pelukan Aldrian.


"Kita berdoa saja semoga Renata baik-baik saja." Aldrian memeluk perempuan paruh baya itu.


Sementara Bima terlihat khawatir. Laki-laki itu meremas rambutnya sambil menghembuskan napas panjang. Mencoba mengusir rasa panik yang menyerangnya. Apalagi, saat bayangan sang ibu berkelebat di matanya.


Semua janji yang Bima ucapkan pada Nyonya Erika untuk menjaga Renata dan menjadi suami yang baik untuk perempuan itu.


Ibu, maafkan aku karena aku belum memenuhi janjiku pada ibu ....


Beberapa menit kemudian, seorang dokter keluar dari ruang IGD. Dokter itu adalah dokter laki-laki yang beberapa saat lalu berlari masuk ke ruang IGD sesaat setelah Renata masuk ke ruangan itu.


"Devan." Bima dan Aldrian berucap berbarengan.


Devan tersenyum menatap dua pria tampan di depannya.


"Hai Bim, Al." Devan bersalaman dan memeluk kedua pria itu.


Devan memang mengenal mereka berdua. Bima dan Aldrian adalah teman Devan saat masih SMA. Mereka sudah saling mengenal cukup lama. Namun, akhirnya mereka berpisah setelah mereka bekerja.


"Nak Devan ...." Bi Yati mendekati dokter tampan itu.


"Bagaimana keadaan Renata?" Ucapan Bi Yati mewakili pertanyaan kedua pria di sampingnya.

__ADS_1


"Renata baik-baik saja. Dia hanya kelelahan." Devan memeluk perempuan paruh baya itu.


"Kau mengenal Bi Yati? Eh, maksudku Bu Yati?" Bima meralat ucapannya sambil melirik sang ibu mertua.


"Aku pernah datang ke rumah Ibu Yati saat mengantarkan papa."


"Ke rumah Renata?" Bima tampak terkejut. Sementara Devan mengangguk.


"Bagaimana keadaan Renata? Apa dia baik-baik saja?" Bima mengulang pertanyaan Bu Yati.


"Istrimu baik-baik saja." Devan tersenyum sambil menepuk pundak Bima yang tampak terkejut sambil tersenyum canggung.


"Aku-"


"Aku sudah tahu semuanya dari papa." Devan kembali tersenyum.


"Kau tidak berbohong, kan, Dev?" Bima menatap Devan sambil menutupi kegugupannya. Merasa tidak enak karena pria di depannya itu mengetahui pernikahannya dengan Renata juga Shinta.


"Untuk apa aku berbohong?" Devan tertawa kecil.


Mereka bertiga mengangguk.


"Terima kasih, Dev." Deva mengangguk kemudian berpamitan pada ketiga orang itu.


Devan menarik napas panjang saat bayangan Renata kembali terlintas. Saat di ruang IGD tadi, Renata sudah tersadar dari pingsannya.


"K-kamu-"


"Devan. Aku Devan. Aku pernah datang ke rumahmu dengan papa saat kau ingin membahas tentang-"


"Perceraian?"


"Hmm ...."

__ADS_1


"Apa kau akan tetap melanjutkan perceraianmu? Renata menatap wajah tampan Devan.


"Sepertinya itu bukanlah urusan Dokter." Renata menatap Devan dengan perasaan tidak suka. Wajah pucatnya terlihat kesal.


"Maaf! Bukannya mau ikut campur, tapi-"


"Tapi apa, Dok? Seharusnya Dokter tidak membahas masalah pribadi di sini. Seharus-"


"Kamu hamil."


"A-apa?" Kedua mata Renata membola mendengar ucapan dokter tampan itu.


"Usia kandunganmu sudah lebih dari delapan minggu. Kamu bisa-" Devan menghentikan ucapannya saat melihat perempuan yang dikaguminya itu menggelengkan kepalanya sambil menangis.


"Tidak mungkin ... aku tidak mungkin hamil. Aku tidak mungkin hamil, aku ...."


"Tenanglah! Kamu harus tenang, Renata." Devan mendekati perempuan itu.


"Kamu tidak boleh stres karena itu akan membahayakan janin-"


"Tolong rahasiakan ini dari siapapun. Aku mohon ...."


"Tapi, Ren-"


"Aku mohon ...." Renata menatap Devan dengan kedua mata berkaca-kaca.


"Aku mohon ...."


Devan kembali menghela napas panjang sambil terus melangkah ke ruangannya. Bayangan Renata yang sedang menangis terus berputar dalam kepalanya.


Melihatmu menangis, membuat hatiku terasa sakit. Seandainya saja aku bisa, aku pasti akan melakukan apa pun untuk menolongmu agar kamu bisa segera keluar dari masalah yang sedang kau hadapi sekarang.


Bersambung ....

__ADS_1


Baca juga karya keren punya temen Author yuk!



__ADS_2