
"Kalau benar Tuan Bima menyakiti Nona, Nona bisa menceritakan pada saya biar kita punya alasan untuk menggugat cerai dia di pengadilan nanti."
"Pak Dika sudah tahu alasan kenapa aku menggugat cerai Tuan Bima kan?"
Pak Dika mengangguk di seberang sana meskipun Renata tidak melihatnya.
"Alasanku hanya satu, aku tidak bahagia dengan pernikahan ini karena Tuan Bima menikah lagi." Suara Renata terdengar lirih.
Sementara Pak Dika menghembuskan napas panjang. Pria itu memang sudah menduga dari awal. Saat itu dia kurang setuju dengan keputusan Nyonya Erika yang dengan sengaja mengorbankan gadis polos seperti Renata untuk menikah dengan Bima.
Pak Dika sangat tahu siapa Bima. Pria itu sangat keras kepala dan susah untuk dikendalikan, kecuali oleh orang yang dicintainya.
"Besok saya akan ke sana."
"Terima kasih, Pak Dika."
"Sudah menjadi kewajiban saya, Nona." Pak Dika mematikan sambungan teleponnya kemudian menarik napas panjang.
Seorang laki-laki tampan yang duduk di sebelahnya menatap Pak Dika dengan raut wajah penasaran.
"Ada apa, Pa?"
"Papa merasa prihatin dengan nasib pernikahan Bima."
"Bima? Abimanyu?"
"Hmm."
"Kenapa dengan dia, Pa?"
"Sebelum meninggal, Nyonya Erika menyuruh Bima menikah dengan asisten rumah tangga yang merawatnya."
"Apa?"
"Maksud Papa, Abimanyu menikah dengan asisten rumah tangga yang merawat ibunya?"
"Iya. Itu wasiat terakhir Nyonya Erika untuk Bima. Sesaat setelah Bima menikah di rumah sakit dengan Renata, Nyonya Erika meninggal.
"Ya, Tuhan ... lalu apa yang terjadi pada Bima, Pa?"
"Bima menikah lagi, dua minggu setelah kematian Nyonya Erika."
"Hah?" Pemuda tampan itu melotot mendengar ucapan papanya.
__ADS_1
"Kau ini." Pak Dika tersenyum sambil menepuk bahu Devan, sang putra. Putranya itu terlihat sangat lucu dengan tampang terkejutnya.
"Aku kan terkejut, Pa." Devan nyengir kuda.
"Kok Bima tega ya, Pa. Padahal dia sudah janji pada ibunya, tetapi kenapa dia menikah lagi?" Devan merasa penasaran dengan cerita papanya.
"Bima mencintai perempuan lain sebelum menikah dengan Renata. Dia dan perempuan itu sudah menjalin hubungan selama bertahun-tahun, tapi Nyonya Erika belum mengizinkan mereka menikah." Pak Dika menatap putranya yang terlihat penasaran.
"Apa alasan Nyonya Erika tidak menyetujui mereka menikah Pa?"
"Perempuan itu hanya menginginkan harta Bima. Dia tidak benar-benar mencintai Bima."
"Dari mana Papa tahu?"
"Kamu meragukan Papa?"
Deva tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Bodohnya Bima, dia bahkan tidak menyelidiki kalau perempuan itu juga mempunyai kekasih lain di belakangnya."
"Hahh?"
"Tutup mulutmu, Dave." Pak Dika lagi-lagi tertawa melihat tingkah putra sulungnya.
"Kapan kau akan mengenalkan pacarmu pada Papa?"
"Kita lagi bahas Bima, kenapa malah jadi bawa-bawa aku segala?" Devan mengalihkan pembicaraan.
"Menurut Papa, apa asisten rumah tangga itu cantik, sampai-sampai Nyonya Erika menjodohkan Bima dengan dia?"
Pak Dika berdecak kesal, tetapi tak urung, dia menjawab juga pertanyaan Devan.
"Gadis itu sangat cantik untuk ukuran seorang asisten rumah tangga."
"Siapa yang cantik, Pa?" Iren, sang istri tiba-tiba datang mendekati mereka sambil membawa nampan berisi kopi dan camilan.
Perempuan itu kemudian duduk di samping Pak Dika.
"Renata, Ma."
"Renata, perawatnya Nyonya Erika?"
"Iya."
__ADS_1
"Mama kenal juga?" Devan mulai kepo. Sejak kapan kedua orang tuanya itu begitu tertarik membicarakan perempuan yang hanya bekerja sebagai asisten rumah tangga?
"Renata memang cantik, selain cantik, dia juga sangat baik. Gadis itu juga sangat menyenangkan. Iya, kan, Pa?" Iren tersenyum sambil membayangkan wajah Renata.
"Aku jadi penasaran dengan gadis itu," celetuk Devan.
"Gadis itu juga sepertinya sangat cocok denganmu, Dave. Iya kan, Pa?"
"Mama!"
Iren dan Pak Dika tertawa.
"Katanya perempuan itu istrinya Bima?"
"Mantan. Sebentar lagi gadis itu bakalan jadi mantannya Bima."
"Mama!"
"Loh, omongan Mama bener, kan, Pa? Papa yang bilang kalau mereka akan segera bercerai."
"Ma!"
"Renata itu menantu idaman. Walaupun dia itu hanya asisten rumah tangga, tapi dia-"
"Mama, ya Tuhan ... dia istri orang!"
"Mantan! Sebentar lagi dia akan jadi mantan istri orang." Iren kembali mengingatkan.
"Berarti janda dong?"
"Memangnya kenapa kalau janda? Papa juga menikahi Mama saat Mama sudah menjadi janda. Iya kan, Pa?"
"Ya, Tuhan ...."
Pak Dika dan Devan mengusap wajah mereka bersamaan.
"Kamu harus tahu, janda itu selalu di depan. Apalagi kalau jandanya masih muda dan cantik. Benar, kan, Pa?" Iren mencolek dagu suaminya dengan genit. Sementara Devan menepuk keningnya melihat tingkah absurd sang Mama.
"Janda selalu di depan. Tapi ingat! Jandanya harus cantik dan baik kayak Mama sama Renata."
Kedua lelaki berbeda usia itu melongo mendengar ucapan perempuan di depannya.
Bersambung ....
__ADS_1