
Setelah kepergian Renata, Bima masih tinggal di rumah perempuan itu. Berharap, kalau Renata segera pulang ke rumahnya. Bima sudah menyuruh orang untuk mencari keberadaan Renata, tetapi orang-orang itu sampai saat ini belum berhasil menemukan Renata.
Devan, dokter sekaligus sahabatnya yang selama ini memeriksa Renata pun tidak terlihat. Sementara Aldrian yang saat ini sedang di luar negeri untuk melakukan perjalanan bisnis juga menyuruh orang-orangnya untuk mencari Renata.
Pria itu sangat khawatir dengan keadaan Renata, tetapi dia tidak bisa meninggalkan pekerjaannya.
Namun, telepon dari Devan membuatnya bernapas lega. Laki-laki itu akhirnya menyuruh anak buahnya untuk menghentikan pencarian karena dia sudah mengetahui keberadaan Renata dari Devan.
Akan tetapi, Devan melarang keras untuk memberitahukan keberadaan Renata pada Bima karena Renata melarangnya. Perempuan itu ingin fokus pada pengobatannya.
Renata tidak ingin lagi mendengar apapun tentang Bima. Perempuan itu ingin melupakan semua masa lalunya yang menyakitkan.
***
Setelah kepergian Renata, kehidupan Bima berubah kacau. Laki-laki itu sampai sekarang masih menyesali perbuatannya yang telah mengakibatkan perempuan yang tanpa dia sadari telah menyelinap ke dalam hatinya itu pergi meninggalkannya.
Sampai sekarang, Bima masih terus mencari Renata, tetapi pria itu belum menemukannya sampai sekarang.
Dunia Bima sekarang berubah. Dulu, dia sangat membenci Renata karena telah mengklaim dirinya hanya bisa mencintai Shinta bukan perempuan lain, meskipun perempuan itu adalah perempuan yang sudah sah menjadi istrinya saat itu.
Namun kini, keadaan berubah. Bima saat ini begitu merindukan Renata. Laki-laki itu sangat ingin bertemu dengan Renata dan meminta maaf padanya.
__ADS_1
"Di mana kamu sekarang, Ren, aku merindukanmu." Bima memejamkan matanya sambil berucap lirih.
Hatinya sangat sakit saat mengingat perempuan itu pergi meninggalkannya sebulan yang lalu. Rasa sakitnya bahkan lebih dari sakit saat Shinta mengkhianatinya.
Shinta ... perempuan pengkhianat itu juga saat ini sudah bahagia dengan kekasih berondongnya. Sementara dirinya saat ini justru sangat terpuruk dan menderita.
Seandainya aku menyadari perasaanku padamu lebih awal, Ren.
Bima memejamkan matanya. Merasakan sakit yang kini menjalar ke ruang hatinya.
...Aku benar-benar merindukanmu, Ren .......
Di tengah kekacauan hatinya. Mang Dadang datang mengetuk pintu kamarnya. Pria itu masuk kemudian memberikan sebuah amplop. Di atas amplop itu berisi surat dari pengadilan agama.
Surat cerai.
Ya Tuhan ....
Rasa sesak menghantam dadanya. Jangan tanyakan hatinya yang saat ini bahkan serasa dihujam ribuan panah.
Sakit! Rasanya sangat sakit.
__ADS_1
"Renata ... kali ini aku benar-benar telah kehilanganmu." Bima menangis sambil meremas surat cerai itu.
Dengan datangnya surat itu, kini dia dan Renata resmi bercerai. Pria itu telah kehilangan perempuan yang bahkan belum sempat dia perjuangkan cintanya.
"Renata ...."
Tubuh Bima bergetar karena isak tangisnya. Bima menangis. Menangisi kenyataan yang saat ini menimpanya.
*Ibu, maafkan aku karena aku sudah membuatnya pergi dariku. Seandainya aku mau mendengar dan menuruti wasiat terakhir ibu, saat ini dia pasti tidak akan pergi dariku.
Maafkan aku, ibu. Sekarang aku benar-benar menyesal karena telah menyia-nyiakan perempuan yang sudah ibu pilihkan untukku*.
Tangis Bima semakin kencang seiring rasa sakit yang mencabik hatinya.
"Renata ...."
"Maafkan aku karena aku terlambat menyadari perasaanku padamu. Seandainya aku tidak egois, aku pasti tidak akan kehilanganmu."
Bima terus menangis, menumpahkan semua perasaannya. Sementara dari balik pintu, Mang Dadang yang sedari tadi belum pergi, ikut meneteskan air mata mendengar tangisan pilu tuan mudanya.
Tuan muda arogan, keras kepala, egois, yang selama ini di kenalnya, kini sedang menangis. Menangisi perempuan yang dulu sangat dibencinya.
__ADS_1
"Penyesalan memang selalu datang terlambat."
Bersambung ....