
Shinta keluar dari rumah Renata dengan mengumpat kesal. Perempuan itu juga terus menepis tangan Bima yang mencoba menenangkannya.
Shinta benar-benar marah dan kesal. Harga dirinya merasa terinjak-injak karena perbuatan Bima dan Renata.
"Kalian berdua benar-benar brengsek!"
"Aku tidak menyangka kalau kalian berdua bermain di belakangku!"
"Sayang ... semuanya tidak seperti yang kau pikirkan. Aku dan Renata hanya memenuhi keinginan ibuku sebelum meninggal."
"Kalau kau memang mencintaiku, kau pasti akan menolak dengan tegas keinginan ibumu!" Shinta menatap Bima dengan marah.
"Aku tidak bisa menolak karena saat itu ibuku menyuruhku menikah dengan Renata tepat di hadapannya sebelum akhirnya ibuku meninggal."
"Setelah aku mengucapkan ijab kabul, beberapa menit kemudian ibuku meninggal."
Shinta mengepalkan tinjunya.
Dasar tua bangka! Di saat dia mau mati pun dia masih sempat menghalangi hubunganku dengan Bima.
Brengsek!
"Sayang ... maafkan aku. Aku tidak bermaksud menyembunyikannya darimu. Aku-"
"Aku tidak akan pernah memaafkanmu, Abimanyu! Kesalahanmu tidak bisa aku maafkan dengan mudah!"
"Sayang ...."
Renata masuk ke dalam mobilnya sambil membantu pintu mobil dengan keras.
__ADS_1
"Shinta, Sayang ... dengarkan dulu penjelasanku. Aku mohon ...." Bima mengetuk kaca mobil Shinta, tetapi perempuan itu tidak memedulikannya. Mobilnya melesat meninggalkan Bima.
"Sial!" Bima meremas rambutnya kasar.
Kenapa Shinta bisa sampai ada di sini?
Bima berteriak kesal. Sementara di dalam rumah, Renata dan ibunya saling berpelukan.
"Aku ingin segera mengakhiri semuanya, Bu."
"Iya, Ren, ibu akan mendukung semua keputusanmu."
"Apapun yang terbaik buat kamu, Nak."
"Terima kasih, Bu."
Nyonya Erika, maafkan aku dan Renata karena kami tidak bisa memenuhi wasiat terakhir Nyonya.
***
Hubungan Bima dan Shinta masih perang dingin setelah Shinta mengetahui kebohongan Bima yang menikah lagi dengan Renata.
Perempuan itu bahkan beberapa kali tidak pulang dengan alasan pekerjaan saat ia menginap dan bersenang-senang dengan Panji.
Sementara Bima menyibukkan diri dengan pekerjaan untuk sementara waktu. Semua pekerjaannya terbengkalai karena dia sibuk mengurusi urusan pribadinya.
Bima bahkan sampai lupa menghadiri sidang pertamanya meskipun Renata sudah mengingatkan lewat pesan.
Semenjak pertengkaran waktu itu, Renata juga sulit dihubungi. Rumahnya selalu sepi saat Bima mencoba datang ke sana.
__ADS_1
Ketidak hadiran Bima dalam sidang justru mempermudah Renata agar gugatan cerainya segera terkabul. Renata berharap semoga semua bisa cepat selesai dan dia bisa terlepas dari Bima secepatnya.
Meskipun Renata merasa terluka, tetapi itu jauh baik daripada ia terus menyiksa diri dan terjatuh semakin dalam karena rasa cintanya pada Bima yang tak kunjung hilang.
***
Aldrian datang menemui Renata setelah beberapa pekan dia tidak pernah menemui perempuan itu. Pria itu memilih mengubur perasaannya dalam-dalam pada Renata karena dia sadar, kalau Renata hanya mencintai Bima.
Sebelum terlanjur, lebih baik Aldrian menyerah. Toh, ia juga masih punya Vanya yang bahkan masih setia menemaninya. Gadis itu masih tinggal satu apartemen dengan Aldrian meskipun pria itu tak kunjung menikahinya.
"Halo, Cantik, tebak, aku membawakan apa untukmu?" Aldrian dengan senyum mengembang mendekati Renata yang saat itu sedang duduk di depan teras beralaskan karpet lembut.
Entah mengapa, akhir-akhir ini Renata sangat suka bersantai di depan rumahnya dengan menggelar karpet di sana.
Berasa seperti di pantai. Apalagi, saat angin semilir berhembus.
"Memangnya kau membawakan aku apa?" Renata merasa penasaran.
Sang ibu yang mendengar kedatangan Aldrian, datang menghampiri mereka dengan membawa nampan berisi minuman dingin dan satu piring rujak permintaan Renata.
Aldrian membuka kantong berisi makanan di depan Renata. Sebenarnya Renata sudah mencium aroma makanan apa yang dibawa oleh Aldrian. Namun, demi membuat senang sang pembawa makanan, Renata pura-pura tidak tahu. Ide jahilnya bahkan datang saat melihat Aldrian dengan begitu percaya diri memberinya kejutan.
"Aku membawa makanan kesukaan kamu. Bakso beranak dengan level super pedas," ucap Aldrian dengan senyum berbinar. Saat di telepon tadi, Renata mengatakan kalau dirinya ingin makan bakso kesukaannya.
Renata menatap Aldrian tak percaya.
"Tuan Aldrian yang paling tampan, apa kau tidak salah? Kau baru pulang dari luar negeri dan datang jauh-jauh ke sini dan hanya membawakan aku ... bakso?"
Bersambung ....
__ADS_1
Sambil nunggu Author update, cuzz melipir ke karya temen Author. Nggak kalah seru loh, ceritanya ....