MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 100 DOKUMEN PALSU


__ADS_3

Demi bisa menikahi Shinta, Bima dulu menyuruh orang untuk membuat dokumen palsu untuk kepentingan persyaratan pernikahannya dengan Shinta.


Bima melakukan itu semua karena dia tidak mungkin memberikan dokumen asli karena pernikahannya dengan Renata juga sudah terdaftar saat itu.


Kalau tahu semuanya akan berakhir secepat ini, mending dulu aku menikah secara siri saja.


Bima menggerutu sambil memegangi surat panggilan sidang gugatan cerainya. Besok adalah sidang terakhir. Setelah mengetahui Shinta berselingkuh dengan Panji, laki-laki itu langsung menjatuhkan talak pada Shinta.


Akan tetapi, karena pernikahan mereka masih sah secara hukum, Bima langsung mengajukan gugatan cerai di pengadilan.


Bima menghembuskan napas panjang. Pernikahannya dengan Renata baru saja berakhir. Kini, pernikahan kedua dengan orang yang dicintainya itu pun harus berakhir.


Dalam waktu kurang dari setahun, Bima harus kehilangan kedua perempuan yang menjadi istrinya. Perempuan yang sama-sama berarti baginya. Namun, keduanya berakhir dengan cara berbeda.


Perceraiannya dengan Renata adalah perceraian yang sangat ia sesali seumur hidup. Sementara, perceraiannya dengan Shinta adalah sesuatu yang sangat Bima syukuri.


Bima bersyukur karena bisa terlepas dari perempuan itu. Meskipun dia sangat mencintai Shinta selama bertahun-tahun, tetapi, pengkhianatan Shinta tidak bisa dimaafkan.


Perempuan itu sudah menyisakan luka yang cukup dalam di hati Bima.


Pria itu kembali menghembuskan napas panjang. Semenjak kepergian Renata, sampai sekarang ia belum bisa menata hatinya.

__ADS_1


Setelah Renata pergi, pria itu baru menyadari kalau Renata ternyata sudah singgah di ruang hatinya yang cukup dalam.


Kamu ada di mana sekarang, Ren? Aku merindukanmu.


Bima membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Bayangan Renata menangis, membuat sudut hatinya berdenyut sakit.


Selama kepergian Renata, Bima selalu berusaha menghubungi Devan, tetapi dokter sekaligus sahabatnya itu tidak bisa dihubungi sama sekali.


Bima juga setiap hari ke kantor Aldrian untuk menanyakan tentang Renata. Namun, pria itu hanya menanggapi Bima dengan senyuman. Aldrian hanya mengatakan padanya kalau Renata baik-baik saja.


Aldrian juga mengatakan pada Bima untuk tidak menggangu Renata dulu sampai perempuan itu benar-benar pulih.


"Saat ini Renata sedang berjuang agar dia bisa kembali pulih dan bisa kembali berjalan. Biarkan dia tenang dulu. Saat ini perempuan itu sedang tidak baik-baik saja setelah dokter memvonis kalau kemungkinan dirinya bisa berjalan lagi sangatlah kecil," ucap Aldrian saat terakhir Bima menemui saudara sepupunya itu.


"Cukup menjauh darinya dan tidak usah mencari tahu tentang dirinya, Bim." Aldrian menatap Bima sambil menepuk pundak Bima.


"Bagaimana bisa?" Bima menatap Aldrian dengan tatapan sendu. Kedua matanya bahkan sudah berkaca-kaca. Semenjak kepergian Renata, pria arogan itu berubah menjadi pria cengeng.


"Kau seperti bukan Bima yang kukenal."


Bima memejamkan matanya mendengar ucapan Aldrian.

__ADS_1


"Semuanya berubah setelah kepergiannya." Bima menarik napas panjang sambil menetralkan perasaannya saat rasa sakit mengalir ke ruang hatinya.


"Setelah dia pergi, kau baru sadar, kalau Renata begitu penting buat kamu?"


Hanya hembusan napas Bima yang terdengar saat Aldrian mengucapkan kata-kata itu.


"Semuanya sudah terlambat. Seandainya kau menyadarinya dari awal, saat ini, kau mungkin tidak akan kehilangan dia, Bima."


"Sekarang, kau bukan hanya kehilangan dia, tetapi kau juga sebentar lagi akan kehilangan Shinta. Aku lihat, perempuan itu masih sering menemuimu di kantor?"


"Dia tidak terima karena aku menceraikannya."


"Kenapa? Bukankah saat ini dia masih bersama laki-laki itu?" Aldrian menatap Bima dengan penasaran.


"Perempuan itu menuntut pembagian harta gono-gini. Dia meminta rumah besar keluarga Abimanyu menjadi miliknya."


"Apa?"


"Apa dia sudah gila?" Aldrian tampak terkejut. Sementara Bima tersenyum tipis.


"Kau benar. Shinta menjadi gila karena selama ini aku selalu memanjakannya dengan uang."

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2