MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 117 MENGANTAR KE BANDARA


__ADS_3

Mendengar ucapan Bima, Renata mempererat pelukannya. Seandainya saja kata-kata itu terucap dari bibir Bima semenjak dulu, mungkin dia akan menjadi perempuan yang paling bahagia di dunia karena rasa cintanya terbalaskan.


Namun, kini semuanya sudah berubah. Perasaannya tidak lagi sama seperti dulu. Rasa cintanya pada pria yang sedang memeluknya saat ini sudah tidak tersisa lagi, kalau pun ada, biar lah rasa itu tersimpan di relung hatinya yang paling dalam.


Renata sudah tidak ingin lagi mengingat semuanya. Ia ingin membuka lembaran baru lagi. Tidak ingin kembali ke masa lalu apalagi kembali pada Bima.


Biarlah semua yang terjadi antara Bima dan dirinya akan menjadi kenangan. Kenangan indah karena pernah mencintai pria itu sekaligus kenangan menyakitkan karena perbuatan yang telah dilakukan laki-laki yang kini sedang memeluknya itu.


"Aku mencintaimu." Bima masih menangis memeluk Renata. Rasa sesal, rasa sakit juga perasaan tidak rela bercampur menjadi satu.


Seandainya saja semuanya tidak terlambat, mungkin saat ini dia sudah hidup bahagia bersama Renata.


Bima melepaskan pelukannya. Kedua matanya yang basah oleh air mata menatap wajah cantik Renata yang juga sama-sama menangis.


"Maafkan aku." Bima mengusap air mata di wajah Renata.


"Aku sudah memaafkanmu."


"Tapi aku tidak ingin kembali padamu," lanjut Renata.


"Aku tahu." Bima menatap perempuan itu sambil menghapus air matanya.


"Terima kasih sudah memaafkan aku. Berjanjilah padaku, kalau kamu akan baik-baik saja di sana."


Renata menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku merelakan kepergianmu asalkan kamu bahagia di sana. Aku doakan semoga kamu bisa pulih secepatnya." Pandangan Bima membingkai wajah Renata. Menyimpannya baik-baik di otaknya.


Setelah hari ini, entah kapan lagi dia akan bertemu perempuan yang dicintainya itu.


"Seharusnya aku yang menemanimu sampai kamu sembuh, Ren."


"Jangan mulai lagi, Tuan. Setiap kali aku melihatmu, bayangan masa laluku selalu hadir. Jangankan sembuh, yang ada aku akan semakin membencimu."


"Aku memang memaafkan kamu. Tapi sebagai manusia biasa, aku tidak bisa begitu mudah melupakan semua yang terjadi di antara kita."


Mendengar ucapan Renata, Bima tersenyum getir, seiring rasa sakit yang menghantam hatinya.


"Aku butuh waktu untuk menghapus semua luka di hatiku."


Renata menatap laki-laki yang dulu pernah sangat dikagumi dan dicintainya secara diam-diam itu. Dalam hati ada rasa iba, tetapi rasa sakit mendominasi.


"Kita harus ke Bandara sekarang." Suara Iren membuat dua orang yang baru saja meluapkan perasaannya itu menoleh ke arah Iren.


Renata dan Bima mengangguk bersamaan.


Selang beberapa menit kemudian, mereka semua sudah bersiap masuk ke dalam mobil. Aldrian melajukan mobilnya begitupun Bima. Rangga dan Damar yang baru sampai ikut masuk ke dalam mobil Bima. Mobil mereka beriringan menuju ke Bandara.


***


Mobil mereka kini sudah sampai di Bandara. Beruntung, jalanan ibukota siang itu tidak begitu macet, sehingga mereka sampai di bandara tepat waktu. Renata bahkan masih punya waktu sekitar satu jam sebelum boarding.

__ADS_1


Bima menatap Renata yang saat ini sedang berpelukan dengan kedua adiknya. Bima ingin menikmati wajah cantik itu untuk yang terakhir kalinya sebelum perempuan yang dicintainya itu benar-benar pergi meninggalkannya.


Setelah berpelukan dengan adiknya, gantian Aldrian yang mendekati Renata. Pria yang selalu memicu rasa cemburu di hati Bima itu terlihat mengusap lembut rambut Renata.


Renata meneteskan air matanya saat melihat laki-laki yang selama ini selalu melindungi dan membantunya itu kini berada di depannya. Aldrian memeluk tubuh Renata.


"Kamu harus baik-baik di sana. Kamu harus semangat agar kamu segera pulih." Renata mengangguk dalam pelukan Aldrian. Perempuan itu menangis.


"Terima kasih, Al."


Aldrian melepas pelukannya, kemudian mengusap air mata Renata.


"Kalau aku ada waktu, aku akan mengunjungimu di sana." Renata kembali mengangguk.


"Titip Rangga sama Damar, Al."


"Aku akan menjaga mereka. Kamu jangan khawatir." Aldrian mengusap kepala Renata sambil tersenyum.


"Ingat semua ucapanku saat kamu sudah sampai di sana."


Renata kembali mengangguk.


Aldrian menatap Bima yang masih berdiri tak jauh dari mereka. Pria itu kemudian bangkit, memberikan kesempatan pada Renata untuk berpamitan pada Bima.


Renata menatap Bima yang kini juga sedang menatapnya. Perempuan itu menatap Bima dengan tatapan tak terbaca.

__ADS_1


Semoga setelah sampai di sana, aku benar-benar bisa melupakanmu.


Bersambung ....


__ADS_2