
Devan dan Bima menatap ke arah pintu. Seorang perempuan menggunakan kursi roda dengan wajah pucat masuk ke dalam ruangan. Di belakangnya berdiri sepasang suami istri yang kini menatap Bima dengan tajam.
"Shinta. Kenapa kau ke sini?" Bima menatap perempuan yang saat ini masih sah menjadi istrinya itu dengan penuh kebencian.
"Sa-sayang ... melihat amarah di kedua mata Bima membuat nyali Shinta menciut.
"Bima, kenapa kau bersikap seperti itu pada istrimu?" Laki-laki paruh baya itu menatap tajam ke arah menantunya.
"Istri? Istri macam apa yang di belakang suaminya justru memelihara gigolo untuk memuaskannya?" Bima berteriak seiring rasa sakit yang menekan hatinya.
Apalagi, saat mendengar sendiri pengakuan Panji kalau dia dan Shinta bahkan sudah berhubungan dari semenjak Panji masih SMA. Benar-benar menjijikkan!
Padahal, selama berhubungan dengan Shinta, Bima hanya menyentuh perempuan itu. Dia selalu setia dan tak pernah sekalipun berniat mengkhianati Shinta, bahkan ketika dirinya sudah menikah dengan Renata pun ia lebih memilih Shinta untuk menjadi istrinya.
Namun, perempuan itu sungguh keterlaluan. Bagaimana bisa dia bermain di atas ranjang dengan dua orang pria sekaligus? Benar kata Aldrian, kalau Shinta tidaklah lebih dari seorang perempuan ******.
Mendengar jawaban menantunya, Haris berteriak marah.
"Apa maksudmu, Bima?"
"Papa tanyakan saja pada putri Papa, apa yang dia lakukan selama ini di belakangku!" Suara Bima tidak kalah meninggi. Baru kali ini ia berani berteriak di depan mertuanya.
"Bisakah kalian tidak ribut di sini? Di sini ada pasien yang sedang beristirahat!" Devan yang sedari tadi diam sangat kesal melihat tingkah orang-orang arogan di depannya itu.
"Kamu salah paham, Sayang. Aku dan Panji tidak ada hubungan apa-apa. Aku hanya-"
__ADS_1
"Pergi kalian dari sini!" Devan mulai tersulut emosi karena orang-orang itu seolah tidak mendengar ucapannya.
"Bima, bawa mereka keluar dari sini, atau aku akan menyuruh penjaga keamanan menyeretnya kalian!"
"Kamu-" Wilda menghentikan ucapannya saat melihat pria yang kini berdiri di depannya.
"Kamu, Devan Anggara?"
"Pergi kalian dari sini. Kalian mengganggu pasienku!" ucap Devan penuh penekanan tanpa memedulikan ucapan Wilda.
"Kamu sangat arogan untuk seorang dokter. Aku akan melaporkanmu pada pihak rumah sakit kalau kamu sudah bersikap tidak sopan." Haris menatap tajam ke arah Devan.
"Cepat bawa mereka pergi, Bima. Bila perlu, bawa mereka keluar dari rumah sakit ini!" Devan yang mulai terbakar emosi menatap Bima dengan penuh amarah.
*Pria bodoh itu, tidak bisakah sekali saja dia tidak membuat orang kesal?
Devan menatap satu persatu orang-orang di depannya, kemudian pandangannya beralih pada Renata yang ternyata sudah terbangun. Kedua netra perempuan itu menatap penuh amarah pada orang-orang itu. Termasuk pada Bima. Laki-laki penyebab semua penderitaannya.
"Mbak Rena, berarti selama ini kamu tidak bahagia dengan pernikahanmu?" Rangga yang melihat kejadian tadi dari awal sampai akhir mencoba mencerna kalimat demi kalimat yang keluar dari bibir pria yang mereka ketahui sebagai kakak iparnya.
Bima menyebut perempuan itu istri. Jadi, selama ini Kakak tercintanya itu menikah dengan orang yang sudah punya istri?
Tidak! Mbak Renata bukanlah perempuan seperti itu. Dia tidak mungkin merebut suami orang.
Lalu, apa yang sebenarnya terjadi?
__ADS_1
"Aku menikah dengan dia sebelum pria brengsek itu menikah dengan perempuan lain. Kau jangan berpikiran macam-macam." Suara Renata terdengar lirih.
"Iya Mas Rangga, aku yakin, Mbak Renata kita bukanlah pelakor, tapi wanita itulah yang sudah menghancurkan pernikahan Mbak Renata." Damar menatap orang-orang yang masih berdiri di depan pintu kamar itu.
"Bisakah kalian usir mereka dari sini?" Renata menatap kedua adiknya bergantian. Rangga beranjak dari depan Renata.
"Bisakah kalian semua pergi dari sini? Kakakku sangat terganggu dengan kehadiran kalian di sini!" Rangga menatap orang-orang itu satu persatu, termasuk Bima dan perempuan yang kini duduk di kursi roda dan menatapnya dengan tatapan tak terbaca.
Siapa pria ini? Dia terlihat begitu mempesona.
"Pergi!"
Rangga sudah mengepalkan tangannya. Pria itu bahkan tidak peduli saat melihat tatapan marah dari Haris dan Wilda.
"Kau juga keluar!" Rangga menatap Bima yang tampak terkejut.
"Rangga, aku ingin menemani Ren-"
"Mbak Renata tidak ingin bertemu denganmu. Sebaiknya kau selesaikan saja masalahmu dengan mereka."
"Rangga."
Rangga mendorong tubuh kakak iparnya itu keluar ruangan menyusul orang-orang itu. orang-orang yang ia yakini telah menyebabkan kakaknya menderita.
Bersambung ....
__ADS_1
Baca juga karya temen aku yang satu ini yuk, teman-teman, dijamin nggak kalah seru loh!