MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 95 MEMBANTU RENATA


__ADS_3

Renata mendorong tubuh Bima yang saat ini berada di sampingnya. Perempuan itu sangat kaget saat terbangun dan mendapati laki-laki yang masih menjadi suaminya itu tertidur di sampingnya.


"Kenapa Tuan bisa berada di sini?" Renata berteriak marah. Ia sungguh sangat kesal dengan apa yang sudah dilakukan oleh Bima.


Seenaknya saja pria itu menggunakan kesempatan saat dirinya tertidur.


Bima meringis kesakitan sambil memegangi bagian tubuh belakangnya yang cukup keras menghantam lantai. Ranjang Renata memang agak tinggi jadio'.' saat terjatuh dari sana, rasanya lumayan sakit.


"Sakit, Ren." Bima masih memegangi bokongnya.


"Rasain! Suruh siapa Tuan tidur di sini?" Suara Renata masih meninggi. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Bima akan tidur di sebelahnya.


"Maaf! Saat aku melihatmu tertidur pulas, aku jadi ingin ikut tidur juga. Maaf!" Wajah Bima terlihat memelas. Sungguh bukan seperti Bima yang selama ini Renata kenal.


Kemana sikap arogan tuan muda di depannya ini?


Renata mencibir wajah tampan di depannya ini. Bima memang tampan. Wajah tampannya itu sungguh tidak sesuai dengan sikapnya yang begitu keras kepala dan egois.


"Aku memang mengizinkan Tuan ke sini, tapi bukan berarti Tuan bisa seenaknya. Apa Tuan lupa apa yang aku katakan kemarin?"


"Maaf!" Hanya kata-kata itu yang kembali keluar dari mulut Bima. Laki-laki itu sengaja berhati-hati dengan ucapannya karena dia tidak mau kembali membuat Renata marah.


Renata menatap Bima dengan kesal.


"Pergilah! Aku ingin ke kamar mandi."

__ADS_1


"Aku akan membantumu."


"Tidak perlu. Tolong panggilkan Rangga atau Damar ke sini."


"Biar aku yang membantumu." Bima bersikeras.


"Tuan jangan memaksaku. Aku tidak ingin Tuan membantuku."


"Renata, bagaimanapun, aku adalah suamimu. Aku berhak membantumu juga merawatmu." Renata mengepalkan tangannya. Sepertinya, tuan muda di depannya ini sudah lupa dengan apa yang sudah mereka sepakati kemarin.


"Apa Tuan lupa dengan perjanjian kita kemarin?" Renata menatap tajam ke arah Bima yang langsung terdiam mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Renata.


Memang benar, kemarin dia sudah berjanji akan menuruti semua aturan yang Renata buat seandainya pria itu ingin Renata mengizinkannya datang.


Namun, salahkah jika ia ingin membantu Renata yang sedang kesusahan?


"Kalau begitu, izinkan aku mengantarkanmu ke kamar mandi. Aku akan menunggumu di luar." Bima menatap Renata yang masih menatapnya dengan tajam. Perempuan itu terlihat sangat kesal.


Bima mengangkat tubuh Renata. Renata yang mengira kalau Bima hanya akan membantunya duduk di kursi roda tidak menolak saat pria itu menggendongnya.


Namun, detik berikutnya Renata berteriak kesal karena Bima ternyata menggendongnya menuju kamar mandi.


"Kenapa kau menggendongku sampai ke sini?" kedua mata Renata melotot saat Bima mendudukkan tubuhnya di atas kursi yang memang sudah disediakan oleh Rangga jika kakak perempuannya itu ingin mandi.


Semenjak Renata tidak bisa berjalan, kedua adiknya itu membantu semua kebutuhan Renata untuk mempermudah kakak perempuannya itu.

__ADS_1


"Aku akan menyiapkan air hangat untukmu, setelah itu aku akan membantu membersihkan tubuhmu."


"Sebaiknya Tuan jangan macam-macam. Aku tidak akan mengijinkan Tuan untuk menyentuhku." Renata menyilangkan tangannya menutupi dadanya. Sementara Bima tersenyum.


"Aku tidak akan menyentuhmu meskipun aku ingin. Aku hanya ingin membantumu. Aku yakin, selama ini kau pasti tidak berani menyuruh adikmu untuk membantumu di kamar mandi bukan?"


Bima menyalakan air untuk mengisi bathup. Pria itu menyiapkan air hangat agar Renata bisa berendam. Sementara Renata hanya terdiam menatap Bima.


Memang benar, sudah lama Renata ingin mandi berendam. Akan tetapi, ia merasa tidak enak jika harus minta tolong pada kedua adik lelakinya.


Meskipun mereka berdua adalah adik kandungnya sendiri, tetapi tidak mungkin Renata meminta tolong pada mereka. Bagaimanapun, mereka adalah dua pria yang sudah beranjak dewasa.


"Aku akan membantumu." Bima mendekati Renata. Sementara Renata menggeleng.


"Aku hanya ingin membantumu membersihkan tubuhmu Renata."


"Jangan menyentuhku!"


Bima menghembuskan napas panjang. Perempuan ini benar-benar keras kepala.


"Kamu jangan lupa, kalau aku ini masih suamimu, aku masih berhak melihat bahakan menyentuh tubuhmu." Bima dengan perlahan membuka baju Renata meskipun wanita itu sedari tadi memberontak.


"Tuan juga jangan lupa, kalau sebentar lagi Tuan juga akan menjadi mantan suamiku!"


Bersambung ....

__ADS_1


Sambil nunggu cerita ini update, kalian bisa baca juga karya author yang lainnya yang nggak kalah seru.


CINTA KARMILA dan MATI RASA


__ADS_2