
"Apa yang terjadi?" Aldrian bertanya dengan tidak sabar.
"Re-Renata, Al ... Renata!"
"Ada apa dengan Renata?" Aldrian mencengkeram baju Bima. Suaranya terdengar panik dan tidak sabar.
Bima meremas rambutnya. Wajahnya yang tadi seperti orang linglung langsung berubah panik.
"Renata dan Bi Yati kecelakaan."
"Apa?" Kedua mata Aldrian membola mendengar ucapan Bima.
"Bagaimana bisa?"
"Ceritanya panjang. Kita harus segera ke rumah sakit melihat keadaan mereka."
Bima bangkit kemudian berlari menuju rumah sakit diikuti oleh Aldrian.
"Sebenarnya apa yang terjadi?"
Adrian berteriak sambil berlari. Dadanya berdetak kencang mendengar ucapan Bima yang mengatakan kalau Renata dan Bi Yati kecelakaan.
Bima dan Aldrian sampai di depan ruang IGD. Napas mereka naik turun. Dari arah berlawanan, Devan terlihat bergegas masuk ke ruang IGD.
Namun, sebelum dokter tampan itu sampai di depan ruangan, kedua pria itu menghadang Devan.
"Devan. Bagaimana keadaan Renata dan ibunya?" Bima mendekati Devan dengan panik.
"Renata kehilangan banyak darah. Golongan darahku kebetulan sama, aku akan mendonorkan darahku untuk Renata." Devan bergegas masuk ke dalam, tetapi Bima dan Aldrian kembali menghadangnya.
"Apa golongan darahnya, Dev?"
__ADS_1
Devan menyebutkan golongan darah Renata.
"Golongan darahku tidak sama dengan Renata." Aldrian menatap Bima.
"Aku juga tidak." Bima meremas rambutnya dengan kesal.
"Kalau begitu, biar aku saja. Kalian tidak usah khawatir. Kalian berdoa saja semoga Renata bisa melewati masa kritisnya." Devan menatap kedua sahabat masa lalunya itu.
Aldrian dan bima mengangguk. Namun, dalam hati, mereka sangat kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong Renata.
Devan bergegas masuk ke dalam ruangan, sementaranya kedua laki-laki tampan itu berdiri di depan ruangan itu dengan wajah khawatir.
"Ceritakan padaku, Bima, apa yang terjadi sebenarnya, kenapa tiba-tiba Renata mengalami kecelakaan? Bukankah aku menyuruhmu untuk menjaganya?"
Bukannya menjawab pertanyaan Aldrian. Bima justru menutup wajahnya. Laki-laki itu menangis saat bayangan Renata tertabrak mobil kembali terlintas di kepalanya.
"Katakan padaku apa yang terjadi pada Renata, kenapa tiba-tiba dia dan ibunya mengalami kecelakaan, Bima?"
"Jawab, Brengsek!" Aldrian berteriak marah. Tangannya bergerak meraih kerah baju Bima.
"Jawab, Bima! Kenapa Renata bisa tiba-tiba mengalami kecelakaan?" Aldrian menatap tajam ke arah Bima.
"Jangan bilang, kalau kau adalah penyebab kecelakaan itu?"
Bima kembali mengeluarkan air mata. Tubuhnya gemetar mengingat kejadian kecelakaan itu.
Perdebatan mereka terhenti saat terdengar suara televisi yang cukup keras menayangkan berita kecelakaan yang baru beberapa menit yang lalu terjadi.
Perhatian Bima dan Aldrian tertuju pada layar datar yang sedang menayangkan berita terkini.
Beberapa gambar menunjukan lokasi kejadian kecelakaan di depan rumah sakit. Namun, ada hal yang sangat menarik dalam berita itu. Salah satunya adalah video amatir yang memperlihatkan detik-detik terjadinya kecelakaan.
__ADS_1
Dalam video yang berdurasi selama beberapa menit itu terlihat dengan jelas dari awal sebelum kecelakaan sampai akhirnya terjadilah kecelakaan itu.
Dalam video itu juga memperlihatkan adegan saat Shinta bertengkar dengan Renata. Saat perempuan hamil itu mendorong tubuh Renata dan Bi Yati hingga jatuh.
Video itu juga dengan jelas memperlihatkan saat Shinta berusaha mendorong dan menarik rambut Renata, tetapi gagal karena Renata berhasil menghindar.
Shinta yang kehilangan keseimbangan akhirnya terjatuh. Pada saat Shinta jatuh, terjadilah salah paham yang menjadi detik-detik terjadinya kecelakaan itu.
Aldrian masih mencengkeram kerah baju Bima, sementara tubuh Bima bergetar saat melihat kenyataan yang sebenarnya.
Apalagi, saat video itu menayangkan gambar Bi Yati tertabrak mobil saat mengejarnya yang berlari menggendong Shinta.
Pukulan Aldrian melayang di wajah tampan Bima. Laki-laki itu dengan marah memukul Bima setelah melihat video amatir yang diputar di layar datar yang kini sedang mereka tonton.
Video itu dengan jelas memperlihatkan detik-detik terjadinya kecelakaan itu.
"Kau benar-benar, brengsek, Bima! Kau membiarkan mereka berdua celaka sementara kau justru menyelamatkan perempuan murahan itu?" Aldrian kembali berteriak sambil terus mengajar Bima.
"Laki-laki bodoh! Brengsek! Sialan!"
Aldrian kembali memukul Bima. Laki-laki itu terdiam, tak membalas sekalipun pukulan dari Aldrian.
Bima sepertinya bertambah syok saat mengetahui kejadian yang sebenarnya lewat video amatir yang kini berseliweran di media sosial.
"Jika terjadi sesuatu pada Renata, aku benar-benar akan membuat perhitungan denganmu!"
Bersambung ....
Baca juga karya temen Author yang satu ini yuk!
__ADS_1