
Iren mendekati Renata yang kini sedang menangis di pelukan Aldrian.
"Sayang ...." Iren menyuruh Aldrian menyingkir dari hadapan Renata. Perempuan itu kemudian menggantikan Aldrian memeluk Renata.
" Sabar, Sayang ... ada Tante di sini." Iren menatap Renata dan mengusap pipi Renata yang basah oleh air mata.
"Tante Iren ... ibuku. Ibuku sudah tidak ada. Aku sudah tidak punya ibu." Renata kembali terisak sambil menatap Iren dengan air mata yang kembali mengalir di pipinya.
"Sekarang aku sudah tidak punya siapa-siapa. Aku sendirian ...."
"Sayang, ada Tante di sini, ada om juga. Kamu jangan khawatir, kami semua pasti akan selalu bersamamu. Begitupun Aldrian juga Devan. Kami semua akan selalu menemanimu." Iren ikut terisak, tak kuasa melihat kesedihan yang dirasakan oleh Renata. Perempuan yang masih terlihat cantik di usianya yang menginjak 55 tahun itu menangis, ikut merasakan kesedihan yang dirasakan oleh Renata.
"Aku ingin ibuku, Tante. Aku ingin bersamanya."
"Ibu kamu sudah tenang di sana. Sebaiknya kamu berdoa, semoga ibu kamu tenang dan bahagia di sana."
Ucapan Iren membuat Renata semakin menangis. Perempuan itu mendekatkan wajahnya di pelukan Iren.
Pak Dika mendekati Renata, sementara Devan dan Aldrian duduk di atas sofa sambil memperhatikan interaksi kedua orang tua itu.
"Pak Dika, bisakah urusan ceraiku dipercepat? Aku tidak mau bertemu dengan dia lagi," ucap Renata sambil menangis.
"Kau harus pulih dulu. Jangan memikirkan hal lain dulu." Pak Dika menatap Renata dengan iba.
__ADS_1
"Aku tidak ingin bertemu dengan dia lagi. Aku ingin segera bercerai dengannya!"
"Sabar, Sayang, setelah kamu pulih, kita akan membantumu agar segera terlepas dari laki-laki itu." Iren ikut menenangkan Renata.
"Aku tidak ingin bertemu dengan dia lagi. Dia sudah membunuh ibu juga anakku." Renata kembali menangis. Rasanya, ia benar-benar belum bisa menerima kenyataan kalau sang ibu sudah meninggal dunia.
"Tenanglah! Kami semua ada di sini untukmu." Iren mengusap rambut Renata. Air matanya ikut tumpah melihat keadaan gadis itu.
Renata adalah gadis yang baik. Bukan hanya baik, wajah perempuan itu juga sangat cantik meskipun dia hanya seorang asisten rumah tangga. Bi Yati berhasil mendidik anaknya dengan baik. Sang asisten rumah tangga yang bertahun-tahun mengabdi di rumah keluarga besar Abimanyu itu sangat beruntung mempunyai putri seperti Renata.
Namun, kini Bi Yati sudah tiada. Perempuan paruh baya itu meninggal dunia akibat kecelakaan. Iren kembali teringat video amatir detik-detik terjadinya kecelakaan yang menimpa Bi Yati dan Renata yang kini tersebar di dunia Maya.
Dalam video itu terlihat jelas saat Bi Yati mengejar Bima, hingga perempuan itu tidak memperhatikan jalan di sekitarnya.
Bima, aku yakin, saat ini kamu pasti sangat menyesali semua yang terjadi. Kau bukan hanya menjadi penyebab meninggalnya ibu Renata, terapi juga penyebab Renata kehilangan calon bayinya.
Iren mengusap air mata Renata. Perempuan itu masih terus menangis. Renata masih belum bisa menghadapi kenyataan kalau ibunya sudah meninggal dunia.
Sungguh malang nasib kamu, Ren. Semoga kamu tetap kuat menghadapi semua ini.
***
Kedua pemuda berparas tampan yang baru saja turun dari mobil itu disambut oleh Mang Udin di pintu gerbang.
__ADS_1
Mereka bertiga kemudian bergegas masuk ke rumah besar Abimanyu. Wajah kedua pemuda itu terlihat sedih, kedua mata mereka bahkan sudah sembab karena semenjak perjalanan dari kampung sampai ke kota itu, mereka berdua menangis dalam mobil yang mereka tumpangi.
Mang Udin yang saat itu panik saat ingin memberitahukan pada keluarga Renata tentang kematian ibunya, langsung mengatakan pada mereka kalau ibu mereka sudah tiada.
Seharusnya Mang Udin tidak mengatakannya terlebih dahulu agar mereka sedikit tenang saat di perjalanan.
Rangga dan Damar berlari saat melihat jenazah ibunya yang terbaring tertutup kain. Mereka berdua menangis saat membuka penutup kain dan melihat tubuh sang ibu yang sudah terbujur kaku.
Perempuan yang beberapa minggu kemarin berpamitan ingin menemani Renata, kakak mereka itu kini terbaring dalam keadaan tidak bernyawa.
"Ibu ... kenapa ibu meninggalkannya kita begitu cepat? Aku bahkan belum bisa membalas semua kebaikan ibu, aku belum membahagiakan ibu."
Damar, adik kedua Renata menangis. Begitupun Rangga, kakaknya. Mereka berdua memang sudah berjanji pada ibunya kalau mereka akan menyusul ke kota setelah ujian sekolah mereka selesai.
Namun, tidak disangka kalau mereka justru menemui sang ibu dalam keadaan seperti ini.
Rangga memeluk Damar. Pria berusia dua puluh tahun itu mencoba menenangkan adiknya yang begitu terpukul, sama seperti dirinya.
"Ibu ...."
.
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa baca karya temen Author yang satu ini ya, dijamin tak kalah seru deh, yuk, kepoin!