MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 63 BUKAN PELAKOR


__ADS_3

Aldrian mengambil ponsel di dalam sakunya. Pria itu kemudian merekam kedua sejoli yang sedang asyik bermesraan itu.


Aldrian berpura-pura memainkan ponselnya saat aktivitas dua sejoli itu terhenti. Aldrian segera berlalu dari tempat itu karena ia tidak ingin kedua orang itu memergokinya.


Panji dan Shinta menuju loket untuk melakukan pembayaran, berbarengan dengan Renata dan Bima yang juga saat ini sedang menuju ke sana.


Panji menyuruh wanita pujaannya itu duduk di kursi tunggu. Sementara itu, Renata yang baru saja datang bersama Bima juga menunggu Bima di kursi tunggu ditemani oleh ibunya.


Pandangan Shinta tak sengaja melihat ke arah Renata. Perempuan itu sejenak memperhatikan Renata yang duduk di atas kursi roda.


Wajah cantiknya tersenyum smirk, kemudian mendekati perempuan yang saat ini menjadi musuh sekaligus madunya.


"Perasaan, kemarin aku lihat kamu masih baik-baik saja, kenapa tiba-tiba saat ini kau duduk di kursi roda?" Shinta menatap Renata dengan tajam.


bibirnya tersenyum mengejek dengan aura permusuhan yang kentara.


Renata dan Bi Yati menghela napas panjang. Mereka berdua saling bertatapan, seolah memberi isyarat satu sama lain agar tidak meladeni perempuan arogan di depannya itu.


Renata sangat yakin kalau Shinta hanya ingin mencari masalah dengannya.


Kenapa aku harus bertemu perempuan iblis itu di sini?


Renata menghembuskan napas panjang. Perempuan cantik itu menatap ke arah Bima yang terlihat masih mengantre.


Merasa diabaikan, Shinta merasa geram. Netranya mengikuti arah pandang Renata. Amarahnya seketika naik saat ia melihat siapa yang saat ini sedang diperhatikan oleh Renata.


"Jadi kau datang bersama Bima?" seru Shinta dengan marah. Sementara Renata dan Bi Yati kembali saling menatap.


Bi Yati bangkit dari duduknya kemudian bermaksud mendorong kursi roda yang diduduki oleh Renata. Melihat kedua orang di depannyan itu terus mengabaikannya, membuat Shinta bertambah marah.


"Heh, pembantu! Apa kau tidak punya telinga sampai kau tidak mendengar apa yang aku ucapkan?" Kali ini Shinta benar-benar marah. Suara perempuan itu lumayan keras hingga beberapa orang yang berada di samping mereka menengok ke arah Shinta.


Renata dan Bi Yati bergegas meninggalkan Shinta. Bi Yati mendorong kursi roda dan bergegas keluar dari rumah sakit.


"Kita pulang duluan saja, Bu. Aku sedang tidak ingin berdebat dengan dia." Renata menatap sang ibu yang kini berada di belakangnya.


"Heh, pembantu! Mau kemana kamu? Aku belum selesai bicara. Dasar pelakor!" Bi Yati menghentikan langkahnya saat mendengar umpatan Shinta. Kupingnya terasa panas saat mendengar teriakan perempuan itu.


"Dasar pelakor!" seru Shinta, membuat para pengunjung rumah itu sedikit melihat ke arahnya.


"Biar saja, Bu, jangan pedulikan dia. Sebaiknya kita pulang, biar saja Bima yang mengurus." Bi Yati mengangguk kemudian segera mendorong kursi roda Renata.


Kedua perempuan itu bergegas keluar dari rumah sakit tanpa memedulikan teriakan Shinta. Beberapa orang yang mendengar teriakan Shinta mengingatkan perempuan hamil itu agar tidak berisik.


Melihat beberapa orang memprotes dirinya, Shinta bergegas keluar mengikuti Renata dan ibunya. Perempuan itu terus mengumpat.

__ADS_1


Renata dan Bi Yati sudah sampai di depan rumah sakit. Shinta yang masih marah mencekal tangan Bi Yati.


"Berhenti! Aku belum selesai bicara!"


"Tidak ada yang perlu dibicarakan di antara kita, Nona." Bi Yati menatap Shinta dengan kesal.


"Aku tidak sedang bicara denganmu, Perempuan tua!" teriak Shinta membuat Renata yang awalnya tidak ingin memedulikan perempuan itu kemudian bangkit dari duduknya.


Kepalanya terasa pusing. Bi Yati menggelengkan kepalanya. Perempuan paruh baya itu menuntun Renata.


Melihat mereka berdua terus mengacuhkannya, Shinta dengan kasar mendorong tubuh lemah Renata hingga perempuan itu terjatuh.


"Renata!" teriak Bi Yati panik. Perempuan itu segera membantu Renata bangun.


"Kau benar-benar keterlaluan, Nona!"


"Kalian yang keterlaluan! Kenapa kalian bisa pergi bersama Bima?" teriak Shinta dengan wajah memerah.


"Jawab, pelakor!"


"Putriku bukan pelakor!"


"Kalau bukan pelakor lalu apalagi sebutan yang pantas buat perebut suami orang seperti dia?"


