MAAFKAN AKU, ISTRIKU

MAAFKAN AKU, ISTRIKU
Bab 38 BIAR SAYA YANG MENGGUGAT CERAI!


__ADS_3

Bima melepaskan ciumannya. Napasnya tersengal akibat ciuman dan amarah yang siap meledak mendengar ucapan Renata.


Bima mengusap bibirnya yang basah. Netranya menatap Renata yang tertunduk dengan napas memburu. Gadis itu sedari tadi memberontak saat dia menciumnya.


Tangan Bima bergerak ingin menyentuh rambut Renata, tetapi dengan sigap perempuan itu menepis tangannya.


"Jangan menyentuh saya!" Renata menatap tajam ke arah Bima. Dia sungguh tidak menyangka kalau tiba-tiba Bima menciumnya.


"Kau adalah Istriku, Renata. Aku berhak mencium bahkan menidurimu!"


Renata mengepalkan tangannya erat mendengar ucapan pria itu. Bibirnya tersenyum mencibir.


"Istri?" Renata menatap tajam ke arah Bima.


Giliran ingin mencium dan meniduriku, dia baru mau menganggapku istri. Dasar suami nggak ada akhlak!


"Sebentar lagi, saya bukan lagi istri Tuan!" ucap Renata dengan napas memburu menahan amarah.


Namun, tak urung ucapannya itu membuat harimau di depannya bertambah mengaum dan mengeluarkan taringnya.


"Jangan harap aku akan menceraikanmu dengan mudah, Renata! Apalagi, jika alasanmu ingin segera bercerai denganku itu karena Aldrian atau laki-laki lain," ucap Bima dengan amarah yang siap meledak.

__ADS_1


"Aldrian? Laki-laki lain? Perceraian kita tidak ada hubungannya dengan Adrian dan laki-laki lain. Saya ingin bercerai dengan Tuan karena saya sudah tidak tahan menjalani pernikahan ini!"


Bima menatap wajah cantik Renata dengan tajam.


Aku tidak akan pernah melepaskanmu dengan mudah, Renata. Tidak akan pernah!


Aku yakin kau ingin berpisah denganku karena ada laki-laki lain yang mendekatimu.


Bima mengepalkan tangannya. Apalagi saat bibir merah itu kembali bergerak mengatakan kalimat yang sama seperti tadi.


"Saya ingin bercerai dengan Tuan karena saya tidak pernah bahagia dengan pernikahan ini, begitupun dengan Tuan, lalu untuk apa kita mempertahankan pernikahan ini?"


"Pernikahan kita tidak ada artinya karena Tuan hanya menganggap janji yang Tuan ucapkan sebagai permainan. Tuan bahkan selalu mengatakan kalau pernikahan kita hanya sebatas di atas kertas. Jadi, untuk apa saya mempertahankan pernikahan ini?" Renata menatap Bima dengan rasa sakit di hatinya.


Bima mengeraskan rahangnya menahan amarah.


"Apa kau benar-benar tidak sabar ingin bersama lelaki lain karena itu kau ingin sekali segera bercerai denganku?" Kedua tangan Bima terkepal. Wajahnya terlihat menyeramkan, tetapi Renata tetap menatapnya tanpa rasa takut.


Renata mencibir mendengar ucapan Bima. Pikiran Bima sungguh picik. Kenapa pria itu selalu berprasangka buruk terhadapnya?


"Kau tidak sabar ingin bersama Aldrian karena itu kau ingin sekali segera bercerai denganku?" ulang Bima. Kedua matanya berkilat penuh amarah. Tangannya bergerak mencengkeram rahang Renata.

__ADS_1


Renata yang sedari tadi diam, melepaskan tangan Bima dengan kasar.


"Saya tidak pernah berhubungan dengan Aldrian atau lelaki manapun. Lagipula, bukankah Tuan sangat tahu kalau saat ini Aldrian sedang menjalin hubungan dengan siapa?"


Renata tidak kalah tajam menatap Bima.


"Saya ingin bercerai karena saya merasa hanya akan sia-sia saja mempertahankan pernikahan yang bahkan di dalamnya tidak ada cinta sama sekali!"


"Hidup itu cuma sekali, Tuan. Kalau menikah dengan Tuan hanya bisa membuat saya sakit hati dan menderita, lebih baik saya bercerai dengan Tuan." Netra cokelat itu masih menatap Bima dengan tajam.


Sejenak, kedua mata penuh amarah itu bertabrakan.


"Saya berhak bahagia. Saya berhak mencari kebahagiaan yang saya inginkan, seperti Tuan yang memilih Nona Shinta sebagai kebahagiaan Tuan!"


"Ceraikan saya sekarang juga!" teriak Renata. Napas Renata naik turun. Sementara jantungnya berdetak dengan kencang seiring rasa sakit yang perlahan mengalir ke dinding hatinya.


"Aku tidak akan menceraikanmu sebelum waktu yang sudah ditentukan!"


"Kalau Tuan memang tidak mau menceraikan saya, biar saya yang menggugat cerai Tuan di pengadilan!"


"Kau ...!"

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2