
Setelah sadar, Renata kembali menangis. Perempuan itu belum bisa menerima kenyataan kalau ibu yang dicintainya sudah tiada.
Renata kembali histeris, kemudian memaksa untuk bertemu dengan ibunya. Keadaan Renata yang cukup parah tidak memungkinkan Renata untuk menggunakan kursi roda atau digendong. Perempuan itu akhirnya didorong di atas brankar untuk melihat jenazah sang ibu.
Renata menangis, menatap tak percaya pada Bi Yati yang kini terbaring tidak bergerak. Tubuh perempuan itu penuh luka, terutama di bagian kepala dan juga wajahnya.
Renata menggenggam tangan ibunya yang terasa dingin untuk terakhir kalinya. Perempuan itu terus menangis, tidak menyangka kalau perempuan yang melahirkannya itu akan pergi secepat itu.
"Harusnya aku tidak menyuruh ini datang menemuiku, harusnya ibu tetap di kampung agar ibu tidak mengalami kecelakaan itu. Maafkan aku, Bu ...." Renata menangis pilu.
"Maafkan aku." Aldrian mendekati Renata. Memeluk tubuh perempuan itu. Namun, detik berikutnya, Renata tidak sadarkan diri.
"Renata!"
"Renata!" Bima juga ikut berteriak.
Beberapa perawat kembali mendorong brankar Renata, kembali ke kamarnya.
"Kamu urus pemakaman ibu mertuamu, suruh Mang Udin menghubungi keluarga Renata di kampung agar mereka bisa ke sini. Melihat keadaan Bi Yati yang cukup parah, lebih baik Bu Yati dimakamkan saja di sini."
"Aku sudah meminta Mang Udin mengabari mereka. Dia bilang, mereka saat ini sedang dalam perjalanan." Bima menjawab pelan.
"Kau pulanglah! Biar aku yang menjaga Renata," ucap Aldrian sambil menatap tajam ke arah Bima saat pria itu terlihat ingin menolak permintaannya.
Bima yang ingin protes, akhirnya mengalah dari pada Aldrian kembali memukulinya. Saat ini badannya terasa sakit akibat Aldrian memukulinya berkali-kali.
"Baiklah! Aku akan mengurus jenazah Bu Yati."
"Nasibmu buruk sekali. Kau bahkan belum sempat meminta maaf pada Bu Yati, tapi dia keburu meninggal dunia."
__ADS_1
"Aldrian."
"Kenapa? Benar bukan? Kau lah yang telah menyebabkan Bu Yati meninggal dunia. Kalau bukan karena kau membela wanita murahan itu, saat ini Bu Yati dan Renata pasti baik-baik saja."
"Aldrian-"
"Nikmati penyesalanmu, Bima. Aku harap, setelah kejadian ini kau bisa berubah. Berubah menjadi orang yang berperasaan dan punya hati!" Aldrian menatap Bima dengan penuh amarah. Apalagi, saat rekaman kejadian yang memperlihatkan Bi Yati yang saat itu mengejar Bima yang sedang menyeberang jalan sambil menggendong Shinta.
Video itu kini bahkan masih tersebar di dunia Maya bahkan viral.
"Pulanglah! Urus kepulangan jenazah ibu mertuamu." Aldrian meninggalkan Bima yang masih berdiri mematung, mengingat kembali semua kejadian yang menyebabkan kecelakaan itu terjadi.
Bima menutup wajahnya, air matanya kembali turun saat rasa sesak menghimpit dadanya. Apalagi, saat ia mengingat Renata yang menangis histeris hingga tidak sadarkan diri.
***
Beberapa jam kemudian, jenazah Bu Yati sampai di rumah besar Bima.
Proses pemakaman akan dilakukan setelah kedua adik Renata yang kini masih dalam perjalanan sampai ke rumah Bima.
Di rumah sakit, Renata kembali tersadar. Perempuan itu kembali menangis dipelukan Aldrian.
"Ibu ... kenapa ibu meninggalkan aku sendirian? Kenapa, Bu?"
"Tenanglah, Ren, semua sudah takdir. Kita tidak bisa menolak takdir yang sudah ditakdirkan Tuhan pada kita," bisik Aldrian.
"Aku ingin bertemu ibuku."
"Kondisimu tidak memungkinkan, Ren. Kamu tidak bisa ikut ke pemakaman dalam keadaan seperti ini."
__ADS_1
Mendengar ucapan Aldrian, Renata semakin menangis.
"Kenapa, Al, kenapa semua ini terjadi padaku? Kenapa dia begitu jahat? Apa salahku padanya, Al?"
"Dia bukan hanya membunuh anakku, tapi dia juga sudah membunuh ibuku!" teriak Renata. Hatinya terasa sakit, sangat sakit, saat melihat orang yang paling ia cintai justru menjadi penyebab penderitaannya selama ini.
"Aku membencinya, Al. Aku sangat membencinya!"
Aldrian memeluk Renata. Ikut merasakan sakit yang dirasakan oleh perempuan itu.
"Aku membencinya! Aku tidak akan pernah memaafkannya! Aku membencinya!"
Renata kembali meraung, menangis pilu dalam pelukan Aldrian. Tangisan perempuan itu begitu menyayat hati siapa pun, termasuk sepasang suami istri yang baru saja datang tanpa mereka sadari.
"Devan ... Mama sungguh tidak tega melihat dia seperti ini." Iren kemudian memeluk Pak Dika yang berada di sampingnya.
"Devan juga, Ma." Kedua mata pria itu berkaca-kaca seiring rasa sakit yang menyerang hatinya.
"Papa tidak menyangka kalau keputusan Nyonya Erika akan membuat perempuan itu begitu menderita sampai seperti ini." Pak Dika mengepalkan tangannya.
.
Bersambung ....
Bab selanjutnya, promo satu bab punya temen ya, jadi jangan kaget saat dapet notif update dan isinya ternyata iklan he-he
Lope-lope sekebon buat kalian ❤❤
Jangan lupa baca juga karya temen Author yang lainnya yang nggak kalah keren nih!
__ADS_1