MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 86 PULANG DARI RUMAH SAKIT


__ADS_3

Setelah hampir sebulan di rumah sakit, Renata akhirnya pulang ke rumahnya. Semua luka di tubuh Renata berangsur membaik. Namun, Renata masih harus menggunakan kursi roda karena dia belum bisa berjalan.


Mengingat kalau dirinya sekarang tidak bisa berjalan, membuat kebenciannya pada Bima semakin besar. Pria itu bukan saja sudah menjadi penyebab hilangnya nyawa ibu dan calon anaknya, tetapi pria itu juga telah menyebabkan dirinya lumpuh.


Seandainya kamu sedikit berbelas kasih padaku juga ibuku, mungkin semua ini tidak akan terjadi.


Renata mengepalkan tangannya saat netranya tak sengaja menangkap Bima yang saat ini sedang berjalan ke arahnya.


"Kita pulang ke rumah utama ya, Ren. Biar aku yang merawatmu sampai kau sembuh." Bima tersenyum manis. Sementara Renata hanya menatap tajam ke arahnya.


"Mbak Renata mau tinggal di rumahnya saja. Dia tidak mau tinggal di rumah besar Mas Bima." Rangga yang memegang kursi Roda yang dinaiki Renata langsung mendorong kursi itu meninggalkan Bima dan Aldrian yang masih berdiri di sana. Bukan hanya mereka berdua, karena Devan pun ada di sana.


Sementara Damar yang baru dua hari kemarin kembali ke kota itu mengikuti langkah Rangga dari belakang sambil membawa beberapa barang milik Renata.


"Kamu harus sabar, Bim. Kesalahan kamu sangat besar, Renata tidak akan mungkin memaafkanmu dengan mudah," ucap Aldrian yang hanya ditanggapi dengan embusan napas panjang Bima.


"Aku akan menyusul mereka." Bima bergegas menyusul langkah Rangga dan Damar.


Sementara, Devan hanya bisa menatap mereka. Dalam hati, ia berdoa, semoga Tuhan memberikan kesempatan padanya untuk lebih dekat dengan Renata. Perempuan cantik yang masih resmi menjadi istri sahabatnya.

__ADS_1


Apapun yang menjadi kebahagiaanmu nantinya, aku pasti akan ikut bahagia jika kamu bahagia, Ren. Meskipun aku hanya bisa melihatmu dari jauh.


"Kalau kau menyukainya, kau bisa mengejarnya. Aku sangat yakin, kalau Renata tidak akan pernah memaafkannya dengan mudah. Renata juga pantas bahagia, Dev." Aldrian menepuk bahu Devan.


"Kesalahan Bima terlalu besar. Saat Bima berada di samping Renata, aku yakin, Renata bukannya bahagia, tetapi malah semakin terluka." Devan hanya menatap sekilas pada Aldrian. Kemudian pandangannya kembali beralih pada Renata.


"Aku memang mendukung Bima untuk meminta maaf pada Renata dan kembali berjuang untuk mendapatkan Renata kembali. Namun, di sisi lain, aku sangat kasihan pada Renata."


"Dia mengatakan kalau dia tidak ingin bertemu dengan Bima karena setiap kali bertemu dengan Bima, hatinya terasa sakit," lanjut Bima. Kali ini Devan menatap Aldrian dengan serius.


"Tapi kau bilang, Renata sangat mencintai Bima. Ada kemungkinan kalau dia akan kembali pada Bima, Al. Aku tidak mau menjadi perusak hubungan orang." Devan menatap Aldrian sambil menepuk pundaknya.


"Aku tidak menyindirmu, kau saja yang merasa tersindir."


"Sudah aku bilang, Vanya yang memilih meninggalkan Bima. Aku sudah berulangkali memintanya kembali pada Bima, tetapi dia tidak mau."


Devan kembali tertawa mendengar ucapan Aldrian.


"Dia tidak mau meninggalkan kamu, dan kamu pun tidak bisa meninggalkannya. Jaga baik-baik wanitaku kalau kau memang mencintainya. Perlakukan dengan baik agar kau tidak menyesal seperti Bima.

__ADS_1


"Kau benar, Dev, karena penyesalan itu datangnya terlambat. Seperti Bima yang terlambat menyadari perasaannya pada Renata."


"Kau benar. Aku ingin lihat, bagaimana perjuangan Bima untuk mendapatkan Renata kembali. Seandainya dia hanya bisa membuat Renata kembali menangis dan terluka, aku akan datang dan membawa Renata pergi dari si brengsek kepala batu itu."


Aldrian tertawa mendengar kekesalan Devan.


"Jadi benar, kau menyukai Renata?"


"Aku jatuh cinta pada Renata pada pandangan pertama. Jauh sebelum Renata menikah dengan Bima.


"Apa?" Aldrian tampak terkejut.


"Renata adalah gadis yang selama ini aku cari, Al. Dialah perempuan yang pernah aku ceritakan padamu waktu itu."


Aldrian menatap Devan dengan tatapan tak percaya.


.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2