MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 59 RUMAH SAKIT


__ADS_3

Bima menatap Renata yang kini terbaring di ranjang pasien dengan kedua mata terpejam. Laki-laki itu mendekati perempuan yang menjadi istri pertamanya itu.


Perasaannya sedikit lega karena dokter mengatakan kalau Renata baik-baik saja. Wanita itu hanya kelelahan dan terlalu banyak pikiran.


Selama ini, Bima memang tidak mengetahui apa pun tentang Renata. Pria itu hanya tahu kalau Renata adalah gadis yang sangat keras kepala dan sangat susah untuk ditaklukkan.


Bahkan saat diiming-imingi kemewahan pun, perempuan itu tetap tidak peduli. Sangat berbanding terbalik dengan Shinta yang akan hilang marahnya setelah Bima membelikannya sesuatu yang perempuan itu inginkan.


Bima membelai wajah cantik Renata yang terlihat pucat. Bayangan saat ia menyentuh Renata saat perempuan itu dalam pengaruh obat yang diberikan Panji kembali terlintas.


Dulu aku memang sangat ingin melepaskanmu. Namun, setelah aku menyentuhmu dan menjadi orang yang pertama bagimu, rasanya sangat berat bagiku untuk melepaskanmu begitu saja. Apalagi, melepaskanmu demi pria lain.


Aku ingin memperbaiki semuanya dari awal, tetapi kenapa kau justru ingin berpisah denganku?


Bima merapikan rambut Renata yang menyelipkan rambut Renata ke belakang telinga, perempuan itu tertidur setelah puas menangis bersama sang ibu mertua. Entah apa yang membuat perempuan itu bersedih.


Saat di depan rumah beberapa saat yang lalu juga dia menangis di pelukan Aldrian, hingga membuatnya naik darah. Merasa tidak terima saat Aldrian memeluk Renata.


Bima menggenggam tangan perempuan itu, kemudian menciumnya dengan lembut.


"Cepat pulih, aku tidak suka melihatmu lemah seperti."

__ADS_1


Bima menggenggam tangan Renata erat. Laki-laki itu membaringkan kepalanya di sisi ranjang.


Bi Yati dan Aldrian yang mengintip dari pintu yang sedikit terbuka bernapas lega. Tadinya mereka khawatir kalau Bima akan melakukan sesuatu pada Renata karena saat kejadian beberapa saat lalu, pria itu dalam keadaan marah pada Renata.


"Bima itu sebenarnya sudah mulai menyukai Renata, hanya saja, dia tidak menyadarinya," ucap Aldrian memegang bahunya.


"Iya, Den. Sayangnya, saat Bima menyadari perasaannya, semua sudah terlambat. Sebentar lagi mereka bercerai." Bi Yati menjawab kata-kata Aldrian sambil menghela napas berat.


"Sepertinya Renata begitu mantap berpisah dari Bima, padahal ibu sangat tahu, kan, kalau Renata sangat mencintai Bima?"


Bi Yati mengangguk. "Renata orang yang sangat keras, tidak mudah membujuknya, apalagi, kalau sudah menyangkut harga dirinya."


"Renata bukan tipe orang yang suka ditindas dan direndahkan. Apalagi, dari awal pernikahan, Bima hanya membuatnya sakit hati."


"Renata mencintai Bima, tetapi Bima mencintai perempuan lain bahkan sudah menikahinya juga. Ini pasti sangat berat buat Renata." Aldrian juga ikut menghela napas. Ikut prihatin dengan nasib pernikahan Renata yang kini berada di ujung tanduk.


Seandainya kamu tidak bodoh, kamu pasti beruntung mendapatkan perempuan sebaik Renata.


***


Renata membuka matanya, kepalanya terasa berdenyut sakit. Renata tampak terkejut saat melihat seseorang kini sedang membaringkan kepalanya di sisi ranjang.

__ADS_1


Wajah Bima yang tertidur menghadap ke arahnya. Sudut bibir Alya tertarik membentuk senyuman. Tangannya terulur membelai rambut Bima.


*Seandainya saja kita ditakdirkan untuk bersama, aku pasti akan sangat bahagia karena bisa hidup bersama dengan orang yang sangat aku cintai.


Namun, sayangnya hatimu milik orang lain. Sekeras apa pun aku berjuang, aku pasti tidak akan pernah bisa mendapatkanmu*.


Renata mengusap perutnya. Meskipun sampai sekarang ia masih syok dan belum menerima kehamilannya, tetapi Renata sadar, calon anak yang saat ini ada dalam perutnya tidaklah bersalah.


Hanya saja, kehadirannya tidak tepat. Kenapa dia harus hadir saat dirinya memutuskan untuk berpisah dengan pria ini?


"Tenang, Renata. Kamu tidak boleh stres, karena itu akan membahayakan janin yang kini sedang tumbuh di rahimmu." Ucapan Devan kembali terngiang.


Tangan Renata terulur membelai rambut Bima.


Seandainya saja kau juga punya perasaan yang sama denganku, aku pasti akan menjadi orang yang paling bahagia di dunia.


Renata memejamkan matanya saat rasa sakit kembali menyerang hatinya. Air matanya mengalir begitu saja.


Kenapa mencintaimu harus sesakit ini?


Bersambung ....

__ADS_1


Mampir yuk, ke karya temen Author yang satu ini. Keren juga loh, ceritanya.



__ADS_2