
Renata kini sudah mandi dibantu oleh Bima. Laki-laki keras kepala itu memaksa untuk memandikannya. Dengan menahan sakit, Renata terpaksa menuruti keinginan pria itu.
Tenaganya terkuras meladeni Bima. Sekarang, dia ingin berpura-pura saja kalau laki-laki itu tidak ada di sekitarnya.
Bima sedang memasak, sambil sesekali melirik Renata yang sedang duduk melamun dan dengan wajah pucat. Ada sedikit rasa bersalah karena semalam dia memanfaatkan keadaan Renata yang dalam keadaan tidak sadar.
Namun, di sudut hatinya yang lain, keegoisannya mendominasi. Toh, Renata adalah istrinya. Dia berhak atas tubuh wanita itu.
Bima menghela napas panjang. Pria itu melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 09.00. Seharusnya, pagi ini dia sudah sampai di tempat kerjanya. Namun, dia seolah berat meninggalkan Renata.
Bima melirik ponselnya yang berdering di atas meja makan. Pria itu mematikan kompor kemudian meraih ponselnya.
Terlihat nama Shinta pada layar ponselnya. Semalam, istri keduanya itu mengatakan kalau dirinya tidak bisa pulang. Shinta menginap di rumah orang tuanya dan pagi ini baru bisa pulang.
"Halo, Sayang ...." Bima menyapa Shinta di balik telepon sambil melirik ke arah Renata yang masih terlihat melamun.
"Bima, sepertinya aku tidak bisa pulang sekarang. Tidak apa-apa kan, kalau aku sehari lagi di sini?" Suara Shinta terdengar manja.
"Kenapa? Apa ada sesuatu yang terjadi?"
"Tidak ada apa-apa. Mama bilang, dia masih kangen sama aku. Tidak apa-apa kan, Sayang, kalau aku menginap sehari lagi di sini?"
"Baiklah! Apapun yang membuatmu senang, lakukanlah!"
"Beneran?"
__ADS_1
"Hmm."
"Terima kasih, Sayang. Aku mencintaimu."
"Aku juga mencintaimu."
"Bye." Shinta mengakhiri panggilan teleponnya setelah mendengar jawaban dari Bima.
Bima mengehembuskan napas panjang. Netranya masih tak beralih dari wajah cantik Renata yang terlihat tanpa semangat.
Apa sebegitu bencinya kamu sama aku sampai-sampai kau terlihat begitu kecewa dan terpuruk?
Seandainya saja semalam kau jatuh ke pelukan Aldrian, apa kau juga akan bersedih seperti ini?
Bima menyiapkan makanan di meja makan.
Bima mendekati Renata yang masih terdiam tanpa meliriknya sama sekali.
"Makan dulu, kamu pasti lapar kan?" Renata masih terdiam, tak menanggapi ucapan Bima.
"Renata." Bima mengusap bahu Renata, tetapi dengan kasar perempuan itu menepis tangannya.
"Jangan menyentuhku!" Kedua mata Renata menatap Bima penuh kebencian. Sejenak Bima terpaku. Ada rasa yang tak biasa melihat amarah dan kebencian yang terpancar di kedua mata Renata.
"Aku hanya ingin kamu makan. Kamu pasti lapar kan? Apalagi setelah pertempuran kita semalam." Entah mengapa, dari sekian banyak kata, Bima malah memilih kata yang semakin menyulut emosi Renata.
__ADS_1
"Brengsek!"
Renata dengan susah payah bangkit dari duduknya. Perempuan itu meringis saat merasakan sakit di bagian tubuh bawahnya.
Namun, dengan keras kepala dia tetap beranjak dari ruangan itu.
"Renata. Kau harus makan." Bima masih bersabar melihat kemarahan Renata. Kalau biasanya, dia akan terus melawan gadis itu hingga Renata kewalahan meladeninya.
Renata menatap Bima dengan sorot mata yang sama.
"Tidak usah sok baik di depanku, Tuan Bima!"
"Pergilah!" Renata tetap melangkah dengan tertatih meninggalkan Bima.
"Renata!"
"Jangan memaksaku Tuan Bima, pergilah!"
"Aku akan pergi setelah kau makan makananmu!" Kini, Bima pun tak kalah tajam menatap Renata. Hilang sudah kesabarannya menghadapi perempuan di depannya ini.
"Aku ingin kau pergi dari sini, apa kau tidak mengerti apa arti kata-kata pergi, Tuan?"
"Jangan menguji kesabaranku, Renata. Jangan bertingkah seolah-olah aku yang bersalah dalam hal ini. Kalau kau ingin marah, seharusnya kau marah pada bajingan yang telah mencelakaimu!"
"Memangnya, apa bedanya dia dengan dirimu?"
__ADS_1
"Renata!"
Bersambung ....