
"Renata!"
Bima berteriak histeris saat dengan mata kepala sendiri ia menyaksikan tubuh Renata terlempar ke tengah jalan.
"Renata!"
Bima kembali berteriak. Sementara Shinta yang melihat kejadian itu pun merasa kaget. Perempuan itu terus merintih kesakitan sambil memegangi perutnya.
"Bi-Bima ...."
Semua orang yang melihat kejadian itu ikut berteriak. Suara benturan mobil bertabrakan terdengar secara beruntun.
Sejenak Bima terpaku selama beberapa detik menatap tubuh Renata yang terkapar di tengah jalan dengan bersimbah darah.
Kepalanya menggeleng pelan.
Renata ... tidak! Tidak mungkin!
"Bi-Bima ...." Suara Shinta menyadarkan pria itu. Bima menurunkan tubuh Shinta. Dia meminta tolong pada beberapa orang yang berkerumun di sebelahnya.
"Tolong bawa istri saya ke rumah sakit!" Beberapa orang menolong Shinta yang meringis kesakitan. Wajah perempuan itu terlihat pucat. Sementara darah mengalir di sela kakinya.
"Bima." Shinta berusaha mencekal tangan Bima, tapi laki-laki itu tidak memedulikannya.
Bima segera berlari mendekati Renata dan sang ibu mertua yang sama-sama tergeletak di tengah jalan. Beberapa orang berlari untuk melihat kejadian.
Petugas medis yang mendengar suara teriakan orang-orang, langsung berlarian menuju lokasi kejadian untuk melakukan pertolongan.
"Renata! Bangun! Renata!" Bima mengangkat kepala Renata yang berlumuran darah. Perempuan itu tidak bergerak sama sekali. Netranya menatap sang ibu mertua yang juga tampak tak bergerak dengan tubuh penuh darah.
"Ibu!"
Apa yang sudah aku lakukan?
__ADS_1
"Renata, bangun! Bangun! Aku mohon ...."
"Bima!"
"Devan! Cepat tolong Renata!"
Devan yang baru saja tiba di lokasi kejadian sangat terkejut saat melihat siapa korban kecelakaan itu. Jantungnya serasa berhenti seketika saat melihat perempuan yang diam-diam membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama itu tergeletak penuh darah.
"Renata! Ya, Tuhan ...." Devan dengan cepat mengangkat tubuh Renata. Dokter tampan itu berlari menuju rumah sakit.
'Aku mohon, bertahanlah! Kau harus tetap hidup agar aku bisa mengungkapkan semua perasaanku padamu. Beri aku kesempatan agar aku bisa membahagiakanmu suatu saat nanti, Renata.'
'Aku mohon ... bertahanlah!'
Devan memeluk tubuh Renata. Wajah perempuan itu penuh darah dengan bibir memucat. Detak jantungnya juga melemah.
"Ayo cepat, bawa dia ke IGD!" teriak Devan setelah ia membaringkan tubuh Renata di atas brankar yang dibawa beberapa petugas medis berseragam putih-putih yang langsung datang menyambutnya.
Sementara itu, Bima dengan tubuh gemetar karena syok hanya terduduk di jalanan memandangi Devan yang menggendong tubuh Renata.
Bima mengingat kejadian beberapa menit lalu saat Bi Yati berteriak padanya untuk menjelaskan kalau Renata tidak bersalah. Namun, ia tidak memedulikan teriakan mertuanya.
Bima bahkan membiarkan wanita paruh baya itu terus berteriak dan mengejarnya.
Bima menutup wajah dengan kedua tangannya. Tubuhnya gemetar, panik dan ketakutan. Apalagi, saat bayangan tubuh Renata terlempar saat mobil itu menghantam tubuh perempuan itu.
Apa yang sudah aku lakukan?
Kecelakaan itu terjadi tepat di depan rumah sakit. Bukan hanya Renata dan Bi Yati saja yang menjadi korban. Akan tetapi, beberapa mobil yang tidak sempat menghindar pun mengalami tabrakan beruntun hingga menyebabkan beberapa orang terluka.
Beberapa orang yang melihat Bima masih terduduk di tengah jalan, memapah pria itu menuju rumah sakit. Bima kehilangan tenaganya. Kejadian beberapa menit yang lalu itu berputar di kepalanya.
"Bima, apa yang terjadi?"
__ADS_1
Aldrian yang beberapa menit lalu mengikuti Panji dan Shinta, memilih pergi dari rumah sakit setelah mendapatkan bukti perselingkuhan Shinta dan laki-laki muda itu.
Namun, di tengah perjalanan menuju hotel untuk menghadiri pertemuan dengan beberapa kolega bisnisnya, Aldrian mendengar kabar kecelakaan beruntun yang terjadi di depan rumah sakit.
Sekretarisnya baru saja menelepon menanyakan kabarnya karena dia melihat siaran langsung di televisi yang menayangkan tentang kecelakaan yang terjadi di depan rumah sakit.
Merasa penasaran, Aldrian putar balik arah mobilnya, kembali menuju rumah sakit. Pria itu sangat terkejut saat melihat Bima duduk di tengah jalan seperti orang linglung, kemudian terlihat beberapa orang memapah tubuh laki-laki itu.
"Apa yang terjadi, Bim?"
"Bim, Bima!" Aldrian menepuk-nepuk wajah Bima yang terdiam.
"Bima!"
"Kelihatannya dia masih syok, Mas, karena melihat ibu sama istrinya kecelakaan," ucap seseorang yang membantu Bima tadi.
"Ibu dan istrinya?" Kedua mata Aldrian membola.
"Bima! Dengar! Dengarkan aku! Ini aku Aldrian!" Aldrian menampar wajah Bima. Pria itu juga mengguncang pundak Bima.
"Al-"
"Apa yang terjadi?" Aldrian kembali berteriak di depan Bima.
"Re-Renata, Al ... Renata."
"Ada apa dengan Renata?"
Bersambung ....
*
Baca juga karya temen Author yang satu ini yuk! Dijamin seru banget lho ....
__ADS_1