MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 93 KEMBALI MEMOHON


__ADS_3

Bima mendekati Renata yang kini mencoba bangkit dari ranjang. Pria itu dengan cepat membantu Renata yang terlihat kesusahan.


Setelah Renata duduk di tepi ranjang, pria tampan yang terlihat lelah itu langsung berlutut dan memeluk Renata. Bima membaringkan kepalanya di pangkuan Renata membuat Renata sedikit terkejut dengan aksi Bima yang begitu tiba-tiba.


"Maaf! Maafkan aku ...." Kedua tangan Bima memeluk pinggang Renata.


Renata menatap pria itu dengan tatapan tak terbaca. Setiap kali ia mencoba menepis, tetap saja, setiap kali melihat Bima, ingatannya selalu kembali pada saat kejadian kecelakaan itu.


Aku sudah mencobanya, tapi tetap tidak bisa. Aku tidak bisa melupakan semuanya.


Kedua mata Renata berkaca-kaca, sementara suara isak tangis Bima membuat sudut hatinya terasa nyeri.


'Walaupun kamu menangis di depanku, tetap saja, semuanya tidak akan bisa kembali seperti semula.'


'Seandainya dulu, kau sedikit saja memberiku kesempatan meskipun kau tidak mencintaiku, aku yakin, hubungan kita tidak akan seperti ini.'

__ADS_1


'Kita berdua sama-sama korban keegoisan Nyonya Erika, seandainya dari awal kau bisa menerimaku walaupun tidak menganggapku sebagai istri, saat ini, kita pasti akan baik-baik saja. Kalau pun kita berpisah, perpisahan itu pasti tidak akan menjadi luka bagiku karena saat itu aku sangat tahu kalau kamu begitu mencintai kekasihmu.'


'Namun, semua terlambat. Gara-gara keegoisanmu, kini aku yang harus menanggung semuanya.'


Renata mengepalkan kedua tangannya. Mencoba menetralkan hatinya. Bertemu dengan laki-laki ini, membuat hatinya tidak baik-baik saja. Rasa kesal, marah, dan benci menjadi satu.


'Bagaimana aku bisa melupakan semuanya kalau setiap kali melihatmu membuatku terus mengingat kejadian itu?'


"Aku mohon ... maafkan aku. Aku akan melakukan apa pun agar kamu bisa memaafkan aku." Suara Bima kembali terdengar di tengah isak tangisnya. Namun, Renata tetap bergeming.


"Aku mohon, maafkan aku." Bima mendongakkan kepalanya menatap Renata. Air matanya terus mengalir membasahi wajah tampannya.


"Aku mohon ...." ulang Bima, menatap iba ke arah Renata yang masih terdiam. Melihat Renata yang terlihat tidak peduli dan mengabaikannya, jantung Bima serasa diremas-remas. Hatinya berdenyut nyeri ketika perempuan di depannya itu bahkan tampak tidak memedulikannya sedikitpun.


"Ren, aku tahu, kesalahanku tidak pantas untuk di maafkan, tapi aku mohon, beri aku kesempatan untuk menebus semua kesalahanku." Bima kembali mengulang-ulang ucapannya.

__ADS_1


"Maafkan aku, Ren, karena aku sudah membuatmu jadi seperti ini. Maafkan aku, aku mohon ...." Suara tangis Bima semakin terdengar. Pria itu kini sedang mencurahkan semua penyesalan dan juga rasa rindunya terhadap Renata.


Sudah seminggu lebih Bima menyibukkan diri dengan pekerjaan agar ia bisa melupakan wajah Renata yang terus membayanginya, tetapi, bukannya lupa, rasa ingin bertemu dengan Renata justru semakin kuat.


Akhirnya, hari ini Bima bertekad ingin menemui Renata, apa pun yang terjadi. Laki-laki itu tidak peduli walaupun Renata dan kedua adiknya kembali menolak dirinya, ia tetap akan datang, hingga akhirnya di sinilah dia sekarang.


Menumpahkan segala rasa rindu yang mencekiknya beberapa hari ini.


Rindu? Ya! Bima sangat merindukan Renata. Sangat merindukannya. Entah sejak kapan, rasa itu menyelinap di hatinya.


"Aku merindukanmu. Beberapa hari ini, aku mencoba menahannya, tetapi aku tidak tahan. Aku benar-benar merindukanmu, Ren," ucap Bima sambil terus menatap Renata yang masih terdiam menatap ke arahnya.


"Maafkan aku." Bima kembali membenamkan kepalanya di pangkuan Renata. Menumpahkan tangisnya sambil memeluk perempuan yang kini menempati ruang hatinya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2