
Renata menatap Bima yang saat ini juga sedang menatapnya. Laki-laki itu mendekatinya, menekuk lutut di depannya agar mereka sejajar.
Kedua mata Bima berkaca-kaca, begitupun dengan Renata. Bima menggenggam erat tangan Renata.
"Semoga kamu bahagia di sana. Aku akan mendoakan yang terbaik untukmu." Bima mengulas senyum, tetapi air matanya mengalir begitu saja.
Tak kuasa menahan rasa sakit, Bima bangkit setelah mencium tangan Renata yang ia genggam.
"Aku mencintaimu."
Renata hanya terdiam tak menjawab. Air matanya juga mengalir. Entah apa yang ia rasakan saat ini.
Bima mendekatkan bibirnya, mencium kening Renata. Perempuan itu tak menolak, ia justru memejamkan matanya.
"Semoga kamu bahagia."
Bima membelai rambut Renata, mengusap air matanya dan memindai wajah cantik itu sebelum akhirnya melangkah pergi dari hadapan Renata.
"Jaga dia baik-baik."
Devan mengangguk sambil memeluk Bima.
"Aku rela, seandainya dia memang bahagia bersamamu," bisik Bima dengan suara bergetar.
"Bim ...." Kedua mata Devan membola.
"Pergilah! Sebelum aku kembali berubah pikiran." Bima melepaskan pelukannya pada Devan.
"Bima." Devan menatap pria itu dengan tidak percaya.
"Aku percaya padamu, Dev. Tolong jaga dia, bantu dia sampai dia pulih."
"Bima, aku–"
"Seandainya suatu saat dia memang memilihmu, aku akan menerimanya dengan ikhlas. Renata pantas bahagia."
__ADS_1
"Bima ...."
Bima menepuk pundak Devan. Meyakinkan pria itu kalau semua ucapannya adalah benar. Meskipun dalam hatinya terasa berat, tetapi, demi Renata. Demi kebahagiaan perempuan yang dicintainya itu, Bima akhirnya merelakan.
Hanya Devan lah satu-satunya pria yang bisa membuat Renata nyaman saat ini, selain Aldrian tentunya. Buktinya, Renata akhirnya setuju berobat ke luar negeri asalkan Devan mau menemaninya.
Mengingat itu, sudut hatinya terasa nyeri. Bima memeluk Iren, perempuan paruh baya yang merupakan sahabat ibunya sebelum sang ibu meninggal dunia.
Perempuan itu ikut bersama Devan. Dia akan tinggal di sana, menemani Renata untuk beberapa waktu ke depan.
"Tolong jaga Renata, Tante."
"Tentu saja. Tante akan menjaga Renata seperti putri Tante sendiri."
"Terima kasih, Tante." Bima melepaskan pelukannya.
Bima kembali menatap wajah cantik Renata. Rasanya ia ingin sekali memeluk perempuan itu dan membawanya pulang. Dalam hatinya yang paling dalam ia tidak rela. Namun, demi kesembuhan dan kebahagiaan Renata, Bima menahan egonya kali ini.
Perempuan itu terlihat berkaca-kaca, membuat keinginan Bima untuk memeluk Renata begitu besar. Namun, Bima mengurungkan niat untuk melangkahkan kakinya kembali mendekati Renata.
Bima mengepalkan kedua tangannya, sebelum akhirnya berbalik, melangkah pergi meninggalkan tempat itu.
Rasa sakit menghujam jantungnya. Menikah dengan Renata bukanlah impiannya. Bima tidak pernah mencintai Renata yang saat itu hanyalah seorang pembantu yang bertugas merawat ibunya.
Namun, kita tidak pernah tahu takdir akan membawa kita kemana. Bima yang awalnya tidak punya perasaan apa pun pada Renata, kini justru begitu mencintai perempuan itu. Perasaan yang tidak pernah ia duga sebelumnya.
Bima melangkah pergi tanpa menoleh lagi ke belakang. Laki-laki itu melangkah pergi dengan hati hancur. Melepaskan orang yang sebenarnya sudah terlepas semenjak perceraiannya hampir dua tahun yang lalu.
Sementara itu, Renata menatap punggung Bima. Air matanya mengalir begitu saja di wajah cantiknya saat laki-laki itu menjauh meninggalkannya.
"Selamat tinggal," lirih Renata.
Devan mendekati Renata, begitu pun Aldrian dan Iren yang sedari tadi hanya terdiam. Mereka seolah ikut merasakan apa yang dirasakan oleh Renata dan Bima.
"Aku titip Renata sama kamu, Dev. Tolong jaga dia," ucap Aldrian.
__ADS_1
"Kamu tenang saja. Aku dan Mama akan menjaga Renata dengan baik."
"Terima kasih, Dev, Tante."
"Sama-sama, Al." Iren tersenyum sambil mengusap bahu Aldrian.
Rangga dan Damar, juga Aldrian memandangi ketiga orang itu sampai mereka menghilang di balik pintu kaca.
"Semoga Mbak Renata cepat sembuh, agar kita bisa berkumpul lagi," ucap Damar.
"Kita doakan yang terbaik untuk Mbak Renata, Dam."
Rangga merangkul bahu adiknya.
Tak berapa jauh di belakang mereka, Bima kembali berbalik. Kedua netranya menatap Renata saat perempuan itu masuk ke dalam
diiringi Devan dan Iren.
Selamat tinggal, Renata ....
END
Memaafkan bukan berarti mengulang kembali kebersamaan yang terlewati bersama. Mungkin bagi sebagian orang, ada juga yang mengalami seperti yang Renata alami tetapi berbesar hati untuk memaafkan sekaligus kembali bersama pasangannya.
Namun, bagi Renata, kembali pada Bima adalah hal yang sangat mustahil. Bagaimana bisa dia kembali pada orang yang setiap dia melihatnya saja hatinya terasa sakit?
Semua kejadian memang sudah takdir dan kehendak sang pencipta. Akan tetapi, Renata hanya manusia biasa. Dia memang bisa memaafkan pria itu, tetapi untuk menghapus semua luka dan kenangan masa lalunya jelas tidak semudah membalikkan tangan.
Renata butuh waktu. Waktu untuk menyembuhkan luka hatinya yang teramat dalam.
Untuk Bima, akan selalu ada hukum sebab akibat atau tabur tuai. Apa yang sudah dia lakukan pada Renata tidak akan bisa dimaafkan dengan mudah.
'Sebuah kebaikan akan mendatangkan kebaikan pula, begitu pun sebaliknya. Jangan merasa sombong ketika kita merasa lebih baik, apalagi sampai membuat orang lain terluka. Saat ini kamu dengan bangga menyakiti hati orang lain, tetapi suatu saat, bisa saja kamu berada dalam posisi yang sama seperti orang yang kamu sakiti saat ini.'
Salam sayang dan cinta buat kalian semua ❤️❤️❤️
__ADS_1