
Renata sampai di rumahnya diantar oleh Aldrian. Sesuai dugaannya, Bima yang tadi pagi bersikeras ingin menjemputnya tidak kelihatan batang hidungnya sama sekali. Pria itu mengingkari janji untuk menjemputnya.
Renata mengembuskan napas panjang, tubuhnya sangat lelah setelah bekerja seharian dari pagi hingga malam. Seandainya saja Bima seperti suami dalam impiannya, dia pasti lebih memilih berdiam diri di dalam rumah dan menikmati hidup hidup sebagai Nyonya Abimanyu di rumah besar itu.
Namun, sayangnya menikah dengan Bima tidak seindah seperti dalam angannya selama ini. Renata Memang mencintai pria itu, tetapi, Bima tidak mencintainya.
Merasakan cinta yang bertepuk sebelah tangan adalah hal yang sangat menyakitkan, apalagi saat kita melihat orang yang kita cintai bahagia bersama dengan orang lain.
Renata bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Meskipun hari sudah malam, ia tetap harus mandi karena tubuhnya terasa lengket setelah bekerja seharian.
Di tempat lain, Bima saat ini sedang asyik melayani hasrat istri keduanya yang seolah tidak pernah puas. Semenjak perempuan itu hamil, Shinta sering kali mengajaknya bermain lebih dari satu kali sehari. Hasrat perempuan itu bertambah dua kali lipat semenjak hamil.
Bima menutupi tubuh polosnya dengan selimut saat permainan mereka berakhir. Tangannya meraih ponsel di atas nakas,
kedua matanya membola saat dia melihat jam pada ponselnya.
Saat ini sudah pukul 11.00 malam. Bima lupa, seharusnya dia menjemput Renata satu jam yang lalu. Saking asyiknya bermain dengan Shinta, Bima sampai lupa pada janjinya untuk menjemput Renata.
Laki-laki itu menarik napas panjang, mencoba menetralkan deru napasnya yang masih naik turun setelah permainan panasnya dengan Shinta. Sementara Shinta memejamkan matanya karena kelelahan.
Bibirnya tersungging senyuman, merasa puas karena hasratnya sudah tersalurkan. Shinta harus mengakui kalau Bima memang sangat hebat saat bermain di atas ranjang. Dia adalah pria terbaik yang bisa memuaskannya berkali-kali.
__ADS_1
Pria itu sangat hebat dibandingkan dengan pria-pria yang pernah bermain dengannya selama ini. Sebuah senyuman kembali terukir di wajah cantiknya, karena kelelahan, Shinta pun akhirnya tertidur. Sementara Bima sibuk mengirimkan pesan pada Renata.
Meminta maaf pada perempuan itu karena tidak bisa datang menjemputnya.
Meminta maaf?
Meskipun itu bukanlah gayanya, tetapi demi menutupi kesalahannya Bima akhirnya mengirimkan pesan permintaan maaf pada Renata.
Berkali-kali Bima mengirimkan pesan, tetapi, pesan itu hanya dibaca saja oleh Renata tanpa ada balasan satu pun. Bima bangkit dari tempat tidur. Pria itu meraih pakaian tidurnya yang berserak di lantai kemudian memakainya.
Bima melangkah menuju balkon sambil membawa ponselnya. Netranya mengawasi Shinta yang tertidur pulas setelah pergulatan panjang mereka usai.
Kenapa perempuan itu susah sekali saat dihubungi lewat telepon?
Bima mendesah kesal. Namun, tak urung juga terus mencoba berkali-kali menelepon istri pertamanya itu.
Merasa kesal karena Renata tak juga bisa dihubungi, Bima akhirnya menyerah. Pria itu kemudian naik ke atas ranjang untuk membaringkan tubuh lelahnya.
***
Pagi ini Renata tidak datang ke rumah besar keluarga Abimanyu. Mang Udin mengatakan kalau Bima sudah menempatkan dua orang asisten rumah tangga untuk menggantikan dirinya.
__ADS_1
Syukurlah! Jadi aku bisa bernapas lega sekarang. Aku tidak perlu repot-repot lagi datang ke sana.
"Mang Udin, bisakah Mang Udin mengatakan pada Tuan Bima kalau pagi ini aku tidak bisa datang ke sana? Aku-"
"Kau harus segera ke sini, Renata, karena kau harus memasak untukku!"
"Tu-Tuan ...."
"Cepat datang sekarang, kalau tidak-"
"Tidak bisakah sekali saja Tuan tidak usah mengancam saya? Tuan benar-benar menyebalkan!" Renata mematikan panggilannya secara sepihak.
"Renata-"
"Sial!"
"Kenapa dia suka sekali mematikan panggilan teleponnya saat aku sedang bicara?"
"Benar-benar menyebalkan!"
Bersambung ....
__ADS_1