
"Dasar brengsek, kau, Panji! Kamu bilang kamu kerja, ternyata kamu di sini asyik-asyikan sama perempuan lain?" Shinta berteriak memaki Panji yang saat ini sedang duduk bersama seorang perempuan cantik yang usianya terlihat lebih tua dari pria itu.
Saat ini mereka sedang berada di dalam restoran. Shinta memang sengaja membuntuti Panji karena merasa curiga dengan pria itu yang selalu berpamitan bekerja, tetapi pergi pagi dan pulang malam hari.
"Shinta!" Panji yang terkejut mendengar teriakan Shinta, menatap perempuan itu dengan marah. Pria itu sangat kesal karena Shinta telah membuat malu dirinya.
"Kenapa kau berada di sini? Apa kau mengikutiku?" Panji menarik perempuan yang sudah menjadi istrinya itu menjauh dari wanita yang saat ini sedang berkencan dengannya.
Wanita yang usianya jauh lebih tua darinya.
"Apa-apaan kamu, Shinta. Kenapa kau mengikutiku?" ulang Panji sambil terus menarik tangan Shinta sedikit menjauh dari tempat duduknya bersama wanita yang merupakan salah satu pelanggannya itu.
"Apa kau tidak tahu kalau aku sedang bekerja?" Panji menatap Shinta dengan marah.
"Bekerja kamu bilang? Menemani perempuan tua itu kamu bilang bekerja? Bekerja seperti apa yang kau maksud?" Shinta masih berteriak marah. Sementara Panji tertawa kecil.
"Sayang ... apa kamu lupa apa pekerjaanku selama ini? Sebelum kita menikah, kamu sangat tahu apa pekerjaanku bukan?"
"Jangan bilang, kamu lupa kalau kamu adalah salah satu klien aku saat itu." Panji tersenyum mencibir. Sementara Shinta melotot mendengar perkataan berondong yang kini menjadi suami juga ayah dari putranya.
"Jadi, maksud kamu–"
"Iya, Sayang ... memangnya aku akan mendapatkan uang dari mana lagi selain bekerja seperti itu? Dari mana aku bisa mendapatkan uang banyak kalau bukan dari pekerjaanku menjadi gigolo?"
Kedua mata kembali melebar. Selama ini, ia pikir Panji benar-benar bekerja. Akan tetapi, ternyata dugaannya salah. Pria itu justru memilih kembali terjun ke dunianya di masa sebelum pernikahan itu terjadi.
Menjadi pemuas nafsu wanita-wanita kesepian seperti dirinya dulu.
"Apa kamu lupa, berapa uang yang sering kamu minta setiap harinya? Kalau bukan karena aku bekerja, kamu tidak akan pernah mendapatkan uang sepeser pun dariku!"
__ADS_1
"Panji!" Shinta menatap Panji dengan kesal. Jadi, selama ini kamu bekerja untuk memuaskan mereka?"
"Apa kamu sudah gila? Kamu menikah denganku tetapi kamu masih memuaskan perempuan lain di atas ranjang?"
"Dasar, Brengsek!" Shinta mengumpat kesal. Beberapa pengunjung restoran yang mendengar perdebatan mereka, langsung menoleh ke arah Panji dan Shinta.
Wajah Panji merah padam mendengar makian perempuan itu. Netranya melirik ke arah perempuan yang menjadi pelanggannya. Perempuan berusia tiga puluh tahunan itu sedang menatap ke arahnya.
"Sebaiknya kau pulang dari sini, Shinta. Saat ini aku sedang bekerja."
"Aku tidak mengizinkan kamu untuk bekerja seperti ini, Panji. Kau bisa melakukan pekerjaan lain selain ini, Panji. Aku tidak mau kau melayani perempuan lain selain aku!"
"Heh! Sejak kapan kau berhak mengatur hidupku?"
"Aku berhak mengatur hidupmu karena kau adalah suamiku, Panji! Apa kau tidak ingat dengan semua janjimu padaku dan keluargaku?"
"Aku memang suamimu dan aku mencintaimu, tapi aku tidak bisa meninggalkan pekerjaan aku. Ini adalah satu-satunya pekerjaan yang aku punya untuk memenuhi kebutuhanmu. Jadi, terserah padamu. Aku tidak akan memaksamu untuk menerima uang yang kuberikan. Akan tetapi, satu hal yang harus kamu ingat, Shinta!" Panji menatap istrinya dengan tajam.
"Aku tidak akan pernah melepaskan kamu apalagi menceraikan kamu hanya karena kau membenciku dan tidak menyukai pekerjaanku!"
"Panji, kau–"
"Pulanglah! Urus anak kita dengan baik. Aku baru bisa pulang besok karena aku akan menemani wanita itu berlibur ke Bali."
"Apa?" Shinta melotot tajam mendengar ucapan Panji.
"Tidak perlu marah. Bukankah kemarin kau bilang menginginkan tas terbaru yang sedang saat ini sedang kau incar?"
Mendengar kata-kata Panji, wajah Shinta langsung berbinar.
__ADS_1
"Aku akan memberikan uang yang banyak padamu, tapi nanti, setelah aku berhasil memuaskan hasrat wanita itu."
"Panji!"
Panji kembali mendekati Shinta.
"Kau bisa memuaskan hasratmu untuk sementara dengan alat yang aku belikan untukmu kemarin. Setelah aku pulang, aku akan memuaskanmu sampai kau tidak sanggup untuk berjalan." Panji mengecup bibir Shinta sekilas sebelum akhirnya meninggalkan perempuan itu dan pergi meninggalkan restoran bersama perempuan yang telah membookingnya selama seminggu ke depan.
"Dasar, Brengsek! Sialan kau, Panji! Kamu pikir, hanya dirimu saja yang bisa melakukan ini padaku? Kau lihat saja nanti, kalau kau masih saja menjual tubuhmu untuk perempuan lain, aku pun tidak akan segan-segan menjual diriku pada laki-laki lain. Kau pikir, siapa dirimu sampai-sampai aku harus bertekuk lutut dan menuruti semua keinginanmu?"
Shinta terus memaki dalam hati sambil bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Beberapa pasang mata menatapnya dengan tatapan tak terbaca.
"Brengsek, kau, Panji!"
***
Bima menatap gadis cantik yang kini terbaring di ranjang pasien. Pria itu kini berada di rumah sakit terdekat yang ia temukan saat dirinya dengan panik menggendong tubuh perempuan yang tidak sengaja ia tabrak saat mobil yang Bima kendarai baru saja meninggalkan bandara.
Bima tidak sengaja menabrak gadis itu saat dirinya sedang tidak fokus mengemudi karena memikirkan kepergian orang yang sangat dicintainya, Renata.
Beruntung, tidak ada luka yang serius. Hanya luka lecet dan memar saja di beberapa bagian tubuhnya. Namun, semenjak kemarin gadis itu belum juga sadarkan diri.
Bima menghela napas panjang sambil mengacak rambutnya kasar.
Kenapa nasibku sial sekali? Sudahlah ditinggal Renata, sekarang malah nabrak orang.
Bima menatap wajah cantik itu. Meskipun wajahnya pucat, tetapi tidak bisa menyembunyikan kecantikannya.
Semoga gadis itu baik-baik saja.
__ADS_1