MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 66 REKAMAN VIDEO


__ADS_3

Setelah puas menghajar Bima, Aldrian mencoba menetralkan perasaannya. Pria itu sangat marah, kesal, khawatir dan juga panik bercampur jadi satu setelah melihat video amatir itu di layar televisi.


Kekhawatirannya terhadap Renata semakin bertambah. Laki-laki itu benar-benar tidak bisa membayangkan seandainya terjadi sesuatu pada Renata.


'Kamu harus bertahan, Renata. Kamu harus tetap hidup, kamu bahkan belum merasakan bahagia, apalagi setelah kamu menikah dengan Bima.' Aldrian mengusap wajahnya dengan kasar.


Bayangan Renata saat menangis di pelukannya tadi siang masih teringat jelas. Bayangan saat dirinya berpamitan dengan Renata saat wanita itu masih dirawat juga masih terekam jelas di kepalanya.


Aldrian sungguh tidak menyangka kalau Renata akan mengalami kejadian tragis seperti ini. Bukan hanya Renata, tetapi juga Bi Yati, perempuan paruh baya yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.


Ya, Tuhan, aku mohon selamatkanlah mereka berdua. Aku mohon ....


Aldrian kembali menatap ke arah Bima. Pria itu terlihat frustasi apalagi saat dia baru saja mengetahui kebenaran lewat video amatir yang kini tersebar di media.


"Apa kau tahu Bima, kamu adalah pria terbodoh yang aku kenal! Kamu telah menyia-nyiakan perempuan sebaik Renata hanya demi perempuan ****** seperti Shinta!"


Bima menatap Aldrian saat laki-laki itu menyebut Shinta sebagai perempuan ******.


"Kenapa? Kau tidak terima karena aku menyebut Shinta sebagai perempuan ******?" Aldrian mengepalkan tangannya saat mengingat perbuatan Shinta yang terekam di video amatir itu.


Bukan hanya itu, Bima juga masih mengingat perbuatan Shinta dan Panji, beberapa menit sebelum insiden kecelakaan itu terjadi.


Sementara, Bima langsung bangkit dari duduknya. Mendengar nama Shinta disebut, Bima baru ingat kalau perempuan itu juga tadi sedang dalam keadaan terluka.


"Shinta. Di mana dia?"

__ADS_1


"Tetap di sini, Bima. Renata dan Bi Yati lebih penting daripada perempuan murahan itu!" teriak Aldrian.


"Shinta bukan perempuan ******! Dia istriku, Aldrian!" Bima tidak terima dengan ucapan Aldrian yang sedari tadi terus menghina Shinta.


"Saat ini dia sedang terluka, aku meninggalkannya saat aku ingin menolong Rena-"


"Ya Tuhan ... semoga tidak terjadi apa-apa pada anakku." Bima mengusap wajahnya kasar. Laki-laki itu baru ingat kalau Shinta juga terluka karena sedari tadi ia panik memikirkan Renata dan Bi Yati.


"Apa kau yakin kalau dia adalah anakmu?"


Bima menoleh ke arah Aldrian saat mendengar kata-kata yang terucap dari bibir pria itu.


"Apa maksudmu?" Bima menatap saudara sepupunya itu dengan penasaran.


"Selama ini kau begitu bodoh karena terlalu mempercayai perempuan itu, Bima." Aldrian menatap Bima dengan tajam.


"Jaga mulutmu, Aldrian! Shinta bukan perempuan murahan!"


"Oh, ya? Apa kau yakin?"


Aldrian mengambil ponsel di dalam saku kemejanya.


"Setelah melihat ini, apa kau yakin kalau perempuan itu mengandung anakmu?" Aldrian menunjukkan video saat dirinya merekam perbuatan Shinta dan Panji.


Aldrian sangat yakin, kalau bukan video itu saja yang akan membuat Bima terkejut. Akan tetapi, suara dua sejoli itu yang sedang membicarakan tentang kehamilan Shinta juga pasti akan menjadi pukulan berat buat Bima.

__ADS_1


Di dalam video itu, Shinta bahkan dengan begitu jelas mengatakan dan juga mengakui kalau anak yang sedang dikandungnya bukanlah anak Bima, melainkan anak dari berondong peliharaannya alias Panji.


"Tidak mungkin. Kau pasti bohong! Video ini pasti tidak benar!" Bima menggeleng, menatap tak percaya pada layar ponsel Aldrian yang sedang memperlihatkan adegan Shinta dan Panji yang sedang berciuman.


Bukan hanya itu, semua ucapan Shinta yang dengan gamblang menjelaskan siapa ayah dari calon bayi yang sedang dikandungnya membuat Bima tercengang, merasa tak percaya dengan ucapan perempuan yang sangat dicintainya itu.


Di dalam video itu, mereka melanjutkan aksi mereka di dalam mobil. Aldrian bahkan dengan jelas merekam saat dua insan itu memadu kasih di dalam mobil.


"Tidak mungkin ...."


Aldrian mengambil ponselnya dari tangan Bima.


"Aku membuntuti mereka saat aku baru keluar dari kamar inap Renata."


"Aku penasaran karena aku melihat istrimu bersama pria yang pernah mencoba mencelakai Renata. Kau pasti masih ingat dengan wajah laki-laki itu bukan?"


Bima mengepalkan tangannya saat rasa sakit mulai menjalar ke ruang hatinya. Ia sungguh tidak menyangka kalau wanita yang dicintainya selama bertahun-tahun itu ternyata mengkhianatinya.


"Kau memang bodoh! Mempertahankan wanita murahan yang hanya memanfaatkanmu kemudian membuang dan terus menerus menyakiti perempuan yang benar-benar tulus mencintaimu." Aldrian menatap wajah Bima yang tampak terkejut mendengar ucapannya.


"Setelah ini, aku yakin, kau akan menyesal seumur hidup karena sebentar lagi kau akan kehilangan semuanya!"


Bersambung ....


Sambil nunggu update, seperti biasanya, author bawa karya temen Author yang nggak kalah keren ....

__ADS_1



__ADS_2