
"Setelah semua yang terjadi, apa kau pikir aku masih bisa memaafkanmu?" Renata menatap Bima dengan segenap rasa sakit di hatinya.
"Aku tahu, aku tidak pantas untuk kau maafkan. Tapi aku mohon, Renata, beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya."
"Kesempatan?" Renata tersenyum getir.
"Kesempatan apa yang Tuan maksud?"
"Beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya, Ren, aku ingin memulainya lagi dari awal." Bima menatap Renata dengan tatapan memohon.
"Aku ingin memperbaiki hubungan kita. Bukankah kamu bilang pada Aldrian kalau kamu sangat mencintaiku?"
Renata tampak terkejut mendengar ucapan Bima.
"Aku ingin kita memulai lagi dari awal. Aku-"
"Seandainya aku memang mencintaimu, apa menurutmu, semua luka yang kau berikan akan hilang begitu saja?"
Renata menatap Bima dengan rasa sakit yang mengalir sampai ke ruang hatinya yang paling dalam. Tenggorokannya seolah tercekik saat ia ingin melanjutkan kata-katanya.
"Aku membencimu. Aku membencimu, Tuan. Kebencian yang aku rasakan terhadapmu saat ini bahkan melebihi rasa cinta yang aku punya untukmu!"
"Renata ...." Bima menatap perempuan di depannya itu dengan rasa nyeri yang menyelinap sampai ke ujung hatinya. Entah kenapa, semua ucapan perempuan itu begitu menusuk hatinya. Tatapan penuh kebencian di kedua Renata bahkan membuat jantungnya serasa diremas-remas.
Aku tidak mencintaimu, tetapi kenapa hatiku selalu sakit saat melihatmu menatapku dengan penuh kebencian?
Kedua matamu itu selalu menatapku dengan aura permusuhan. Akan tetapi, saat bersama Aldrian kamu selalu menatap pria itu dengan kedua mata berbinar.
__ADS_1
Pandangan Bima masih tak lepas dari Renata. Perempuan itu menangis, membuat sudut hatinya semakin nyeri.
"Pergilah! Aku mohon ...."
"Renata." Bima menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak akan pergi sebelum kamu memaafkanku."
Renata memejamkan kedua matanya. Sepertinya ia lupa, kalau pria di depannya itu adalah pria keras kepala dan egois. Pria itu tidak akan pernah mau tahu dan mengerti apa yang kita inginkan karena sudah jelas, dia pasti hanya tahu kalau setiap keinginannya harus terpenuhi apa pun yang terjadi.
Bima tidak akan peduli dengan perasaan orang lain asalkan semua yang dia inginkan bisa dia dapatkan dengan mudah.
Egois dan kepala batu!
"Aku akan tetap di sini sampai kamu mau memaafkan aku. Aku tidak peduli, Ren. Aku hanya ingin memperbaiki semuanya. Aku ingin memperbaiki hubungan kita."
Renata menghembuskan napas lelah. Kepalanya terasa sakit mendengar semua ucapan Bima.
"Apa kau tidak tahu, saat melihatmu, rasanya hatiku sangat sakit."
"Renata." Bima menatap perempuan itu dengan rasa bersalah.
Renata menghembuskan napas panjang. Mencoba menetralkan amarahnya yang sudah naik ke ubun-ubun. Rasanya, Renata ingin sekali memaki pria di depannya itu, tetapi, rasa sakit yang menyerangnya di bagian kepala dan tulang belakangnya membuat Renata hanya bisa menghela napas panjang seiring rasa sakit yang kian mencengkeram hatinya.
"Aku ingin memperbaiki semuanya. Izinkan aku untuk merawatmu untuk menebus semua kesalahanku padamu, Ren." Bima masih menatap wajah pucat Renata.
Melihat wajah pucat itu, membuat Bima semakin merasakan sakit di hatinya.
__ADS_1
Renata adalah gadis yang sangat cantik dan energik. Gadis itu selalu mengembangkan senyum di wajah cantiknya.
Renata adalah perempuan muda berusia dua puluh tahun yang sangat menarik perhatian. Wajah cantiknya itu sungguh tidak sesuai dengan pekerjaannya yang hanya sebagai asisten rumah tangga.
Wajah cantik Renata dan bentuk tubuhnya yang ideal, sangat cocok untuk menjadi seorang model seperti Shinta.
Usia Bima dan Renata terpaut tujuh tahun. Seharusnya Bima senang karena bisa mendapatkan gadis muda secantik Renata. Seharusnya dia bisa menjaga gadis itu sesuai keinginan terakhir ibunya yang sebelum meninggal.
Namun, rasa marah saat menghadapi kenyataan kalau dia harus menikah dengan perempuan yang tidak dicintainya, membuat Bima tanpa pikir panjang langsung menyerang Renata dan melukainya dengan begitu dalam.
"Maafkan aku. Tapi aku mohon, izinkan aku merawatmu agar aku bisa menebus semua kesalahanku padamu, Renata."
"Kaca yang sudah pecah tidak akan bisa utuh kembali meskipun kau memperbaikinya. Begitupun dengan hatiku. Meskipun saat ini kau meminta maaf dan ingin memperbaiki semuanya."
"Ren ...."
"Aku sudah meminta tolong pada Pak Dika untuk segera menyelesaikan proses perceraian kita. Aku harap, Tuan tidak mempersulitnya." Renata berbicara tanpa melihat ke arah Bima. Sementara, Bima sedikit terkejut. Pria itu hampir saja lupa kalau proses perceraian dengan Renata hanya tinggal menunggu ketok palu dari hakim.
"Aku tidak ingin bercerai denganmu."
Ucapan Bima membuat Renata membuka matanya.
"Aku tidak ingin bercerai denganmu!" ulang Bima penuh penekanan.
"Jangan membuatku semakin membencimu, Tuan. Aku tidak mungkin bisa hidup bersama seseorang yang bahkan hanya melihat wajahnya saja membuat hatiku sakit."
"Renata ...."
__ADS_1
.
Bersambung ....