MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 82 TERLAMBAT


__ADS_3

Renata kembali tertidur setelah puas menangis. Menangis menghadapi kenyataan kalau ia tidak bisa berjalan akibat cedera saraf tulang belakang. Sudah beberapa hari ini, perempuan itu terus menangis.


Renata belum siap menghadapi kenyataan yang saat ini menimpa dirinya akibat kecelakaan itu.


Namun, dokter mengatakan kalau kondisi Renata tidak terlalu parah, hingga suatu saat ada kemungkinan kalau dia bisa berjalan lagi.


Devan sudah berdiskusi dengan beberapa dokter di rumah sakit untuk menangani dan memberi tindakan yang tepat agar perempuan itu bisa kembali pulih, meskipun peluangnya hanya sedikit.


Rangga menatap dengan iba keadaan sang kakak yang selama ini menjadi tulang punggung keluarganya. Sementara Damar, adik lelakinya sudah kembali ke kampung karena dia harus mengikuti ujian kelulusan.


Meskipun berat meninggalkan sang kakak, tetapi Damar akhirnya menurut saat Renata memaksanya. Sedangkan Rangga memutuskan untuk menghentikan kuliahnya untuk sementara. Pria itu ingin fokus menemani dan menjaga Renata, apalagi setelah ia tahu cerita tentang Renata dari Aldrian dan Devan.


Bima mendekati Renata yang masih tertidur. Pria itu diizinkan oleh Rangga untuk menemui Renata saat perempuan itu tertidur. Rangga tidak mau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan saat sang kakak berhadapan langsung dengan Bima.


Bima menatap Renata dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya. Tangannya meraih tangan Renata dan menciumnya berkali-kali.


"Maaf, maafkan aku. Aku tahu, kesalahanku terlalu besar padamu, tapi aku mohon, maafkanlah aku." Bima kembali mencium tangan Renata. Kedua matanya tak lepas dari wajah cantik Renata yang terlihat pucat.

__ADS_1


Sudah beberapa hari ini Renata kehilangan semangat setelah mengetahui kalau dirinya tidak bisa berjalan alias lumpuh. Mengingat kenyataaan itu, membuat hati Bima terasa dihujam ribuan panah.


Laki-laki itu sungguh menyesal.


Gara-gara dirinya, Renata harus menanggung derita.


Bima mendekatkan bibirnya, pada wajah Renata.


"Maaf! Aku mohon, maafkanlah aku. Maafkan aku, Renata. Maaf!" Bima menangis. tangannya melingkar pada tubuh perempuan itu. Sementara wajahnya tenggelam di ceruk leher Renata.


Entah perasaan apa yang aku punya selama ini untukmu. Aku hanya tahu, semenjak aku menyentuhmu malam itu,aku ingin sekali berada dekat denganmu. Hanya saja, seperti ada tembok yang menghalangi, hingga kamu sangat susah untuk aku dekati.


'Aku memang mencintai Shinta, tetapi aku tidak menyadari kalau kamu perlahan menyelinap masuk dan mulai menggeser posisinya di dalam hatiku.'


'Keegoisanku, kemarahanku, membuatku tidak menyadari kalau sebenarnya kamu pun punya posisi yang sama di hatiku.'


'Renata, maafkan aku. Maafkan aku. Melihatmu seperti ini, membuatku merasa sakit. Sakit karena aku telah menyebabkan semua penderitaan yang kau alami.'

__ADS_1


'Selama ini aku tidak menyadarinya, aku tidak menyadari kalau apa yang aku lakukan telah menyakiti hatimu.'


'Aku marah karena saat itu kamu menerima keputusan ibuku untuk menikah denganku. Aku pikir, kamu dan ibumu sengaja bekerja sama dengan ibuku untuk mengatur semua pernikahan kita.'


'Akan tetapi, ternyata dugaanku selama ini salah. Kamu berkorban untukku dengan cara menyetujui pernikahan itu karena kamu ingin membantuku untuk menyelamatkan semua aset milikku yang telah diwariskan ibu padaku agar tidak jatuh ke tangan Shinta dan keluarganya.'


"Maaf! Maafkan aku Renata." Bima kembali mendekatkan wajahnya kemudian mencium sudut Renata.


"Maaf! Aku tahu, saat ini kamu pasti sangat membenciku. Tapi aku mohon, maafkanlah aku. Aku akan melakukan apapun asal kamu mau memaafkan aku, Renata."


Bima menangis. Isak tangisnya bahkan sampai terdengar jelas. Tangannya terus menggenggam tangan Renata dan berkali-kali menciumnya.


"Maafkan aku, Renata. Maaf! Maafkan aku, kesalahanku memang tidak pantas untuk dimaafkan. Tapi aku mohon, maafkanlah aku. Maafkan aku ...." Suara Bima terdengar memelas, membuat siapa pun merasa iba terhadapnya.


Namun, tidak bagi Renata. Perempuan itu mengepalkan sebelah tangannya. Hatinya bergejolak menahan rasa sakit saat mendengar suara laki-laki itu.


Terlambat! Semuanya sudah terlambat. Aku tidak akan memaafkanmu. Sampai kapan pun, tidak akan pernah!

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2