
"Aku yakin, kau juga sangat ingat apa yang terjadi semalam, Renata."
Renata memejamkan matanya. Bayangan dirinya bermain bersama Bima semalam terlintas meskipun samar.
Renata juga mengingat saat dirinya merasa pusing setelah meminum minuman bersoda yang diberikan oleh Panji.
"Bajingan itu sengaja memberimu obat agar dia bisa menidurimu!" Rahang Bima mengeras saat mengingat Panji.
Sementara Renata tampak terkejut, tidak menyangka kalau Panji tega melakukan sesuatu untuk mencelakainya.
"Seharusnya kau bisa menolakku semalam, bukannya malah menggunakan kesempatan di saat aku tidak sadar!" Renata tetap tidak terima dengan apa yang sudah terjadi padanya.
Perempuan itu menangis. Penggalan-penggalan kisah semalam terlintas di kepalanya, membuat tangisnya semakin terdengar.
Semalam dirinya memang tidak bisa menahan hasratnya. Tangannya terkepal, saat mengingat Panji.
Brengsek! Bajingan! Sialan, kau Panji!
Renata menutup wajahnya yang sudah basah dengan air mata. Obat itu membuatnya setengah sadar tetapi masih mengingat dengan jelas kejadian semalam.
Rasa sakit kembali menghujam hatinya.
Kenapa di saat Renata ingin melupakan Bima, pria itu justru mengambil sesuatu yang berharga darinya?
Kenapa? Susah payah aku mencoba melupakan dia. Mempersiapkan semua urusan perceraian itu, tetapi kenapa di saat tekadku sudah bulat dia justru menyentuhku?
Renata menggelengkan kepalanya. Merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi padanya.
__ADS_1
Kenapa takdir seolah sedang bercanda dengannya?
Menikah dengan tuan muda yang diam-diam dicintainya kemudian harus menghadapi kenyataan kalau majikannya itu tidak pernah mau menganggapnya sebagai istri.
Kini, di saat Renata mati-matian ingin melupakan dan menjauh dari pria itu, kenapa harus ada kejadian seperti ini? Kenapa dia harus mengambil sesuatu yang berharga darinya di saat hatinya sudah tidak ingin berharap lagi pada pria itu?
"Renata ...." Bima mendekati Renata yang terisak sambil meringkuk di tempat tidur. Tangannya terulur mengusap bahu Renata yang berguncang.
"Menjauh dariku!"
"Renata ...."
"Pergi!" Renata menepis tangan Bima dengan kasar. Kedua matanya yang memerah menatap tajam pada Bima.
"Renata."
"Aku bilang pergi!"
"Aku tidak akan pergi." Bima menatap Renata yang kini menangis. Melihat perempuan di depannya itu menangis, entah mengapa sudut hati Bima terasa nyeri.
Selama ini, Renata tidak pernah menangis meskipun dirinya sering berkata kasar dan menyakitinya. Akan tetapi, kali ini perempuan itu menangis di depannya dan terlihat begitu terluka.
Apa sebegitu bencinya Renata terhadapnya? Sampai kejadian semalam terlihat begitu melukai dirinya?
"Pergi dari sini!" Renata kembali berteriak.
"Aku tidak akan pergi dari sini!" Bima tetap bersikeras.
__ADS_1
Aku tidak mungkin meninggalkan dia dalam keadaan seperti ini. Aku yakin, dia bahkan tidak akan bisa bangun dari ranjang ini gara-gara semalam.
Bima teringat kembali bagaimana semalam Renata begitu bersemangat. Bima bahkan hampir saja kewalahan mengimbangi permainan Renata.
"Kenapa Tuan melakukan ini pada saya. Kenapa?" teriak Renata dengan air mata yang mengalir di pipinya.
Rasa sakit dan amarah bercampur jadi satu.
Kenapa dia begitu tega menyentuhku sementara dia tahu kalau aku ingin bercerai darinya?
Kamu memang suamiku dan aku juga sangat mencintaimu, tetapi bukan ini yang aku mau. Bukan seperti ini yang aku inginkan agar aku bisa memilikimu.
Renata terus menatap pria di depannya itu dengan air mata yang tak berhenti mengalir di wajah cantiknya.
Hatinya hancur, sakit, bagai tertusuk ribuan jarum. Kejadian yang menimpanya kali ini adalah mimpi buruk yang bahkan tidak pernah terlintas sama sekali dalam benaknya.
"Aku akan membantumu membersihkan diri." Bima mendekati Renata. Dia berniat menggendong perempuan itu. Namun, Renata kembali berteriak.
"Menjauh dariku, Tuan Bima!"
"Jangan menyentuhku!"
"Renata ...."
"Pergi!"
"Renata, semalam aku hanya ingin menolongmu. Aku yakin, kamu juga tidak lupa kejadian semalam kan?"
__ADS_1
"Aku melakukannya karena aku tidak ingin membuatmu tersiksa karena tidak bisa menuntaskan hasratmu!"
Bersambung ....