MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 88 MEMAKSA PERGI


__ADS_3

Melihat Renata tetap bersikeras menginginkannya pergi, Bima akhirnya mau tidak mau pergi juga dari rumah Renata dengan perasaan hancur.


Seandainya aku bisa memutar waktu, rasanya aku ingin sekali kembali ke masa lalu. Saat kau masih menjadi perawat cantik ibuku.


Bima bersandar pada kursi mobil sambil memejamkan mata. Ingatannya kembali pada saat ibunya masih hidup dan Renata merawat ibunya dengan penuh kasih sayang.


Gadis itu selalu membuat ibunya tertawa bahagia. Bukan hanya ibunya, tetapi juga semua orang yang ada di rumah besar itu. Semenjak Renata datang ke rumah itu, suasana rumah yang tadinya sepi berubah hangat. Remaja delapan belas tahun itu membawa kebahagiaan tersendiri di rumahnya.


Namun, semuanya langsung berubah setelah dua tahun kemudian sang ibu memutuskan menikahkannya dengan Renata.


Bima mengembuskan napas panjang. Mengingat kembali kapan terakhir kali Renata bersikap manis padanya.


Bibirnya menyunggingkan senyuman tipis saat wajah cantik Renata terbayang di kepalanya.


Namun, sedetik kemudian, senyumannya sirna saat mengingat keadaan Renata sekarang. Keadaan perempuan itu sungguh jauh berbeda dari yang dulu. Wajah cantik dengan senyum ceria itu kini hilang dan berganti dengan wajah sendu penuh luka dan tatapan penuh kebencian.


Tidak ada lagi senyum dan tawa di wajah Renata, yang ada hanya kesedihan dan tetesan air mata yang tak berhenti mengalir di pipinya.


Bima tersenyum getir, apalagi saat menyadari kalau dirinyalah penyebab dari hilangnya senyum di wajah Renata.


"Maafkan aku. Seandainya saja aku tidak egois dan mau menerima kamu sebagai pengantin pilihan ibuku, kamu pasti tidak akan menderita seperti ini," ucap Bima lirih.


Rasa cintaku pada Shinta, membuatku buta, hingga aku tidak pernah melihat kebaikan dalam dirimu.


Maaf!


Bima menggusar rambutnya kasar. Pria itu masih memejamkan mata sambil menarik napas panjang. Mencoba menetralkan perasaannya.

__ADS_1


Setelah agak tenang, Bima kemudian melajukan mobilnya meninggalkan rumah Renata. Seluruh tubuh dan hatinya terasa lelah. Sudah hampir sebulan, Bima bolak-balik dari kantor ke rumah sakit. Pria itu bahkan hanya beristirahat selama beberapa jam saja.


Sebenarnya, tidak ada gunanya juga dia di rumah sakit karena Renata jelas-jelas menolak dirinya. Renata tidak ingin bertemu dengannya sama sekali. Namun, Bima tetap memaksa. Pria itu merasa harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan pada Renata.


Bima tidak menyadari kalau kehadirannya di rumah sakit itu justru semakin memperparah keadaan Renata.


Mobil Bima sudah meninggalkan halaman rumah Renata. Sementara itu, dari balik tirai jendela, Renata menatap kepergian Bima dengan tatapan tak terbaca.


'Seandainya saja dari dulu kau bersikap baik padaku meskipun kau tidak mencintaiku, aku yakin, keadaan kita tidak seperti sekarang.'


'Dulu aku sangat mengagumimu dan mencintaimu diam-diam. Sekarang, setelah aku kehilangan semuanya karena dirimu, akankah rasa cinta ini masih pantas kumiliki?'


***


Beberapa hari berlalu, minggu pun berganti. Hampir setiap hari, Bima datang ke rumah Renata, tetapi perempuan itu selalu mengusirnya.


Meskipun mereka terus saja menolak kedatangannya, Bima tetap bersikeras datang ke rumah Renata.


Rangga dan Damar tidak habis pikir, kenapa ada orang yang begitu keras kepala seperti Bima. Jelas-jelas sudah diusir berkali-kali, tetap saja masih bersikeras untuk datang.


"Ren, ..." Renata berdecak sebal saat mendengar suara yang memanggilnya.


"Aku mau ajak kamu jalan-jalan. Kamu pasti bosan kan, di rumah terus?" Pandangan Renata masih tertuju pada ponselnya. Perempuan itu sedang asyik membaca novel di sebuah aplikasi gratisan yang sangat terkenal dengan logo berwarna biru, Noveltoon.


Semenjak pulang dari rumah sakit, Renata mengisi harinya dengan membaca. Perempuan itu sedang mencoba menata kembali hatinya yang hancur.


Namun, kedatangan laki-laki di depannya itu membuat hatinya yang baru dua hari ini tenang, kembali gusar.

__ADS_1


Dua hari lalu Bima tidak datang karena sibuk. Pekerjaannya menumpuk karena dia asyik mengejar Renata dan membujuk perempuan itu untuk tinggal bersamanya.


Aku pikir, dia tidak datang lagi karena berkali-kali aku mengusirnya. Akan tetapi, kenapa saat ini dia tiba-tiba datang lagi?


Wajah Renata terlihat cemberut. Namun, detik berikutnya, Renata memekik kaget karena Bima sudah mengangkat tubuhnya, kemudian menggendongnya.


"Tuan!"


Turunkan aku! Turunkan aku! Aku tidak mau pergi denganmu!"


"Aku akan membawamu ke suatu tempat, aku yakin, kau pasti menyukainya." Bima tersenyum tampan menatap wajah Renata yang terlihat kesal dalam gendongannya.


"Turunkan aku! Aku tidak mau pergi kemanapun!"


"Tidak. Kau harus ikut denganku!"


"Aku tidak mau!"


"Kalau begitu, aku akan memaksamu."


"Kau!" Bola mata Renata membola. Apalagi, saat mereka kini sudah sampai di halaman rumah dengan pintu mobil yang sudah terbuka.


"Rangga!"


"Damar!"


.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2