
Setelah penolakan Renata beberapa hari yang lalu, Bima masih tidak menyerah. Merasa mendapatkan lampu hijau dari Renata, laki-laki itu bertekad ingin kembali merebut hati Renata.
Sementara itu, Renata harus rela menahan kekesalannya setiap kali melihat laki-laki itu. Hampir setiap hari Bima bolak-balik ke villa untuk menemui Renata.
"Tuan, memangnya Tuan tidak bekerja? Kenapa Tuan setiap hari ke sini?"
"Berhenti memanggilku Tuan, Renata." Bima menata perempuan cantik berkursi roda itu.
Renata baru saja melakukan terapi. Bima sengaja datang saat Renata sudah selesai melakukan terapi. Sebenarnya Bima sudah berada di depan pintu gerbang saat perempuan itu ditemani beberapa orang dokter sedang berjuang untuk kembali bisa berjalan lagi.
Bima mengintip dari balik pagar seperti biasa yang ia lakukan. Laki-laki itu tidak mau kalau Renata merasa terganggu saat dirinya tiba-tiba muncul saat gadis itu melakukan terapi.
Biar bagaimanapun, perempuan di depannya ini masih membencinya walaupun dia mengatakan sudah memaafkan semua kesalahannya di masa lalu.
"Tuan sendiri yang menyuruhku memanggil seperti itu, kenapa sekarang Tuan merasa keberatan?" Renata tersenyum mencibir.
"Sekarang aku ini bukan lagi Tuanmu. Apa kamu lupa kalau kamu bahkan sudah lama tidak bekerja di rumahku?" Bima menatap perempuan itu dengan rasa bersalah. Kenapa dulu dia begitu jahat pada Renata?
Laki-laki itu mengembuskan napas panjang.
"Maafkan aku."
Mendengar kalimat andalan Bima, Renata berdecak kesal.
"Tidak bisakah kau benar-benar memaafkan aku dan berhenti membenciku?"
"Aku juga ingin seperti itu, Tuan. Tapi aku tidak bisa. Setiap kali melihatmu, rasa ini kembali datang. Rasanya aku ingin-"
"Lakukan apa pun yang ingin kau lakukan padaku, Ren. Kau boleh memukulku, memaki aku, atau apa pun itu kalau itu bisa menghilangkan kebencianmu padaku-"
"Tidak semudah itu, Tuan," potong Renata cepat.
__ADS_1
"Seandainya semudah itu, aku pasti sudah melakukannya dari dulu." Perempuan itu menatap Bima sekilas. Sementara Bima kembali menghela napas panjang.
"Tidak perlu ucapkan kata-kata itu lagi, aku bosan mendengarnya," ucap Renata saat ia melihat Bima kembali ingin mengucapkan permintaan maaf padanya.
"Aku akan terus mengatakannya sampai suatu hari kamu benar-benar memaafkanku."
Kaki ini, Renata yang menghela napas panjang. Netranya berkeliling mencari sosok Devan yang langsung pergi meninggalkannya setelah Bima datang.
Pria itu ....
Renata kembali mengingat saat Devan mengatakan perasaannya waktu itu. Namun, setelah kedatangan Bima, pria itu seolah menghindarinya.
Seharusnya kamu tetap di sini, Dev, agar aku tidak perlu berbicara panjang lebar dengannya.
Renata melirik Bima yang masih menatapnya.
"Ren, apa kamu benar-benar tidak ingin memberikan aku kesempatan untuk menebus kesalahanku? Aku ingin berada di sampingmu, menemani kamu, ak-"
Laki-laki itu terlihat mengangguk dengan rasa bersalah. Bima menyandarkan kepalanya di sofa sambil memejamkan matanya. Apalagi, saat rasa sakit mulai menjalar ke relung hatinya.
"Kita tidak mungkin bersama lagi, Tuan. Terlalu banyak kisah yang menyakitkan. Aku tidak mungkin kembali pada orang yang sudah mengukir luka yang sangat dalam di hatiku. Lagi pula, kita sudah bercerai, kita tidak mungkin bisa kembali bersama."
Kata-kata yang keluar dari mulut perempuan yang dicintainya itu laksana air garam yang menyiram luka di hatinya, membuat Bima seketika menepuk dadanya yang terasa sesak.
"Kamu bisa mencari perempuan lain di-"
"Aku hanya menginginkanmu, Renata, bukan orang lain!" Bima kembali memfokuskan pandangannya pada Renata.
"Sayangnya, aku sudah tidak menginginkanmu, Tuan. Semua rasa yang kumiliki untuk Tuan, sudah hilang, tidak tersisa sedikitpun di sini." Renata menunjuk ke hatinya.
"Ren ...."
__ADS_1
"Jangan keras kepala, Tuan. Jangan memaksaku untuk kembali membencimu."
"Renata ...."
Bima kembali menyandarkan kepalanya sambil memejamkan matanya.
"Kenapa rasanya sangat sakit sekali, Ren? Hatiku ...."
"Itu belum seberapa dibandingkan apa yang pernah aku rasakan dulu, Tuan.
"Maafkan aku."
"Bahkan kata maafmu tidak bisa menghapus semua luka yang pernah kau berikan."
Renata menatap Bima yang saat ini sedang menatapnya. Dalam hati, ia berharap semoga pria ini cepat menyerah, karena dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Renata benar-benar tidak ingin kembali padanya.
Jangankan kembali padanya, hanya dengan memikirkannya saja, hatinya sudah berdenyut sakit. Sedalam itulah luka yang telah pria itu goreskan pada hatinya, hingga rasanya, Renata tidak akan sanggup untuk bisa memaafkan pria itu dengan tulus meskipun ia sudah mencobanya.
"Di antara kita sudah berakhir. Berhentilah melakukan sesuatu yang hanya akan membuatku semakin membencimu, Tuan."
"Cukup sudah! Akhiri semuanya, karena biar bagaimanapun atau apa pun alasannya, kita tidak mungkin bisa kembali bersama lagi."
"Renata ...." Bima mengepalkan tangannya.
"Semuanya sudah berakhir, Tuan. Berhentilah memaksaku, karena keputusanku tetap tidak akan berubah."
Renata menatap pria di depannya itu. Wajah Bima terlihat memerah. Kedua matanya berkaca-kaca.
Sementara, tidak jauh dari mereka, Aldrian dan Devan sama-sama menarik napas panjang melihat Bima yang begitu keras kepala.
Bersambung ....
__ADS_1