
Bima keluar dari ruangan Renata setelah seorang perawat masuk ke dalam ruangan diikuti oleh Devan.
Bima melangkah dengan gontai. Semua kata-kata yang terucap dari mulut Renata kembali terngiang di telinganya.
Pria itu memegangi dadanya yang terasa sesak.
'Kalau memang benar aku tidak mempunyai perasaan apa pun terhadap Renata, kenapa hatiku sangat sakit saat melihat perempuan itu menatapku dengan penuh kebencian?'
'Rasanya hatiku sangat sakit saat kau mengatakan kalau kau sangat membenciku, Renata.'
Bima menghembuskan napas panjang. Pria itu duduk sambil menundukkan kepalanya.
Entah perasaan apa yang kini Bima rasakan. Sisi hatinya dia memikirkan Renata, tetapi sisi hatinya yang lain laki-laki itu memikirkan Shinta. Perempuan yang sangat dicintainya itu meninggalkan luka yang begitu dalam di hatinya.
Setelah bertahun-tahun bersama dan melakukan apapun demi kebahagiaan perempuan itu, ternyata hanya luka yang Bima dapatkan.
Orang yang selama ini menjadi pusat kebahagiaannya itu justru memberikan luka yang teramat dalam. Bima mengusap wajahnya kasar.
'Apa karena ini, Bu? Apa karena ibu sudah tahu dari awal tentang Shinta karena itu ibu melarang hubunganku dengannya?'
__ADS_1
'Maafkan aku karena aku tidak bisa menjalankan amanat yang ibu berikan. Belum sempat menjaganya, aku sudah memberikan luka yang teramat dalam pada Renata. Aku minta maaf!'
Bima mengembuskan napas panjang. Mencoba mengusir rasa nyeri yang kini merasuk ke hatinya.
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Seandainya dari awal ia mendengarkan sang ibu yang melarangnya berhubungan dengan Shinta, nasibnya mungkin tidak akan seperti ini, dan seandainya saja ia mau mencoba menerima Renata sebagai istrinya saat itu, mungkin keadaan Renata juga tidak akan seperti sekarang ini.
"Menyesal sekarang sudah tidak ada gunanya, Bim. Sudah terlambat!" Aldrian datang tiba-tiba dan duduk di sebelahnya.
"Aku sudah sering memperingatkanmu, tapi kamu tidak pernah mendengarkan aku," lanjut Aldrian. Sementara Bima menatap sepupunya itu dengan perasaan tak terbaca.
"Aku yakin, saat ini kau sangat senang melihat keadaanku yang seperti ini."
"Saudara yang menusuk saudaranya sendiri dari belakang. Apa masih bisa disebut saudara?"
Aldrian berdecak kesal mendengar ucapan Bima.
"Itu hanya masa lalu. Lagipula kau sudah dengar sendiri kan, pengakuan Vanya. Dia yang mengejarku bukan aku yang mengejarnya."
"Saat itu tidak tahu kalau Vanya itu kekasihmu. Kau tahu, kan, aku bahkan baru beberapa hari balik dari luar negeri saat kejadian." Aldrian kembali mengingatkan Bima tentang masa lalunya.
__ADS_1
"Kenapa aku harus ketemu perempuan-perempuan yang suka sekali berkhianat? Dulu Vanya, sekarang Shinta. Memangnya apa kekuranganku sampai-sampai mereka tidak setia padaku?" Bima menatap Aldrian yang langsung terdiam mendengar ucapannya.
Aldrian menepuk bahu sepupunya itu.
"Tidak ada yang kurang dari dirimu, Bim. Mereka saja yang bodoh karena tidak mau menerima dirimu. Seandainya dari awal kau mau menerima Renata sebagai istrimu, aku yakin, hidupmu akan lebih baik dari ini."
"Saat ibumu memilih Renata sebagai pengantinmu, harusnya kau sudah menyadari maksud ibumu. Kau tahu sendiri orang seperti apa perempuan yang melahirkanmu itu kan?" Aldrian menatap Bima yang saat ini tampak sedang berpikir.
"Tante Erika pasti sudah memikirkan dengan baik, kalau tidak, Pak Dika tidak mungkin sudah sudah menyiapkan penghulu yang langsung menikahkan kalian saat itu juga."
Ingatan Bima kembali ke masa saat dirinya tiba di rumah sakit saat mendengar kondisi sang ibu kritis. Saat itu, sang ibu justru memaksa dirinya menikah dengan Renata, sesaat sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhir di hadapannya.
"Seandainya kau tidak keras kepala dan egois, aku yakin, kau tidak akan kehilangan Renata, Bim."
"Aku tahu, saat itu kamu membencinya karena kau mengira Renata dan ibunya telah bekerja sama dengan Tante Erika agar menikahkan kalian berdua." Bima kembali menatap Aldrian.
"Seandainya dari awal kau mau menerima Renata walaupun kalian tidak saling mencintai, aku yakin, kamu pasti akan bahagia."
Bersambung ....
__ADS_1