
Devan menatap Renata yang saat ini sedang menangis dengan perasaan iba. Laki-laki itu mendekati Renata kemudian memeluknya.
"Aku yakin, kamu pasti bisa segera pulih," bisik Devan.
"Jangan memberiku harapan palsu, Dev. Kau sangat tahu kalau aku tidak bisa pulih meskipun aku berusaha."
Devan mempererat pelukannya.
Dalam hati ia berjanji, apa pun yang terjadi, ia akan membuat Renata bisa berjalan lagi.
"Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini. Kamu tidak boleh patah semangat. Kau dengar kata dokter yang memeriksa kamu tadi bukan?"
Devan melepaskan pelukannya. Menghapus air mata yang keluar dari wajah cantik Renata.
"Masih ada kemungkinan meskipun sedikit. Asalkan kau berusaha, kemungkinan kecil itu bisa saja menjadi keajaiban. Kamu hanya perlu menanamkan ini di pikiran kamu, Ren," ucap Devan sambil menatap Renata dengan penuh cinta.
Sementara Renata menatap dokter tampan di hadapannya itu. Renata sungguh beruntung bertemu dengan Devan. Dokter muda putra dari pengacara keluarga Abimanyu.
Devan dan keluarganya sangat baik. Pak Dika dan istrinya bahkan sesekali datang ke villa untuk menemuinya.
Sementara Rangga dan Damar kini sudah mulai kembali kuliah. Renata memaksa kedua adiknya itu kembali melanjutkan pendidikannya. Mereka berdua menyewa rumah untuk tempat mereka tinggal.
__ADS_1
Renata memakai uang warisan dari Nyonya Erika. Almarhumah majikannya itu ternyata meninggalkan wasiat pada Pak Dika kalau Renata berhak memiliki beberapa persen harta kekayaan miliknya setelah resmi menjadi istri Bima.
Meskipun nantinya Bima bercerai dengan Renata, dalam surat wasiat itu mengatakan kalau Renata tetap berhak atas harta yang telah diwariskan kepadanya.
Bima tidak merasa keberatan sama sekali saat mendengar dari Pak Dika kalau sang ibu tercinta memberikan harta warisan yang cukup banyak untuk Renata.
Bima bahkan mengatakan pada pengacara keluarganya itu kalau harta yang diberikan oleh ibunya tidaklah sebanding dengan apa yang sudah ia lakukan terhadap Renata.
"Kenapa kamu sangat yakin kalau aku pasti akan sembuh, Dev. Padahal kamu sendiri tahu bagaimana keadaan aku yang sebenarnya." Renata menatap wajah tampan di depannya itu.
"Selalu ada keajaiban yang datang tanpa kita duga, Ren. Aku berharap keajaiban itu akan datang untuk kamu. Berjuanglah! Kamu harus yakin kalau kamu pasti bisa sembuh." Devan menggenggam kedua tangan Renata dengan erat.
"Kamu harus yakin kalau
"Entahlah, Def, aku-"
"Kamu harus yakin."
"Kamu harus percaya kalau suatu saat kau bisa sembuh, Ren."
"Kenapa kamu bersikeras agar aku bisa sembuh dan bisa kembali berjalan, Dev?" Renata menatap pria itu.
__ADS_1
Hubungannya dengan Devan memang hanya sebatas dokter dan pasien. Namun, pria itu begitu perhatian. Devan bahkan bersikap seperti orang yang begitu menyayanginya. Tidak seperti dokter yang hanya bertugas memeriksanya.
"Aku ingin kamu bisa berjalan lagi karena aku yakin kamu pasti bisa sembuh, Ren. Kamu hanya perlu bekerja keras sedikit lagi."
"Tapi aku lelah, Dev. Apa kamu tidak sadar? Aku bahkan hampir setahun menjalani terapi ini tapi kenyataannya aku tetap tidak bisa berjalan." Renata kembali meneteskan air matanya.
Melihat Renata menangis, Devan kembali memeluk wanita itu. Devan berlutut di depan kursi roda Renata agar ia bisa leluasa memeluk perempuan itu.
"Aku melakukan semuanya karena aku ingin kamu bahagia, Ren. Aku menyayangimu, aku ingin melihatmu bahagia saat kamu bisa berjalan lagi."
"Tapi itu tidak mungkin, Dev. Aku tidak mungkin bisa berjalan lagi. Aku lumpuh! Selamanya aku tidak mungkin bisa berjalan lagi." Renata menangis di pelukan Devan. Perempuan itu menumpahkan segala perasaannya yang ia rasakan selama ini.
"Aku lumpuh, Dev. Aku lumpuh!"
"Renata ...."
"Aku lumpuh. Aku lumpuh, Dev ...."
Devan mempererat pelukannya pada Renata. Hatinya terasa teriris-iris saat mendengar tangisan Renata.
"Aku lumpuh ...."
__ADS_1
"Renata ...."