MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 41 KEMARAHAN ALDRIAN


__ADS_3

"Buka!"


Aldrian mengetuk kaca mobil dengan marah. Pikirannya kalut membayangkan seandainya terjadi sesuatu pada Renata seperti yang ada dalam pikirannya saat ini.


Panji membuka pintu mobil.


"Ada apa, Pak Aldrian? Kenapa-"


Aldrian menyeret tubuh Panji dari dalam mobil dan mendorong tubuh pria itu. Aldrian masuk ke dalam mobil dan mendapati Renata yang terlihat setengah sadar.


"Panas ...." gumam Renata. Wajahnya memerah, kedua matanya menatap penuh gairah.


"Sial!" Rahang Aldrian mengeras. Pria itu keluar dari mobil kemudian dengan penuh amarah memukul wajah Panji yang berdiri di sebelah mobil dengan wajah panik.


Di sebelahnya, Kenzo dan Alea menatap pria itu dengan tajam.


"Brengsek! Berani-beraninya kau ingin mencelakai Renata!" Aldrian kembali memukul Panji.


Alea dan Kenzo mendekati Renata yang terlihat setengah sadar. Alea menyuruh suaminya memapah Renata, sementara dirinya membawa tas milik gadis itu.


Sebuah mobil berhenti di depan taksi yang gagal membawa Renata pergi. Seorang pria dengan wajah tampan bergegas keluar dari mobil.


"Apa yang kalian lakukan pada istriku?" teriak Bima.


Pria itu bergegas melangkah menghampiri Renata yang masih dipapah oleh Kenzo.

__ADS_1


"Apa yang terjadi pada Renata?" Bima kembali berteriak sambil menarik tubuh Renata dan mendorong tubuh Kenzo.


"Bima?" Kenzo dan Alea berucap bersamaan.


"Kenzo?" Kedua mata Bima menatap Kenzo dan Alea bergantian.


"Jadi, Renata adalah istrimu?" Alea menatap Bima dengan tak percaya.


"Bukankah waktu itu kau menikah dengan-"


"Ceritanya panjang."


"Bima, bawa pulang istrimu cepat!" Aldrian yang baru selesai menghajar Panji berteriak pada Bima.


"Panas ...." Gadis itu bergumam lirih. Tangan Renata bergerak meraih kancing bajunya.


"Bima! Tunggu apalagi? Cepat bawa Renata pulang! Jangan bilang, kalau kau juga tidak tahu di mana rumah istrimu!" Aldrian kembali berteriak.


"Apa yang kalian lakukan pada Renata?" Bukannya menuruti Aldrian, Bima justru ikut kebakaran jenggot melihat keadaan Renata.


Pria itu tahu kalau saat ini Renata sedang tidak baik-baik saja.


"Bajingan itu berniat mencelakai Renata!" Aldrian menatap Panji yang terduduk sambil meringis kesakitan akibat pukulan Aldrian yang bertubi-tubi.


Bima menatap tajam ke arah Panji. Wajah laki-laki itu terlihat jelas karena pantulan cahaya lampu mobil.

__ADS_1


Sementara, sorot mata Panji terlihat kaget saat melihat wajah Bima. Pria itu saat ini sedang menggendong Renata yang tak berhenti bergerak akibat obat perangsang yang dia campurkan pada minuman soda yang ia berikan pada Renata beberapa saat lalu.


Abimanyu ....


"Bima, cepat bawa istrimu pulang!" Aldrian kembali berteriak karena merasa tidak tahan melihat keadaan Renata.


"Biar aku yang urus bajingan ini!" Aldrian menatap Panji yang saat ini sedang menatap ke arah Bima dan Renata.


"Besok, berikan dia padaku. Dia harus membayar apa yang sudah dia lakukan pada Renata!"


Bima menatap tajam pada Panji. Pria itu bergegas menuju mobilnya dengan tubuh Renata yang berada dalam gendongannya.


Bima membuka pintu mobil dengan hati-hati, kemudian memasukkan tubuh Renata yang terus bergerak. Perempuan itu tanpa sadar sudah membuka beberapa kancing bajunya.


Melihat itu, Bima mengeraskan rahangnya. Netranya menatap ke arah Panji yang saat ini sedang meringis kesal karena Aldrian kembali menghajarnya.


Aldrian ... sepertinya pria itu sangat marah melihat Renata hampir saja jatuh di tangan bajingan itu. Bima melirik Renata yang terus bergumam sambil berusaha melepaskan pakaian yang melekat di tubuhnya.


Sial!


Bima menyalakan mesin mobil, melajukan mobilnya ke rumah Renata yang baru kemarin ia ketahui alamatnya dari Mang Udin.


Sesekali, ia melirik ke arah Renata yang kedua tangannya terus bergerak menyentuh bagian sensitif pada tubuhnya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2