"Dengar, Nona! Renata terlebih dulu menikah dengan Bima. Jadi, jika ada yang harus disebut pelakor, itu berarti Nona sendirilah pelakornya karena menikah dengan pria yang sudah menjadi suami Renata!"


Shinta yang sedang dikuasai amarah terus berteriak mengikuti Bi Yati dan Renata. Perempuan hamil itu kemudian mendorong tubuh Bi Yati hingga kedua orang itu terhuyung dan jatuh bersamaan.


"Aku sudah memperingatkanmu untuk menjauhi Bima dan tidak menemuinya lagi, tapi kenapa kau masih saja bertemu dengannya?" Shinta berteriak seperti orang kesetanan. Sementara Bi Yati dan Renata susah payah berusaha bangkit.


Renata mengepalkan tangannya. Kalau saja tubuhnya tidak terasa lemas, sudah pasti sedari tadi dia membalas perlakuan Shinta. Renata menatap wajah sang ibu yang meringis kesakitan.


Di sekitar mereka, orang-orang terlihat menonton mereka tanpa berniat menolong. Tragisnya lagi, di antara mereka bahkan sengaja merekam kejadian itu tanpa belas kasihan.


Renata berusaha bangkit, tubuhnya tidak bertenaga, sementara kepalanya terasa berdenyut hingga membuatnya hampir kehilangan keseimbangan.


Bi Yati pun bangun, perempuan paruh baya itu memegangi tubuh Renata. Sedangkan Shinta bak perempuan iblis yang terus menatap mereka dengan penuh kemarahan.


"Aku sudah memperingatkanmu, Renata! Jangan dekati Bi-"


"Aku tidak mendekatinya! Dia sendiri yang datang padaku!"


"Kau bohong! Bima sudah berjanji tidak akan menemuimu, dia tidak mungkin mengingkari janjinya karena dia mencintaiku!"


"Kalau kau tidak percaya, kau bisa tanyakan pada Bima. Dia sendirilah yang datang padaku!"

__ADS_1


"Kau!" Tangan Shinta bergerak ingin mendorong tubuh Renata dan menarik rambutnya. Namun dengan sisa tenaganya, Renata menghindar. Shinta yang terlalu bersemangat menggunakan semua tenaganya untuk mencelakai Renata, akhirnya hilang keseimbangan dan terjatuh.


"Renata! Apa yang kau lakukan?" Dari arah seberang, Bima berlari saat melihat Renata menarik tangan Shinta hingga perempuan yang dicintainya itu terjatuh.


Bima melihat kejadian itu dari belakang, hingga yang tampak oleh dirinya, Renata lah yang sedang menarik tangan Shinta hingga perempuan hamil itu terjatuh dengan posisi telungkup.


Shinta mengaduh kesakitan karena perut besarnya menghantam tanah dengan cukup keras. Sementara Renata dan Bi Yati sangat terkejut.


"Shinta! Shinta!" Bima dengan cepat mengendong tubuh Shinta.


"Kalau terjadi apa-apa pada Shinta, aku akan membuat perhitungan denganmu!" Bima menatap Renata yang masih tampak terkejut dengan apa yang terjadi.


"Aku tidak menyangka kalau ternyata kau adalah perempuan yang sangat jahat!"


"A-ku-"


"Bima, Renata tidak bersalah! Nona Shinta terjatuh sendiri saat ingin mendorong Shinta.


"Terjatuh sendiri? Aku jelas-jelas melihat dengan mata kepalaku sendiri kalau Renata menarik tangannya!" Bima berteriak.


"Bi-Bima, sakit ...." Suara rintihan Shinta membuat Bima makin meradang.


"Sabar, Sayang, kita ke rumah sakit sekarang." Bima terlihat marah sekaligus panik. Pria itu bergegas menuju rumah sakit dengan menggendong Shinta.


"Bima, Renata tidak bersalah, kau salah paham!" Bi Yati mencoba menjelaskan.


"Kalian berdua harus bertanggung jawab jika terjadi apa-apa pada Shinta!"


Bi Yati sangat terkejut mendengar teriakan Bima. Pria itu menyeberang jalan menuju rumah sakit.


"Bima! Kau harus percaya kalau Renata tidak bersalah!" Bi Yati masih terus berteriak. Perempuan paruh baya itu kemudian menyusul di belakang Bima tanpa memperhatikan jalan. Sebuah mobil melintas tepat saat Bi Yati menyeberang sambil berteriak memanggil Bima.


"Ibu ...!" Renata berteriak histeris saat melihat tubuh sang ibu terlempar ke jalanan. Kedua matanya membola, menatap tak percaya saat mobil itu dengan cepat menerjang tubuh perempuan yang melahirkannya itu.


Langkah Bima terhenti saat mendengar teriakan Renata dan bunyi benturan keras di belakangnya.


"Ibu ...!" Renata berlari mendekati tubuh Bi Yati. Namun naas, sebelum dia sampai mendekati tubuh ibunya yang terkapar di jalanan, dari arah kiri jalan sebuah mobil sedan melaju cepat menghantam tubuhnya.


"Renata!" Bima berteriak histeris saat dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan tubuh Renata terlempar ke tengah jalan.


"Renata!"


Bersambung ....


Sambil nunggu update baca juga karya temen Author yang satu ini

__ADS_1



__ADS_2