MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 92 MIRIP TOKOH NOVEL


__ADS_3

Sudah beberapa hari ini, Bima tidak tampak batang hidungnya. Pria yang biasanya sudah bolak-balik ke rumah mengganggunya itu sudah berapa hari tidak datang.


Renata menghela napas panjang. Setiap kali ia mengingat Bima sudut hatinya terasa nyeri. Kedua matanya kembali fokus pada layar ponsel. Seperti biasa, Renata menghabiskan waktunya untuk membaca.


Semenjak sakit, semua pekerjaan rumah dipegang oleh Rangga dan adiknya. Renata tidak melakukan apa pun selain melakukan terapi bersama Devan agar kakinya kembali pulih.


Perempuan itu mempunyai banyak waktu luang. Daripada terus hanyut dalam kesedihan, Renata menghabiskan waktunya untuk membaca buku serta membaca novel online di aplikasi Noveltoon.


Aplikasi berisi ribuan novel keren yang bisa kita baca secara gratis. Namun, sepertinya Renata harus sedikit pilih-pilih bacaan, karena di antara novel-novel yang ia baca itu juga banyak yang ceritanya hampir mirip dengan kehidupan yang dialaminya saat ini. Cerita yang banyak mengandung bawang sepertinya belum cocok untuk dirinya saat ini, tetapi, kalau tidak dibaca Renata merasa penasaran.


Seperti novel karya nazwa talita yang saat ini sedang ia baca. Membaca karya author yang mengklaim dirinya sebagai sarjana perbawangan itu ternyata justru membuat emosinya naik karena merasa kesal dengan tokoh yang ada dalam cerita itu.


"Sialan! Bukannya terhibur, aku malah jadi semakin emosi baca tingkah laku si Bian Aditama (Mati Rasa)." Renata menggerutu kesal. Namun, tak urung dirinya tetap melanjutkan baca karena merasa penasaran.


"Kenapa karakter dalam tokoh ini mirip banget sama Bima? Menyebalkan!" Bibir Renata mengerucut kesal.


"Bedanya Bian sama Bima, selain menyakiti hati istrinya dengan membawa perempuan lain ke rumahnya, Bian seringkali memukuli istrinya. Sementara Bima tidak. Bima hanya keras kepala dan pemarah, tapi tidak pernah memukulku." Renata bicara sendiri tanpa menyadari kalau Rangga dan Damar sedang memperhatikannya di depan pintu.


Kedua adik laki-lakinya itu saling berpandangan melihat Renata yang sedang berbicara sendiri sambil memperhatikan ponselnya.


"Mas Damar, kenapa Mbak Renata bicara sendiri?" bisik Damar di telinga Rangga.

__ADS_1


"Apa jangan-jangan Mbak Renata stres?" lanjut Damar asal.


"Aduh!" Damar meringis saat tangan Rangga mendarat di pinggangnya.


"Kamu ini apa-apaan? Kamu mau mengatakan kalau Mbak Renata kita gila?" Rangga melototi adiknya.


"Stres, Mas, bukan gila," bela Damar.


"Apa bedanya? Bodoh!" Kedua mata Rangga kembali melotot.


"Jelas beda lah, Mas. Gila itu, gi- la, gila. Sementara stres itu-"


"Aduh!" Damar kembali mengaduh saat tangan Rangga sudah mendarat di kepalanya.


"Ada apa sih, Mbak? Siapa itu Bian, Mbak? Kenapa Mbak Renata menyamakan Bian dengan Mas Bima?" Rangga memperhatikan Renata yang masih asyik dengan ponselnya tanpa melihat ke arahnya sama sekali.


"Ini nih, gila! Jadi lelaki kok jahat banget sama istrinya." Renata mengomel membuat Rangga makin penasaran.


"Kenapa? Mbak Renata lagi baca berita kejahatan atau apa?" Pertanyaan Rangga mau tak mau membuat Renata memperlihatkan ponselnya pada adiknya itu.


"Ohh, Mbak Renata lagi baca novel?" Renata mengangguk sebagai jawaban.

__ADS_1


"Ceritanya nyebelin banget. Tokoh perempuannya hampir mirip sama kehidupan aku. Menikah dengan pria yang tidak mencintainya. Sudah gitu ditinggal selingkuh pula." Bibir Renata bergerak-gerak menceritakan semua tentang tokoh di dalam novel itu sambil sesekali mengumpat, sementara Rangga dan Damar menepuk jidat, mendengar ocehan kakak perempuan mereka itu.


"Kirain, Mbak Renata punya gebetan baru. Nggak tahunya lagi baca novel?" Damar yang awalnya mengatakan kalau kakak tercintanya itu mungkin stres karena berbicara sendiri, langsung menimpali ucapan Renata.


"Gebetan apaan? Kalian lupa kalau aku masih punya-" Ucapan Renata terhenti saat kedua netranya tak sengaja menangkap seseorang yang saat ini sedang memperhatikannya di depan pintu kamarnya.


"Tuan? Sejak kapan Tuan ada di sini?" Renata tampak terkejut, sementara kedua adiknya langsung menoleh ke arah pintu.


Rangga berdecak sebal. Untuk apalagi Tuan datang ke sini? Lagipula, bukankah pintunya dikunci? Kenapa Tuan bisa masuk ke sini?" Tanpa menjawab pertanyaan Rangga, Bima memperlihatkan kunci di tangannya.


Rangga dan Damar saling berpandangan.


"Kali ini, tolong izinkan aku bertemu dengan Renata." Bima terlihat menarik napas panjang dengan wajah memelas. Kedua matanya menatap kedua adik iparnya.


"Sebaiknya Tu-"


"Rangga, biarkan saja."


"Tapi, Mbak-" Rangga tidak melanjutkan ucapannya saat melihat anggukan kepala Renata.


"Baiklah! Terserah Mbak Renata saja. Kami tunggu di luar." Rangga menatap sang kakak kemudian menatap Bima dengan tajam.

__ADS_1


"Sebaiknya, Tuan jangan macam-macam!" Damar memperingatkan sambil menatap tajam ke arah Bima. Rasa hormatnya pada sang kakak ipar hilang sudah setelah kejadian saat itu. Saat dirinya dan Rangga dikunci di kamar mereka.


Bersambung ....


__ADS_2