MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 110 GADIS PENOLONG


__ADS_3

Devan duduk sendirian di ruang keluarga yang terletak di depan kamar Renata. Dokter tampan itu sesekali melirik ke arah kamar di mana Bima sedang berbicara dengan Renata di sana.


Aldrian baru saja pulang setelah ponselnya berdering. Sepertinya ada sesuatu yang penting hingga laki-laki itu langsung pergi sesaat setelah mendapatkan telepon dari sekretarisnya.


Devan menghembuskan napas panjang ketika bayangan masa lalunya kembali terlintas. Saat itu, untuk pertama kalinya Devan bertemu dengan perempuan yang mampu menggetarkan hatinya.


Devan berlari dengan terburu-buru saat dirinya baru saja mendapatkan telepon dari rumah sakit kalau pasien yang sedang ditanganinya mengalami kritis.


Laki-laki berwajah tampan berkulit putih dengan rambut pendek lurus itu berlari tanpa memperhatikan jalan. Devan sangat terkejut saat tiba-tiba seseorang berlari ke arahnya kemudian mendorong tubuhnya cukup keras, hingga akhirnya mereka terjatuh bersamaan di pinggir jalanan beraspal. Detik berikutnya, sebuah mobil berkecepatan tinggi melintas tepat di samping mereka.


Orang yang baru saja menabraknya itu bahkan memejamkan mata karena ia mengira kalau mobil itu bisa saja melindas kakinya yang kini masih berada di pinggir jalan raya, sementara tubuh mereka berhimpitan terjatuh di atas trotoar.


Devan yang masih sangat terkejut dengan kejadian yang menimpanya merintih merasakan sakit saat punggungnya menimpa trotoar jalan dengan lumayan keras, sementara di atas tubuhnya ia merasakan beban berat karena orang yang baru saja mendorongnya saat ini berada di atas tubuhnya.


Beberapa detik yang lalu Devan ingin sekali memaki, tetapi saat melihat mobil melintas tepat sesaat dia terdorong oleh orang itu, semua umpatannya tertelan kembali di tenggorokan.


Kedua netranya justru langsung terhipnotis melihat raut wajah pucat milik seorang gadis cantik yang kini terbaring di atas tubuhnya. Bibirnya tampak bergetar karena panik.


Tangan Devan mengusap punggung gadis cantik yang saat ini sedang menatapnya tak berkedip. Detakan jantungnya yang saat ini menempel di atas dada bidangnya terdengar di telinga Devan.


Devan yang masih tampak terkejut, menatap perempuan cantik itu dengan lekat. Memindai wajah gadis yang tiba-tiba membuat hatinya berdebar-debar untuk pertama kalinya.


"Tuan tidak apa-apa?" Suara


gadis itu menyapa pendengarannya, membuat Devan tersadar.


"Ma-maaf!" Perempuan itu bangkit dari atas tubuh Devan. Wajahnya yang tadi terlihat pucat kini berubah merona, merasa malu saat menyadari posisinya yang berbaring di atas tubuh pria yang baru saja ditolongnya.

__ADS_1


Perempuan berwajah cantik dengan rambut panjang bergelombang itu berlari kencang ke arah Devan dan langsung mendorong tubuh pria itu saat dirinya melihat sebuah mobil yang melaju cepat ke arah pria yang saat itu sedang berjalan terburu-buru tanpa memperhatikan jalan.


Sepertinya mobil yang melaju itu sedang kehilangan kendali hingga pria yang saat itu berjalan dengan tergesa itu hampir saja tertabrak, padahal posisinya masih di pinggiran jalan.


Devan meringis, merasakan sakit di punggungnya. Namun, kedua matanya tak beralih sedikitpun pada wajah cantik yang baru saja menolongnya.


Melihat pria yang ditolongnya itu merasa kesakitan, perempuan itu kemudian mendekati Devan. Darah mengalir di kedua siku Devan yang menghantam keras ke arah trotoar.


Gadis penolong itu kembali panik saat melihat orang yang ditolongnya itu terluka. Belum sempat dia mengatakan apa pun, ponsel milik pria itu berdering.


"Dokter, Anda harus segera ke rumah sakit, pasien Anda-"


"Tolong suruh Dokter Nina segera memberi tindakan. Aku tidak bisa sampai di rumah sakit tepat waktu."


"Aku mengalami kecelakaan."


"Apa?" Terdengar suara teriakan di ujung di sana.


"Aku baik-baik saja." Devan kemudian mengakhiri panggilan teleponnya secara sepihak. Wajah tampannya kembali meringis membuat perempuan yang sedari tadi memperhatikannya itu terlihat khawatir.


"Aku akan mengantarkan Tuan ke rumah sakit."


Devan tak menolak saat perempuan itu membantunya bangkit. Jalanan di sana sangat sepi sehingga tak ada satupun orang yang lewat untuk membantu mereka.


Devan menunjuk ke arah mobilnya.


"Mobilku ada di sana."

__ADS_1


Gadis itu mengangguk, kemudian berjalan menuju mobil Devan.


Tanpa pikir panjang, perempuan itu dengan cepat melajukan mobilnya menuju rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit terdekat, Devan dibawa petugas medis ke ruang IGD. Gadis itu tidak membawa Devan ke rumah sakit di mana Devan bertugas karena rumah sakit itu terletak lumayan jauh dari tempat kecelakaan terjadi.


Saat Devan sudah di ruang IGD, gadis itu pergi tanpa sepengetahuan Devan. Pria itu baru menyadari kepergian gadis penolong itu saat dirinya selesai diperiksa dan menanyakan pada perawat tentang keberadaan gadis itu.


Merasa penasaran, Devan memaksa sang perawat membawanya ke resepsionis. Saat Devan bertanya pada resepsionis, gadis yang menolongnya itu mendaftarkan dirinya dengan nama Renata.


Sang resepsionis mengatakan kalau perempuan bernama Renata itu tidak membawa kartu identitas.


"Setelah menerima telepon, gadis itu buru-buru pergi sambil meninggalkan ini." Perempuan berseragam itu menunjukkan kunci mobil milik Devan.


Devan yang saat itu menggunakan kursi roda diikuti seorang perawat di belakangnya hanya bisa menarik napas panjang sambil meringis merasakan sakit akibat terjatuh tadi.


Aku bahkan belum sempat mengucapkan terima kasih padamu.


"Renata ...." Devan bergumam, mengingat ucapan petugas resepsionis yang mengatakan kalau perempuan yang menolongnya itu bernama Renata.


Lamunan Devan buyar seketika saat mendengar pintu kamar Renata terbuka. Bima keluar dari kamar itu dengan wajah sendu. Kedua mata pria itu bahkan terlihat sembab.


Melihat keadaan pria itu, Devan sudah bisa menebak apa yang terjadi. Entah ia harus senang atau sedih. Devan memang mencintai Renata, tetapi dia juga tidak bisa melihat sahabatnya itu bersedih.


Devan bukanlah laki-laki egois yang tidak peduli dengan perasaan orang lain.


"Dia mau memaafkan aku, tetapi dia tidak mau kembali padaku, Dev. Padahal aku benar-benar sangat mencintai dia. Sekarang ini, dalam hatiku hanya ada dia ...."

__ADS_1


.


Bersambung ....


__ADS_2